Tak pernah berhenti decak kagum membaca kiprah ulama kita di dunia intelektual keislaman masa lampau. Kali ini biografi seorang alim asal Betawi yang tidak banyak dikenal namun sangat populer di zamannya, dia adalah Syekh Junaid al-Betawi. Ulama yang lahir di bilangan Pekojan (Jakarta) ini kesohor semenjak jadi imam di Masjidil Haram sepanjang Abad ke-18 akhir hingga awal Abad ke-19, selain juga sebagai pengajar Mazhab Syafiiyah disana.

Prof Dr Hamka (w. 1981 M) menemukan bukti sejarah kuatnya komunitas Betawi memegang prinsip agama Islam. Meski 350 tahun di jajah bahkan menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda berjuluk “Batavia”, jarang sekali terdengar anak Betawi asli yang berpindah memeluk agama selain Islam. Konon, sebutan “Betawi” hanya bisa digunakan oleh penduduk asli Jakarta yang beragama Islam.

Hebat Semenjak Dini

Tak banyak data sejarah yang bisa membuktikan kehidupan nyata maupun pengaruh keilmuan Syekh Junaid al-Betawi. Data otobiografi beliau justru terungkap dalam tulisan catatan perjalanan Orientalis terkemuka asal Belanda C. Snouck Hurgronje (m. 1936 M) setelah berhasil menyusup ke Makkah pada 21 Januari 1885, bahkan sempat tinggal selama tujuh bulan disana. Jurnalnya berjudul Mecca In The Latter Part Of 19th Century.

Hurgronje menulis, di Makkah pada perempat ketiga Abad ke-19, ada “sesepuh” (Nestor) para ulama Jawa yang berasal dari Tanah Betawi bernama “Junaid” yang sudah menetap selama 50 tahun. Perkiraan sementara, beliau sudah bermukim di Makkah sejak tahun 1834, tanpa diketahui secara pasti kapan waktu hijrahnya. Jika data ini benar, berarti Syekh Junaid berhijrah ke Makkah dalam usia yang cukup matang, sekitar 30 tahun.

Syekh Junaid, dalam catatan Hurgronje, telah melakukan kajian-kajian mendalam semenjak berada di negeri asalnya. Bekal ilmu agama dari para ulama dan habaib di Jakarta yang kala itu masih bernama Batavia, berhasil membentuk pribadi keulamaan Syekh Junaid. Maka, kemungkinan Syekh Junaid sudah dikenal sebagai ulama sebelum akhirnya hijrah ke Makkah, memang benar adanya.

Karena luasnya pengetahuan keagamaan Syekh Junaid, masyarakat Makkah menggelarinya “Syaikhul Masyayikh”, guru dari segala guru para ulama Mazhab Syafii. Kepopuleran Syekh Junaid al-Betawi tidak hanya membuat harum nama bangsa; nama Betawi pun ikut masyhur di tanah suci. Tidak mengherankan jika Syekh Junaid disebut-sebut oleh para sejarawan sebagai poros silsilah ulama Betawi pada awal Abad ke-19.

Sekilas identitas keluarga

Dalam silsilah nasab KH Ahmadi Muhammad (cucu Guru Manshur, Jembatan Lima, Jakarta) tertulis bahwa Syekh Imam Damiri memiliki tiga anak: Junaid, Abdul Hamid (ayahanda Guru Manshur) dan Hamim. Sayangnya, sejarah kelahiran dan masa kecil Syekh Junaid di kampung Pekojan tidak dapat terlacak sama sekali, lantaran minimnya sumber data yang ada. Sejarah pernikahan Syekh Junaid juga demikian, masih banyak simpang siur.

Sumber data pertama menyebut Syekh Junaid menikah dengan seorang wanita asal Mesir. Pernikahan keduanya dikaruniai dua orang putra yaitu Sa’id dan As’ad, serta satu putri bernama Ruqayah. Ruqayah kemudian menikah dengan Syekh Ahmad Muntaha asal Tegal (Jawa Tengah) dan dikaruniai dua putraputri, Muhammad dan Jamilah. Syekh Muntaha adalah ulama yang populer karena hafalan al-Quran dan pakar dibidang Ulûmul-Qurân.

