Nama: Ust. Abdur Rokib Saki
TTL: Bangkalan, 17 September 1982
Alamat: Sidogiri, Kraton, Pasuruan
Ayah: Saki
Ibu: Romlah
Putra-putri: Abdul Karim, Muhammad Akrom, Hafshah , Muhammad Zen
Istri: Fathonah Kholil
Pendidikan: Madrasah Ibtidaiyah Somor Koneng Kwanyar, SD Somor Koneng Kwanyar, MTs Sunan Cendana Kwanyar Bangkalan, Pondok Pesantren Sidogiri
Aktivitas: Staf Pengajar MMU Aliyah, Kabag Tibkam, Direktur L-Kaf Sidogiri
Tahun masuk PPS: 1998 M
Tahun keluar PPS: 2006 M
Pada edisi ini rubrik Reuni Sidogiri Media mengangkat sosok Ustaz Roqib Saki, salah satu staf pengajar Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Aliyah, sekaligus Kepala bagian Ketertiban dan Keamanan (Tibkam) dan Direktur Lembaga Wakaf (L-Kaf) Sidogiri.
Ustaz Roqib mulai menjadi santri aktif Pondok Pesantren Sidogiri sejak tahun 1998. Semenjak itu sosok pemikir ini hanya fokus belajar dan menolak untuk berorganisasi. Barulah setelah dirasa sudah waktunya, beliau memulai khidmah di berbagai posisi dengan sepenuh hati.
DIKENAL SEBAGAI PEMIKIR YANG INOVATIF
Banyak yang mengakui bahwa sosok dengan empat putra ini memang inovatifdan suka membuat gebrakan baru. Ketika diamanahi suatu jabatan, ada saja ide serta hal baru yang dimunculkan. Tidak hanya di instansi yang dipimpinnya, di Lajnah Tashih Sidogiri beliau juga termasuk orang yang cukup aktif menyampaikan gagasannya.
Karakternya yang risk taker (suka mengambil risiko, red), enggan untuk menjalani khidmah dengan begitu-begitu saja. Menurut pengakuannya, dirinya kurang cocok dengan prinsip khidmah yang hanya mau main aman, atau dengan prinsip yang penting tugas dijalankan.
Menurut beliau, prinsip melayani dalam berkhidmah harus dengan kesungguhan. Di antaranya dengan mengetahui tujuan dirinya diletakkan di posisi tersebut. Peruntukannya untuk apa, dan bagaimana dia bisa mengejar target itu. Dengan begitu, apa yang dikerjakan bisa maksimal. “Bagi saya, ketika ngeladeni, ketika saya ditaruh di sini oleh guru saya, itu kan pasti ada tujuan untuk apa. Pasti ada target dan peruntukannya. Ya, saya harus bekerja memenuhi itu. Pasti secara alami akan melakukan kayak tadi itu (mempelajari, mengevaluasi, dan mengembangkan, red). Karena targetnya seperti ini, dan saat ini masih sampai sini, masih belum mencapai target. Jadi, saya harus menyiapkan programnya, menyiapkan ini nya. Pasti begitu,” jelas Kabag Tibkam ini.
Sebagai sosok risk taker, beliau mengakui bahwa tidak semua orang yang beliau pimpin cocok dengan gaya kepemimpinan beliau. Ketika menghadapi hal semacam ini, manajeman komunikasi harus diperkuat. “Kadang saya harus berubah dari kebiasaan saya untuk kepentingan menyesuaikan dengan bawahan, sebab saya punya ide, sedangkan bawahan saya tidak mau melaksanakan, itu sulit. Jadi saya harus mengubah diri saya.”
RIWAYAT BERORGANISASI
Santri yang menjadi menantu Kiai Kholil az-Zahidin ini sudah memiliki pengalaman berorganisasi sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah di desanya. Saat itu beliau menjadi bagian dari Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIS) di MTs Sunan Cendana Kwanyar. Pengalaman itu berlanjut di organisasi masyarakat di kampung halamannya, baik di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) atau selainnya, seperti Karang Taruna.
| BACA JUGA : KENAPA BANYAK ILMUWAN TIDAK MASUK ISLAM?
