Sayidina Umar bin al-Khaththab terpilih sebagai khalifah melalui sebuah proses yang nyaris bersih dari gejolak. Para pembaca sejarah tentu paham, pemilihan masing-masing dari empat al-Khulafa ar-Rasyidun, semuanya melalui proses yang berbeda. Proses yang mengantarkan Umar pada posisi khalifah, berlangsung lebih cepat dan mudah dibanding ketiga khalifah lain.

Secara sederhana, Umar terpilih atas penunjukan langsung dari khalifah sebelumnya, Abu Bakar ash-Shiddiq. Meski demikian, ada tahapan-tahapan yang ditempuh oleh Abu Bakar sebelum memutuskan secara resmi siapa calon pengganti beliau. Terpilihnya Umar, selain karena integritasnya yang diakui, Abu Bakar ash-Shiddiq pun telah miminta masukan dari beberapa shahabat senior mengenai Umar.

Oleh karena itu, ulama Ahlussunnah wal Jamaah telah bersepakat bahwa 4 model pemilihan al-Khulafa ar-Rasyidun identik dalam satu hal, yaitu sama-sama melibatkan ahlul-halli wal-aqdi, meski dengan pendekatan berbeda.

  1. Abu Bakar ash-Shiddiq terpilih berdasarkan kesepakatan seluruh shahabat.
  2. Umar bin al-Khaththab dilantik melalui penunjukan oleh Abu Bakar setelah disetujui oleh para pembesar shahabat sebagai ahlul-halli wal-aqdi.
  3. Utsman bin Affan dilantik melalui sidang ahlul-halli wal-aqdi terbatas yang telah ditunjuk oleh Umar, dimana keterlibatan enam tokoh ahlul-halli wal-aqdi tersebut disetujui sepenuhnya oleh para shahabat.
  4. Ali bin Abi Thalib dibaiat oleh mayoritas shahabat yang telah memenuhi syarat keterwakilan ahlul-halli wal-aqdi.

Konsep keterlibatan ahlul halli walaqdi sangat urgen dalam ajaran politik Ahlussunah wal Jamaah. Dalam kondisi politik yang normal, keterlibatan ahlul halli wal-aqdi adalah harga mati dan tidak bisa ditawar.

***

Pada saat sakitnya semakin parah, Abu Bakar memanggil para pembesar shahabat. Di hadapan mereka beliau berkata, “Apa yang menimpaku telah kalian ketahui. Tak ada lagi dalam benakku selain kematian. Allah telah mengurai ikatan baiat kalian untukku, dan mengembalikan kepada kalian segala urusan hidup kalian. Tunjuklah pemimpin yang kalian cintai. Jika itu dilakukan saat aku hidup, maka itu bisa meredam pertikaian di antara kalian sepeninggalku nanti.”

Para pembesar shahabat cuma bisa terdiam, mereka melihat tidak ada yang lebih menonjol dan berhak menjabat khalifah daripada yang lain. Mereka pun meminta bantuan Abu Bakar, “Beritahu kami bagaimana pendapat Anda, wahai Khalifah Rasulillah…”

“Beri aku waktu untuk berpikir yang terbaik untuk Allah, agama, dan para hambanya…”

Beberapa waktu kemudian, Abu Bakar  memanggil Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau bertanya, “Bagaimana Umar menurutmu?”

“Ia lebih baik dari yang terlintas dalam benakmu, hanya wataknya terlalu keras,” jawab Abdurrahman.

Abu Bakar menimpali, “Itu karena ia menilaiku sebagai pribadi lembut…  Aku menghormatinya… Jika aku sedang marah kepada seseorang, maka Umar menunjukkan kelembutannya. Sebaliknya, jika aku terlalu lunak, niscaya Umar menampakkan amarahnya.”

Berikutnya Abu Bakar memanggil Utsman bin Affan dan mengajukan pertanyaan yang sama, “Bagaimana Umar menurutmu?”

“Yang tidak nampak dari Umar lebih baik dari pada apa yang ia tunjukkan. Tak ada yang lebih baik darinya.”

Kepada Abdurrahman dan Utsman, Abu Bakar berkata, “Rahasiakan percakapan kita. Andai aku melewatkan Umar, pasti Utsman yang aku pilih…”

***

Desas-desus mengenai penunjukan Umar tidak luput dari perhatian para pembesar shahabat. Meski hampir semuanya setuju, namun Thalhah bin Ubaidillah kurang sependapat dengan pilihan Abu Bakar. Konon, beliau mendatangi Abu Bakar menyatakan ketidaksepahamannya.

“Engkau pilih Umar, padahal bersamamu saja ia sudah seperti itu, bagaimana jika engkau tidak di sampingnya?,” ujar Thalhah mengkritik sifat keras Umar. “Bagaimana pula jika engkau bertemu Allah dan engkau ditanya perihal rakyat yang engkau tinggalkan?”

Abu Bakar bangkit dari pembaringannya, duduk tegak, lalu menjawab, “Engkau menakutiku dengan Allah? Jika Dia menanyaiku, aku akan menjawab, ‘Telah ku pilih untuk memimpin hamba-Mu, yang terbaik di antara mereka’.”

***

Berikutnya Abu Bakar memanggil Utsman bin Affan untuk kali kedua. “Tulislah: Bismillahirrahmanirrahim… Ini adalah janji yang dibuat Abu Bakar bin Abi Quhafah untuk umat Islam. Amma ba‘du…” Sampai di sini Abu Bakar tak sadarkan diri. Maka Utsman pun menyempurnakan naskah tersebut…

Amma ba‘du… Sungguh aku telah melantik Umar atas kalian dan aku tak melewatkan kebaikan untuk kalian.”

Setelah siuman, Abu Bakar meminta Utsman membacakan naskah yang telah ditulisnya. Maka Utsman pun membacakannya.

Mendengar naskah surat tersebut, Abu Bakar bertakbir, lalu berkata, “Sepertinya engkau tak ingin umat Islam berselisih andaikata aku tadi meninggal?”

“Benar.”

“Semoga Allah membalas kebaikanmu untuk Islam dan pemeluknya!”

Baca juga: Umar Pada Masa Khilafah Abu Bakar

***

Abu Bakar mengeluarkan instruksi agar surat itu dibaca di depan khalayak. Salah seorang bekas budak Abu Bakar diutus untuk mengundang Umar.

Setelah semuanya berkumpul di Masjid Rasulillah, maka dibacakanlah surat pelantikan kepada mereka. Semuanya tenang. Tak satu pun mengeluarkan suara. Abu Bakar lalu berpidato:

“Relakah kalian dengan pengganti yang aku tunjuk memimpin kalian? Sungguh aku tidak memilih kerabat. Aku telah menunjuk Umar untuk kalian, maka dengarkanlah ucapannya dan taatilah.”

Para hadirin kompak menjawab, “Sami‘nâ wa atha‘nâ.”

Abu Bakar lalu memanggil Umar dan berkata, “Aku telah memilihmu untuk memimpin para shahabat Rasulullah,” diikuti dengan beberapa nasehat berharga.

Beberapa hari setelah seremoni pelantikan tersebut, tepatnya pada saat acara penguburan jenazah Abu Bakar, Umar menyampaikan pidatonya yang legendaris:

“Bangsa Arab tak ubahnya unta bandel yang mengikuti penuntunnya. Maka lihatlah kemana ia dituntun. Adapun aku, demi Tuhan Ka’bah, akan membawa kalian ke jalan yang benar!” Bersambung.

Moh. yasir/sidogiri