Jihad, dengan powernya mampu menyatukan pelbagai ragam umat Islam. MuhajirinAnshar, bersatu di bawah bendera jihad. Khazraj-Aus, pun melebur di bawah panji jihad. Meski tak terbantahkan, kini kata jihad dijadikan propaganda mengkotakkotakkan umat. Ada Muslim moderat. Ada Muslim radikal. Karena jihad ditunggal maknakan; peperangan, pembunuhan dan pembantaian. Mari dudukkan kembali kata jihad ke tempatnya semula. Simak pemaparan Ustadz Abdul Somad Lc. MA., ustadz kondang asal Riau saat diwawancarai M. Muhsin Bahri dari Sidogiri Media.

Perspektif masyarakat tentang jihad masih sempit, seakan maknanya hanya perang. Bisa digamblangkan ustadz?

Jihad itu berasal dari kata Al-Juhdu . Apa Al-Juhdu  itu? Al-Juhdu  adalah menggunakan kemampuan secara total dalam suatu urusan. Dari kata Al-Juhdu  inilah maka muncul kata ijtihad. Seorang ulama berijtihad. Mungkin kita sering mendengar kata-kata, “Ini hasil ijithad Imam Syafii”. Jadi dari kata Al-Juhdu  itu lahir kata jihad, lahir pula kata ijitihad. Ijtihad itu berarti seorang ulama mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghasilkan sebuah formulasi hukum dari empat dasar hukum; Al-Quran, Hadis, Ijma dan Qiyas.

Saat ini kata jihad memang banyak disalahartikan oleh orang-orang. Mereka berasumsi kata jihad itu berarti perang dan membantai orang kafir. Boleh jadi ini berawal dari hadis shahih di kitab Sunan An-Nasai yang diriwayatkan oleh shahabat Anas bin Malik, Jâhidul-Musyrikîn, jihadlah melawan orang musyrik. Dikiranya artinya adalah bunuhlah orang musyrik, bantailah orang musyrik. Itu salah mengartikan mereka.

Dari mana salahnya ustadz?

Kesalahannya karena mereka tidak mempelajari makna hadis itu dari teks umat Islam. Tapi mereka mengkaji hadis tadi dari perilaku segelintir umat Islam yang belum tentu mencerminkan ajaran agama Islam seutuhnya. Ini yang selalu saya tekankan kepada mahasiswa yang mau buat kajian, “Jangan kalian menarik kesimpulan tentang Islam dari perilaku umat Islam. Karena perilaku umat Islam belum tentu mencerminkan ajaran umat Islam. Karena itu pula salah seorang ulama Mesir memberi statement, Al-Islâmu Mahjûbun bil Muslimîn, Islam itu tertutup disebabkan oleh orang Islmanya sendiri. Islam itu cahayanya terang, tapi yang membuatnya tertutup dan tersungkup hingga tak nampak oleh orang lain adalah karena orang Islamnya.

Kalau begitu bagaimana memaknai hadis tadi dengan benar ustadz?

Arti sebenarnya dari hadis Jâhidul-Musyrikîn apa? Apa kita akan bawa pedang panjang. Apa kita pancung kepala mereka. Apa kita bacok dan bakar rumahnya? Bukan. Tentu bukan. Bukan itu yang diajarkan Nabi Muhammad. Lantas apa maksudnya? Maksudnya adalah, kerahkanlah segenap kemampuanmu untuk mengeluarkan orang musyrik agar dia keluar dari kesyirikannya. Agama Islam itu bukanlah agama yang membantai manusia lalu menghancurkan satu kampung.

Maka dalam Islam, ketika para shahabat melakukan perluasan wilayah tidak disebut dengan ekspansi, tapi dikenal dengan futûhât, pembebasan. Membebaskan mereka dari kesyirikankesyirikan mereka. Kita kenal Fathu Makkah. Pembebasan kota Makkah. Tahun ke delapan Fathu Makkah itu. Nabi membebaskan kota Makkah dari kemusyrikan.

Waktu Fathu Makkah, Nabi datang dengan membawa 10 ribu pasukan. Nama panglima perangnya Saad bin Ubadah dari suku Aus. Lalu apa kata dia ketika masuk kota Mekkah, tepat lewat di depan rumah Abu Sufyan. Dia hunuskan pedangnya. Dia katakan, Hazâ Yaumul-Malhamah, ini hari balas dendam. Karena dia mau membantai orang kafir musyrik. Menurut dia pembantaian dulu harus juga dibalas dengan pembantaian. Akhirnya Nabi panggil dia, kemari Saad, Hazâ Yaumul-Marhamah, ini hari kasih sayang.

Lantas, yang dibantai Nabi apa? Nabi masuk ke Masjidil Haram. Dihancurkanlah berhala-berhala. Dalam kitab Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri berjudul Ar-Rahiq Al-Makhtum, diceritakan umat Islam kumpulkan semua patung berhala dari kayu, emas, perunggu, perak dan permata. Dikumpulkan jadi satu. Ditotal ada 360 patung. Nah ini yang dibantai dan dihancurkan oleh Rasulullah, bukan manusianya.

Dengan apa mengubah kemusyrikannya ustadz?

Mengubahnya dengan tiga hal. Pertama, bi amwâlikum, dengan harta. Maka ubahlah orang musyrik tadi dari politheisme menjadi monotheisme dengan harta. Siapa contohnya? Suatu ketika ketika shahabat Umar sedang duduk-duduk. Maka datang Abu Bakar bersama Bilal bin Rabah. Apa kata Umar? Hazâ sayyidunâ a’taqa sayyidanâ, ini pemimpin kami Abu Bakar sudah memerdekakan pemimpin kami Bilal. Dua-duanya dipanggil sayyid, padahal waktu itu status sosial keduanya jauh bak langit dan bumi. Abu bakar orang kaya, tokoh Quraisy, mertua Nabi dan sangat dimuliakan. Sedangkan Bilal bin Rabah anak muda miskin, berkulit hitam dan hamba sahaya tak punya apaapa. Tapi ketika dia bersyahadah masuk Islam, pemberi dan penerima statusnya sama.

Tapi kalau bicara ini, kita umat Islam masih punya teorinya saja, sedangkan yang mempraktikkan adalah mereka orang kafir. Saya pernah baca dalam buku Syekh Muhammad Al-Ghazali, bahwa orang kafir Eropa mengumpulkan sumbangan sebanyak 150 ton emas untuk mengkristenkan Tunisia, Aljazair, dan Maroko. Tiga negara yang menjadi target kristenisasi. Siapa penyumbang terbesarnya? Prancis. Jadi dalam praktik kita masih jauh kalah dengan mereka.

Yang kedua, wa aidîkum, dengan tangan, dengan kekuasaan. Segenggam kekuasaan yang Allah pinjamkan, gunakan seefisien mungkin untuk berjihad di jalan Allah. Kalau di Indonesia sudah jelas aturannya. Eksekutif, legislatif cuma 5 tahun, boleh diperpanjang maksimal dua periode. Maka dengan kekuasaan itu, kirimkan dai-dai ke tempat-tempat minus agama. Jaga moral dan akidah umat. Maka itu adalah pengejawantahan dari Jâhidul-Musyrikîn tadi.

Sedangkan yang ketiga adalah, wa alsinatikum, dengan lisan. Mungkin memang tidak dengan harta. Mungkin memang tidak dengan kekuasaan. Namun dengan kekuatan lisan, mauizhatul husnâ, dzikir serta doa, akan banyak memberikan kontribusi dalam jihad menghapus kesyirikan kepada Allah.