SAFAR TAHUN 15 SEBELUM KENABIAN
Perniakahan Rasulullah dan Sayidah Khadijah memiliki akar kuat dalam sejarah agama Islam. Peranan Sayidah Khadijah sangat besar dalam proses dakwah Rasulullah. Beliau adalah istri yang menyaksikan langsung turunnya wahyu di masa-masa awal. Beliau adalah perempuan yang pertama kali menyatakan iman kepada ajakan Rasulullah. Dan beliau adalah bumper yang senantiasa melindungi perjuangan Rasulullah dengan sepenuh jiwa, raga dan harta.
Maka kisah ini penting kita bahas kembali beserta ragam cerita di dalamnya…
Sayidah Khadijah adalah seorang yang memiliki akhlak yang terpuji, wajah yang rupawan, dan harta yang bergelimang. Hal itulah yang membuat Sayyidah Khadijah begitu terhormat, terpandang, dan terkenal di kalangan masyarakat Arab.
Beliau sudah pernah dua kali menikah. Suami pertama Abu Halah at-Tamimi dan suami kedua adalah Atiq bin Aidz bin al-Makhzumi. Keduanya meninggal dan melahirkan empat orang anak. Setelah itu, banyak pemuka Quraisy yang mencoba melamar Sayidah Khadijah. Akan tetapi selalu beliau tolak. Karena beliau memiliki banyak pengalaman dalam mengarungi biduk rumah tangga. Sayidah Khadijah yakin bahwa kebahagaian rumah tangga tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya materi seseorang, namun ditentukan oleh kepribadian yang luhur, asal usul yang bersih, serta kematangan dalam perpikir dan bertindak.
Kriteria ini yang kemudian beliau temukan pada diri Rasulullah. Pemuda yang biasa-biasa saja dalam hal materi, akan tetapi sangat luar biasa dalam kepribadian dan karakter kehidupan. Bahkan beliau terkenal dengan gelar kehormatan al-Amin.
Langkah pertama yang dilakukan Sayidah Khadijah adalah mengajak Rasulullah menjadi partner kerja. Beliau mengajak Rasulullah untuk menjajakan barang dagangannya ke beberapa negeri di luar Makkah. Dengan kesepakatan keuntungannya dibagi dua. Hal ini dilakukan karena Sayidah Khadijah ingin mengenal lebih dekat kepribadian Rasulullah. Bahkan beliau mengutus salah seorang kepercayaannya untuk selalu memperhatikan hal-ihwal Rasulullah selama bekerja.
Setelah itu, Sayidah Khadijah semakin yakin untuk memilih Rasulullah menjadi pendamping hidup. Akan tetapi beliau masih minder dan ragu apakah Rasulullah mau menerimanya, mengingat perbedaan status dan umur yang sangat mencolok.
Sayidah Khadijah mencoba menceritakan isi hati dan keraguan kepada sahabatnya, Nafisah binti Munyah. Nafisah berhasil meyakinkan Sayidah Khadijah bahwa dia adalah orang yang pantas bagi Rasulullah. Selain memiliki nasab yang agung, Sayidah Khadijah adalah seorang saudagar yang sukses dan perempuan yang dihormati di Makkah.
Nafisah kemudian menyusun sebuah rencana. Ia menemui Rasulullah dan menceritakan semuanya tentang perasaan Sayidah Khadijah. Dalam bahasa lain, Nafisah adalah ‘mak comblang’ yang menyambungkan perasaan Sayidah Khadijah kepada Rasulullah.
| BACA JUGA: SENI MEMBANGUN RUMAH TANGGA
“Muhammad, aku Nafisah binti Munyah. Aku datang membawa berita tentang seorang perempuan agung, suci, dan mulia. Pokoknya ia sempurna, sangat cocok denganmu. Kalau kau mau, aku bisa menyebut namamu di sisinya,” kata Nafisah kepada Rasulullah, dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018).
Singkat cerita, Sayidah Khadijah dan Rasulullah akhirnya menikah. Riwayat yang masyhur menyebutkan bahwa pada saat itu Sayidah Khadijah berusia 40 tahun, sementara Rasulullah berusia 25 tahun. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa pada saat menikah usia Sayidah Khadijah adalah 35 tahun, sedangkan Rasulullah 30 tahun. Bahkan ada riwayat tanpa sanad, Ibnu Ishaq menyebut kalau Sayidah Khadijah ketika itu berusia 28 tahun.
Bagaimanapun riwayatnya, Sayidah Khadijah telah tercatat sebagai perempuan pertama Rasulullah, yang setia menemani Rasulullah dalam keadaan suka maupun duka. Enam dari tujuh putra-putri Rasulullah dilahirkan oleh Sayidah Khadijah. Bahkan Rasulullah sangat sulit menghapus kenangan bersama Sayidah Khadijah, meski beliau lebih dahulu meninggalkan Rasulullah.Wallahu a’lam.




