Jika Anda membaca tulisan ini sebelum Ramadan, atau masih di awal-awal Ramadan, maka Anda membaca di saat yang tepat. Tapi jika pun tidak di waktu itu, tentu juga tidak masalah karena tidak ada salahnya membaca. Jadi mari kita sama-sama merenungi kehadiran bulan suci ini dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih, agar kehadiran Ramadan sebagai salah satu bentuk rahmat Allah untuk kita, bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin, sehingga kita bisa menjadi orang yang beruntung, di dunia dan akhirat. Amin.

Sudah menjadi pengetahuan umum yang sering diceritakan, bahwa Ramadan adalah hadiah dari Allah yang dikhususkan untuk umat Nabi Muhammad, di mana umat lain tidak dianugerahi yang semacamnya. Karena rata-rata umat terdahulu usianya panjang-panjang, maka jika mereka melakukan amal-amal kesalehan sepanjang usia mereka, tentu mereka menjadi amat beruntung. Sedangkan rata-rata usia kita sebagai umat Nabi terakhir pendek-pendek, sehingga sekalipun kita beramal saleh sepanjang usia kita, tentu tak akan bisa menyaingi umat-umat terdahulu.

Dari sini maka Allah menghadiahkan Ramadan, yang ibadah utamanya adalah puasa, di mana ibadah ini hanya untuk Allah dan Dia sendiri yang akan membalasnya. Artinya pahala puasa sudah lepas dari ‘matematika malaikat’, karena Allah sendiri yang akan membalasnya, dengan sekian banyak pahala yang dikehendaki-Nya. Tentu ini adalah hadiah yang sungguh luar biasa istimewa. Yang istimewa lagi, di situ ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yakni Lailatul-Qadar. Artinya jika saja sepanjang hidup kita mendapati sepuluh kali Lailatul-Qadar ini, maka itu sudah sama dengan orang yang beramal ratusan tahun lamanya. Subhanallah.

Nah, itulah sebabnya kita menyaksikan sepanjang sejarah umat Islam, ketika Ramadan tiba, mereka mengarahkan fokus pada amaliahamaliah yang memang mestinya untuk ditekankan pada bulan Ramadan di samping puasa, seperti fokus pada tilawatil-Quran dan mentadabburi maknanya, berlama-lama berdiam di masjid dalam rangka itikaf dan berzikir kepada Allah, memperbanyak sedekah, dan lain sebagainya.

Karenanya kita seringkali mendengar, misalnya, ketika Ramadan tiba, Imam Malik menutup madrasah kajian hadisnya dan fokus pada membaca al-Quran, padahal beliau adalah tokoh yang tak bisa dilepaskan sama sekali dari hadis. Begitupun murid beliau, Imam Syafi’i, ketika bulan Ramadan, beliau menghatamkan al-Quran sebanyak enam puluh kali, di mana biasanya beliau hatam tiga puluh kali setiap bulan. Dikisahkan pula bahwa semakin mendekati Ramadan, kebanyakan ulama salaf semakin giat bekerja, agar hasilnya bisa ditabung untuk digunakan pada bulan Ramadan, karena pada bulan Ramadan mereka akan fokus pada amaliah Ramadan dan tidak akan mau disibukkan dengan pekerjaan.

Dan tampaknya, lingkungan kita hari ini juga sangat ideal untuk melestarikan tradisi tersebut, di mana sudah maklum bahwa setiap menjelang Ramadan semua pesantren dan institusi pendidikan keagamaan diliburkan, tujuannya bukan untuk mengisi hari libur dengan rekreasi dan wisata alam, melainkan ini adalah tradisi yang telah berkesinambungan sejak masa ulama salaf seperti zaman Imam Malik, yakni agar kita fokus pada ibadah-ibadah yang mesti ditekankan pada bulan Ramadan.

Namun sungguh ironis bahwa faktanya kebanyakan kita telah salah persepsi dan karenanya jadi salah fokus. Momentum libur panjang bulan Ramadan kebanyakan justru diisi dengan liburan dan hiburan yang tak berpahala. Sebagian malah total mencari penghasilan untuk dipetik buahnya pada saat lebaran tiba.