Sumber kedua (dalam buku “Ulama Betawi: Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20”, karya Ahmad Fadli HS) disebutkan Syekh Junaid memiliki empat anak, masingmasing dua putra dan dua putri. Yang laki-laki bernama As’ad dan Arsyad, dikemudian hari keduanya melanjutkan perjuangan ayahanda mereka mengajar di Masjidil Haram.

Versi data yang terakhir ini, putri pertama Syekh Juniad menikah dengan Syekh Abdullah al-Mishri, seorang sastrawan Jakarta kelahiran Mesir yang populer pada Abad ke-19. Sedangkan putri kedua Syekh Junaid dinikahkan dengan murid kepercayaannya, Syekh Mujtaba bin Ahmad (tidak diketahui tahun wafatnya) asal Bukit Duri, Jakarta.

Dihormati Keluarga Raja

Sebagai maha guru ulama Jawa generasi awal, Syekh Junaid dikenal telaten mendidik murid-muridnya hingga banyak yang menjadi ulama hebat. Beberapa muridnya bahkan merasa terkesan dengan pribadi beliau, satu diantaranya Syekh Nawawi bin Umar al-Banteni (w. 1230 H). Karenanya, setiap haul Syekh Nawawi di Pondok Pesantren Tanara, selalu dibacakan surah al-Fatihah yang dikhususkan untuk Syekh Junaid al-Betawi.

Ada lagi Syekh Ahmad Khatib alMinangkabawi (w. 1334 H) yang menjadi ulama populer, bahkan sebagai Mufti Mazhab Syafiiyah pada akhir Abad ke-19 dan awal Abad ke-20 yang mengarang banyak kitab. Kemudian ada Syekh Mujtaba, murid sekaligus menantu Syekh Junaid sendiri. Syekh Mujtaba bermukim di Makkah selama 40 tahun. Sekembalinya ke Betawi bersama sang istri pada tahun 1904 M, Syekh Mujtaba diangkat sebagai Mufti Betawi.

Saat Makkah ditaklukkan pada tahun 1925 M dan diadakan perjanjian gencatan senjata antara Raja Ali bin Husein dengan Raja Ibnu Saud, keluarga Syekh Junaid masuk dalam list resmi pemerintah kerajaan yang diberi hak istimewa, karena telah menjalin hubungan baik dengan penguasa Makkah sebelumnya. Keturunan keluarga Betawi terdeteksi sejak 1987 M sampai sekarang dan masih tetap dalam perlindungan Kerajaan Saudi Arabia.

Bahkan konon, keluarga besar Syekh Junaid yang bermukim di Jeddah biasa mengadakan acara Maulid dan Isra Miraj, padahal kegiatan-kegiatan sejenis sangat “tabu” dilakukan kalangan ulama dan penguasa Arab Saudi karena perbedaan ideologi. Sangat terlihat, betapa terhormat nama Syekh Junaid al-Betawi di kalangan keluarga kerajaan, bahkan hingga saat ini.

Baca juga: Syafii-Asyari; Solusi Cerdas Kegaduhan Umat

Nasab & Tahun Kewafatan

Alwi Shahab, budayawan Betawi, menulis 1840 M sebagai tahun wafat Syekh Junaid di usianya yang ke 100 tahun di tanah suci. Namun Ridwan Saidi meragukan analisa ini, karena pada tahun 1894-1895, ketika Snouck Hurgronje berhasil menyusup ke Makkah, Syekh Junaid diketahui masih hidup dalam usia yang sangat lanjut. Terlepas dari semua fakta ini, Syekh Junaid merupakan sosok teladan hebat yang mengabdikan sebagian besar usianya demi perkembangan khazanah Islam.

Dari sejarah silsilah yang berhasil terdokumentasi, Syekh Junaid al-Betawi masih keturunan darah biru. Secara lengkap ialah Syekh Junaid bin Imam Damiri bin Imam Habib bin Raden Abdul Muhit bin Pangeran Cakrajaya Nitikusuma (Adiningrat IV) bin Raden Aria jipang (Sayid Husein) bin Raden Bagus Surawiyata (Sayid Ali) bin Raden Fattah (Sayid Hasan), pendiri Kesultanan Demak.

Salman Alfarisi/sidogiri