(MENYIKAPI KASUS PELECEHAN SEKSUAL DI PESANTREN)
Iblis ketika diinformasikan secara berulang-ulang sebagai malaikat, maka dalam opini publik dia akan menjadi malaikat. Begitupun malaikat ketika disampaikan secara berulang-ulang sebagai iblis, maka dia akan menjadi Iblis. Ya, lagi-lagi dalam opini publik. Kebohongan ketika disampaikan berulang-ulang sebagai kebenaran maka akan menjadi kebenaran, begitu pun kebenaran bisa berbalik menjadi kebohongan gara-gara pemberitaan dan framing yang begitu masif.
Dalam sejarah kehidupan Rasulullah, pernah viral informasi hoax yang menimpa Ibunda kita Sayyidah Aisyah. Isu skandal perselingkuhan antara beliau dengan Shafwan bin Mu’atthal menggelinding. Kabar ini menyebar dari mulut ke mulut dengan masif, menjadi tranding topik, diviralkan oleh orang-orang munafik. Begitu dahsyatnya efek dari kabar ini, sehingga Rasulullah pun sempat bimbang, susah, resah dan gelisah. Beliau meminta saran tokoh-tokoh shahabat terkait apa yang akan dilakukan. Sampai akhirnya Allah membersihkan nama Sayyidah Aisyah lewat QS. An-Nur ayat 11. Kita bisamengambil ibrah luar biasa dari kejadian ini, bahwa orang seperti Rasulullah saja yang hatinya paling bersih bisa bimbang, apalagi kita.
Yang terbaru kasus pelecehan seksual beberapa santriwati di Pesantren Shidiqiyah, Jombang. Pemberitaannya begitu masif, viral, dan panas karena terus digoreng. Trending di YouTube, Fyp dan berseliweran di beranda Tiktok. Media pun bekerja mengikuti peluang pasarnya. Pemberitaan berantai, berkesinambungan, dan saling bertautan. Parahnya pemberitaan bukan hanya mengerucut pada kejadian itu, tapi ambyar dan melebar ke kasus-kasus serupa di semua pesantren. Semuanya dikorek, diinventarisir, dan diumbulkan kembali. Efeknya jelas merugikan dan merusak citra pesantren secara umum. Ada opini publik yang terbentuk dan stigma negatif yang disematkan ke pesantren; jangan-jangan kebanyakan pesantren memang seperti itu. Imbasnya masyarakat merasa khawatir memondokkan putra-putrinya di pesantren.
| BACA JUGA : PONDASI KESUKSESAN UNTUK ANAK-ANAK KITA
Kasus pelecehan seksual jelas kita harus mengutuknya, siapa pun pelakunya, putra kiai sekalipun. Tapi kita juga perlu membuat opini penyeimbang sebagai bentuk perjuangan untuk menjaga nama baik semua pesantren agar tidak terkena imbasnya. Pelecehan seksual sebenarnya bisa terjadi di mana saja, tidak hanya pesantren, bisa rumah, sekolah, tempat kerja, tempat ibadah, bahkan juga gedung-gedung perlemen tempat para pejabat yang terhormat. Tapi jangan sampai ada generalisasi gara-gara spam informasi yang berserakan di media.
Kita perlu membeberkan data yang argumentatif. Jumlah kasus-kasus serupa yang terjadi di pesantren itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kejadian serupa di tempat-tempat lain. Kasus-kasusnya masih bisa dihitung dengan jari. Itupun rata-rata terjadi di pesantren-pesantren yang tidak tergabung di Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdhatul Ulama (RMI NU). Ada juga yang terjadi di sekolah berasrama yang tidak memiliki izin pesantren, hanya saja oleh Media diberitakan sebagai pesantren. Kita juga perlu melihat jumlah pesantren seluruh Indonesia itu berapa? Update terbaru Kementerian Agama Januari 2022 jumah pesantren 26.975. Bukan menganggapnya wajar jika terjadi pelecehan seksual di satu dua pesantren dengan jumlah total pesantren sebanyak itu, tapi sebagai perbandingan saja agar tidak sporadis memberedel dan memberikan penilaian. Ya, karena kegenitan media, nila setitik rusak susu sebelanga. Kita sebagai netizen pun perlu objektif dan bijak menyikapi pemberitaan-pemberitaan semacam ini.
Di sinilah semua pesantren memang seharusnya ambil bagian membikin opini tandingan dan alternatif informasi penyeimbang. Pesantren perlu membangun media sebagai jendela dan corong informasi masing-masing pesantrennya. Media apa saja yang bisa digarap; terbitkan majalah, ramaikan sosial media, bikin website, buat chanel YouTube, buat akun Tiktok dan lain sebagainya. Informasikan hal-hal baik, positif dan jaminan keamanan santri dan santriwati yang sedang belajar di tiap pesantren. Informasikan kelebihan dan kekhasan masing-masing pesantren. Yuk, pesantren melek media.




