Begitulah dawuh Hadhratus Syekh Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.

Oleh: Abdulloh Rifqi Mr

Perbuatan baik itu beragam. Di antaranya adalah menanam atau bertani. Suatu hal yang berhubungan dengan pertanian dianggap sebagai sedekah. Apapun yang dimakan manusia dari hasil pertanian, yang diambil oleh hewan-hewan, yang dimakan oleh burung-burung, yang dicuri atau yang menyebabkan kurangnya hasil dari pertanian seorang Muslim akan dianggap sebagai sedekah

Oleh karena itu, pahala yang diperoleh petani akan mengalir sampai hari kiamat, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah:

“Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman, kemudian orang memakan darinya, atau binatang melata, atau burung, melainkan hal tersebut dihitung sedekah baginya hingga hari kiamat.” (HR. Muslim)

Adapun makna manfaat itu ada dua macam. Yakni manfaat yang berhubungan dengan agama, dan manfaat yang berhubungan dengan raga. Sedangkan berkah adalah banyak atau bertambahnya manfaat.

Allah memuji Nabi Isa karena beliau memberikan banyak manfaat kepada makhluk di manapun beliau berada. Saat masih ada di bumi dan belum diangkat ke langit, Nabi Isa adalah yang memberikan kabar gembira akan hadirnya Nabi terakhir yang akan datang setelah beliau, yaitu Nabi Muhammad.

Setelah berada di langit, Nabi Isa menyambut kedatangan Rasulullah saat peristiwa Isra’ Mikraj. Dan, ketika nanti diturunkan ke bumi kembali, Nabi Isa adalah yang membunuh Dajjal dan bumi menjadi berkah, sehingga satu buah delima mampu mengenyangkan sepuluh orang. Allah berfirman:

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada…” (QS. Maryam [19]: 31)

Karena itu, beliau menjadi contoh kebaikan dalam hal memberikan berkah dimanapun berada.

Di dalam kitab al-Barzanji (karya Sayid Ja’far bin Hasan bin Abd. Karim al-Barzanji al-Husaini) dijelaskan bahwa orang yang pertama kali iman adalah orang-orang yang dianggap lemah dan bukan berpangkat tinggi. Mereka adalah; Dari lelaki dewasa: Abu Bakar. Dari perempuan dewasa: Khadijah (walaupun termasuk bani Abdi Syams, suku Quraisy, namun perempuan). Dari kalangan anak-anak: Ali bin Abi Thalib. Dari kalangan budak (hamba sahaya) yang sudah dimerdekakan: Zaid bin Haritsah. Dan dari kalangan budak: Bilal bin Rabbah.

Kelima orang ini seolah-olah mewakili tiap golongan dari golongan mereka. Begitulah Islam, mayoritas pengikutnya adalah orang-orang lemah. Hal itu, terekam dalam hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa kemenangan dan diperolehnya rezeki itu sebab doa, shalat dan ikhlasnya orang-orang lemah.

“Sesungguhnya Allah menolong umat ini sebab orang-orang lemahnya, sebab doa-doa mereka, shalat mereka dan keikhlasan mereka.” (HR. An-Nasa’i)

Keberadaan mereka mutlak diperlukan. Islam mengakui keberadaannya, sehingga ada syariat mewajibkan zakat, menganjurkan sedekah terhadap mereka. Bukan dengan cita-cita sebagian orang yang menginginkan untuk memberantas kemiskinan.

Walaupun cita-cita memberantas kemiskinan itu seolah kelihatan bagus, tetapi hal itu tidaklah lantas benar. Sebab, kehidupan tidak akan berjalan dengan baik tanpa orang yang lemah. Keikhlasan dan doa mereka mutlak diperlukan.

Dalam hal ini, bukan berarti kita tidak berjuang dan membiarkan kemiskinan, tetapi tetap membantu mereka dengan apa yang dianjurkan oleh syara’. Bukan dengan dorongan nafsu yang seolah-olah baik, tapi di balik itu tersimpan keinginan obsesi pribadi. Hal itu dibuktikan dengan adanya penyesalan atau marah bila cita-citanya tidak berhasil.

Padahal yang dipandang dan diperintahkan oleh Allah adalah amalnya, bukan hasil yang didapat.

“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin…” (QS. At-Taubah [9]: 105).

Nabi Nuh yang hidup 950 tahun dan berdakwah kepada kaumnya, tidak mendapatkan pengikut kecuali kurang dari seratus orang. Beliau tidak dicap sebagai nabi yang gagal, tetapi termasuk nabi dan rasul pilihan yang disebut Ulul Azmi. Hal itu karena kesabaran beliau dalam beramal, walaupun secara hasil kurang dibandingkan yang lain.