Wafatnya Baginda Rasul adalah musibah terbesar yang pernah dialami umat Islam. Mendung duka yang bergelayut di atas langit Madinah demikian suram, namun tak sesuram hati Umar saat ditinggal sang pujaan hati.

Maka terlontarlah ungkapan menyayat hati dari sebuah jiwa yang goncang… Dari hati yang berat menerima kenyataan…

“Orang-orang munafik menyangka bahwa Muhammad  telah meninggal dunia. Sungguh beliau tidak meninggal, melainkan menemui Tuhannya sebagaimana Musa bin Imran…”

Dalam riwayat lain, al-Faruq Umar sampai bersumpah, “Demi Allah! Rasulullah tidak wafat! Ia akan kembali seperti halnya Musa…”

Abu Bakar menghadapi masalah ini secara elegan. Untuk kesekian kalinya, figure shahabat nomor satu itu adalah tokoh yang arif nan bijaksana. Hatinya tegar bak batu karang yang tetap kokoh meski diterjang gelombang. Saat tegurannya kepada Umar yang sedang berpidato di hadapan shahabat tidak digubris, Abu Bakar lantas menyampaikan orasinya sendiri. Maka para shahabat pun berpaling kepada Abu Bakar.

“Barang siapa menyembah Muhammad, maka ia telah tiada. Dan siapa pun yang menyembah Allah, maka Allah senantiasa Kekal nan Abadi…”

Ucapan ini ampuh mendinginkan suasana. Menyulap gulana membangkitkan harapan dan asa. Umar pun tersadar. Perlahan, ia mulai bisa menerima kenyataan pedih harus berpisah dengan Sang Baginda. Tapi ia tetap lunglai, lutunya goyah, lalu ia pun ambruk bersimpun di atas tanah, karena beratnya derita membebani jiwa…

***

Selanjutnya, Abu Bakar meneruskan kepemimpinan Baginda Rasul atas umat Islam. Sedikit polemik di Saqifah Bani Sai’idah bisa diredam berkat keunggulan sosok Abu Bakar yang tak terbantahkan, serta– jangan lupa–dukungan tegas dari Umar al-Faruq.

“Tidakkah kalian tahu, bahwa Rasulullah  telah menunjuk Abu Bakar agar shalat memimpin para shahabat? Adakah di antara kalian yang hendak mendahului Abu Bakar?!” Kata-kata ini, menghunjam merasuki hati para shahabat Anshar. Mereka tersadar sehingga mereka pun rida dengan Sang Khalifah Pertama.

“Kami memohon perlindungan kepada Allah dari mendahului Abu Bakar!”

***

Episode berikutnya adalah fragmen silang pendapat yang melibatkan dua tokoh terbesar setelah Rasulullah. Suasana politik yang belum stabil pasca wafatnya Baginda Rasul menimbulkan sedikit gamang yang tidak bisa disikapi dengan melulu logika, namun juga membutuhkan bening nurani.

Ada beberapa fase dimana kejeniusan Umar–seorang yang senantiasa selaras dengan Kitabullah, harus berhadapan dengan kokohnya iman dan kesetiaan ala ash-Shiddiq.

Pertama, Pasukan Usamah bin Zaid. Memberangkatkan pasukan Usamah adalah strategi konyol menurut logika siapapun, tak terkecuali Umar dan mayoritas shahabat. Bukan berarti mereka tidak menghormati pasukan terakhir yang dibentuk oleh Baginda Rasul itu, melainkan karena kondisi politik di Jazirah Arab yang sedang kacau pasca wafatnya Rasulullah; banyak kabilah murtad, banyak pula yang menolak membayar zakat.

Akan tetapi, kesetiaan kepada Rasulullah adalah segalanya bagi Abu Bakar. Ketika panji pasukan sudah diikat oleh tangan mulia Baginda Rasul, maka pantang bagi Abu Bakar melepas ikatan itu. Hasilnya, Pasukan Usamah tetap berangkat. Mereka menang, dan Islam mendapatkan wibawanya kembali berkat keputusan yang diambil Abu Bakar.

Kedua, operasi memerangi kelompok anti zakat. Misi ini ditolak oleh Umar, karena tidak sama dengan misi memerangi kaum murtad. Umar melihat kelompok anti zakat sebagai orang yang darahnya terjaga karena status mereka tetap sebagai orang Muslim. Menurut Umar, tidak memerangi kelomppok anti zakat adalah bagian dari menjaga kehormatan agama dan perlindungan terhadap jiwa dan harta pemeluk agama Islam.

Namun Abu Bakar tetap pada pendiriannya. Semua kaum yang menolak membayar zakat harus diperangi, baik mereka yang masih meyakini kewajiban zakat, apalagi mereka yang mengingkarinya.

Ketiga, menghimpun teks al-Quran. Kali ini, ash-Shiddiq harus menuruti desakan al-Faruq. Untuk kali pertama, beliau harus melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah.

Umar  mendesak Abu Bakar untuk segera menghimpun al-Quran tersebab banyaknya huffazh al-Quran yang gugur di medan jihad melawan kaum murtad, khususnya dalam Perang Yamamah melawan Bani Hanifah.

Dengan berat hati, Abu Bakar menyetujui masukan ini. Maka mushaf al-Quran pun dihimpun. Seorang pemuda Anshar yang brilian, Zaid bin Tsabit ditunjuk menjadi ketua pelaksana. Hasil mushaf yang dihimpun lantas disimpan di kamar Ummul Mukmini, Hafshah binti Umar.

***

Peran vital Umar sebagai wazir dalam khilafah Abu Bakar sangat nampak dalam lembaran sejarah. Selain karena Abu Bakar menempatkannya sebagai penasihat nomor wahid–bahkan meminta secara khusus kepada Usamah agar Umar tidak dibawa dalam misi pasukannya, hal itu juga dibuktikan oleh empat fakta berikut ini:

1. Umar ditunjuk menjadi qadhi. Sesuai dengan gelar al-Faruq yang disandangnya, Abu Bakar kemudian menunjuk Umar sebagai asistennya dalam bidang hukum dan peradilan. Sejarah mencatat bahwa pembantu utama Khalifah Abu Bakar di Madinah ada 2 orang: Umar yang bertugas sebagai qadhi/hakim, serta Abu Ubaidah bin al-Jarrah  sebagai pejabat baitul mal.

2. Umar menjadi khalifah (pengganti) ketika Abu Bakar keluar Madinah. Hal itu terjadi pada tahun 12 H. Ketika Abu Bakar memimpin rombongan umat Islam menunaikan ibadah haji ke Makkah, Umar lah yang ditunjuk menjadi pengganti di Madinah. Semua tugas khalifah dijalankannya dengan penuh tanggung jawab.

3. Umar memimpin rombongan haji. Setahun sebelumnya, di tahun pertama masa khilafah Abu Bakar (11 H), Abu Bakar menunjuk Umar sebagai pimpinan rombongan umat Islam untuk menunaikan haji ke baitullah.

4. Umar menjadi imam shalat saat Abu Bakar sakit atau bepergian. Peran ini, persis seperti peran Abu Bakar pada saat menjelang wafatnya Baginda Rasul.

Bersambung.

Moh. Yasir/sidogiri