Hanya saja, semenjak nyantri di Pondok Pesantren Sidogiri Ustaz Roqib lebih memfokuskan diri untuk belajar, bahkan beliau mengatakan bahwa dirinya memang berusaha menghindari jabatan karena memiliki target yang berbeda. Beliau juga khawatir sebelum memiliki ilmu yang cukup dirinya sudah disibukkan dengan berbagai jabatan. Beliau mengungkapkan, “Yang saya takutkan itu, kan, belum isi, kemudian saya sudah disibukkan dengan hal lain. Belumpunya apa-apa sudah disibukkan dengan jabatan. Itu bahaya bagi diri saya.”
Meski baru berkhidmah selepas menyelesaikan pendidikan, Ustaz Roqib memiliki prinsip khidmah yang sangat perlu ditiru. Menurut beliau, orang yang sedang diberi amanah untuk berkhidmah punya tugas untuk mempelajari, menganalisis, lalu mengembangkannya.
BANTING SETIR MENJADI KABAG TIBKAM
Meski berlatar belakang akademisi, Ustaz Roqib memiliki prinsip bahwa tugas dari guru bagaimana pun harus siap untuk melaksanakan. Seperti pengalaman beliau yang mulanya memegang amanah sebagai Kepala Labsoma, tiba-tiba oleh Sekjen Majelis Keluarga, Mas d. Nawawy Sadoellah diperintahkan untuk ‘banting setir’ menjadi bagian keamanan. Meski awalnya berat, karena beliau sama sekali tidak memiliki latar belakang di bidang keamanan, amanah itu tetap beliau laksanakan dengan totalitas.
Ada hal menarik terkait cara pandang Ustaz Roqib dalam menjalankan tugas. Ketika awal-awal menjadi Kabag Tibkam, beliau sering ditanya oleh Mas d. Nawawy, bagaimana menjadi keamanan, berat? Ketika ditanya seperti itu, mula-mulanya Ustaz Roqib sering mengiyakan kalau menjadi keamanan itu berat. Namun, selang beberapa waktu beliau mulai menyadari bawa sebenarnya menjalankan tugas apa pun semuanya sama saja. Menurut beliau, kalau melihat tanggung jawabnya, tidak ada yang ringan, semuanya berat.
“Akhirnya ketika saya ketemu (Mas d. Nawawy) lagi ditanya, saya bilang, ‘intinya padeh sadejeh tugassah (intinya sama semua tigasnya, red.)’ ‘Mak Padeh? (Kok sama? Red.)’ ‘Enggi, kalau melihat tanggung jawab siapapun pasti merasa berat.’ Baru beliau (Mas d. Nawawy) berkata, ‘Lah, kayak gitu yang saya harapkan.’”
MENJADI PENULIS KARNA RESAH
Sosok ini juga pernah menulis di Sidogiri Media. Semua itu bermula dari keresahannya menyaksikan para penulis saat itu yang menulis tentang hal yang tak dikuasainya. Beliau memandang banyak orang yang menulis, tetapi bukan menulis sesuai ilmu yang dia miliki. “Cari data, kemudian ditulis. Cari data, kemudian ditulis. Bukan pada kemampuannya,” terang beliau. Sedangkan menurut Ustaz Roqib, seharusnya menulis atau membuat karya itu hanya boleh dilakukan untuk men-tahqiq-kan pemahaman si penulis. Realita yang beliau lihat saat itu banyak penulis yang tidak menguasai Fikih, justru menulis tentang Fikih.
Keresahan sosok yang sekaligus menjadi aktivis Lajnah Murajaah Fiqhiyah itu lantas memotivasi beliau untuk ikut terjun mewarnai dunia kepenulisan di Sidogiri. Mulanya beliau berkonsultasi ke Ust. Masyhuri Mochtar yang saat itu menjabat sebagai Pemred Sidogiri Media. Keinginan itu lantas bersambut, dan beliau langsung dijadikan redaksi tetap untuk mengisi konten di beberapa rubrik Sidogiri Media. Selain langsung praktik, Ustaz Masyhuri Mochtar juga banyak memberi arahan terkait teori kepenulisan serta langkah-langkah apa saja yang harus dijalani. “Saya belajar ke Pak Masyhuri itu. Disuruh baca karangannya Pak Idrus, Pak Dairobi. Lambat laun, ya, tahu teknik menulis,” tutur sosok kelahiran tahun 1982 ini.




