إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ قَدْرَكَ عِنْدَهُ فَانْظُرْ فِيمَاذَا يُقِيمُكَ
“Bila ingin tahu kedudukanmu di sisi Allah, lihatlah di mana Dia menempatkanmu.”
Sebuah makna yang tidak jauh berbeda dengan kalam hikmah ini, pernah disabdakan oleh Rasulullah (artinya): “Barang siapa yang ingin tahu bagaimana Allah memposisikan seseorang, maka lihatlah bagaimana orang itu memposisikan Allah.” HR. Abu Hurairah.
Manusia dan jin memang diciptakan oleh Allah hanya untuk menyembah-Nya. Sejak kecil hingga kini kita berupaya untuk berbuat baik dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah. Namun, pernahkah kita berfikir siapa kita sebenarnya di sisi Allah. Bagaimana posisi kita di hadapan Dzat yang Maha Agung? Apakah kita hamba yang baik atau hamba yang buruk?
Pertanyaan ini penting dijawab agar kita dapat mengintrospeksi diri. Amal perbuatan apa yang perlu kita tingkatkan. Keburukan mana yang sering kali membuat Allah murka. Apakah kita sudah termasuk golongan orang yang bertakwa. Atau malah sebaliknya, kita masih bergelimang dosa baik yang disengaja ataupun karena lupa.
Oleh karenanya, pada kalam hikmah kali ini Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan sejenis indikator yang bisa mengarah pada jawaban pertanyaan di atas. Beliau mengatakan:
إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ قَدْرَكَ عِنْدَهُ فَانْظُرْ فِيمَاذَا يُقِيمُكَ
Artinya: “Bila ingin tahu kedudukanmu di sisi Allah, lihatlah di mana Dia menempatkanmu.” Kata “di mana” tentu tidak mengarah pada profesi atau tempat dalam arti fisik. Kata itu merujuk pada pengertian perilaku kita sehari-hari. Apakah keseharian kita berada dalam perilaku yang diridhai atau dimurkai-Nya? Lebih rinci, Syekh Said Ramadhan al-Buthi menguraikan kalam hikmah ini di dalam Syarah al-Hikamnya. Bahwa untuk melihat di mana Allah menempatkan seorang hamba-nya, bisa dilihat dari dua indikator.
| BACA JUGA : BELI BARANG, KREDIT ATAU KONTAN
Pertama, dilihat dari indikator ruhaniyah. Seorang hamba bisa bertanya kepada hati nuraninya, bagaimana dia memposisikan Allah di dalam hatinya, maka seperti itu pula Allah memposisikan dia di sisi-Nya. Lihatlah seberapa besar kecintaan, pengakuan, penghambaan serta penghormatannya kepada Allah. Maka itu akan menjadi indikator kuat yang akan menjelaskan posisinya di sisi Allah.
Mengapa demikian? Karena kecintaan seorang hamba kepada Allah, merupakan efek dari kecintaan Allah kepada hambanya. Semakin besar cinta Allah pada seorang hamba, maka akan semakin besar pula kecintaan hamba kepada Allah. Bukan sebaliknya, semakin besar kecintaan hamba kepada Allah, maka semakin besar pula kecintaan Allah kepadanya.
Dalilnya adalah firman Allah di dalam al-Quran:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” QS. al–Maidah [5]: 54
Perhatikan ayat ini! Ketika Allah mengancam orang-orang yang keluar dari agama Islam, Allah menyampaikan kecintaan-Nya kepada suatu kaum, sebelum menyampaikan kecintaan kaum itu kepada-Nya. Maka kecintaan seorang hamba kepada Allah, adalah efek dari kecintaan Allah kepadanya.
Kedua, indikator jasmaniyah. Setiap hamba yang telah memiliki mahabbah sebagaimana yang dijelaskan pada poin pertama, pasti akan memberikan bekas pada perilaku kehidupannya sehari-hari. Hati dan pikiran yang berisi cinta kepada Allah, pasti akan menggerakkan semua urat, otot, dan detak jantung pada ketaatan, menghasilkan amal perbuatan takwa, serta akan berupaya total menjauhi segala dosa.
Maka kedudukan kita di sisi Allah, dapat dilihat dalam perbuatan kita sehari-hari. Semakin kuat kita mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang Allah, maka semakin tinggi pula posisi kita di sisi-Nya. Begitu pun sebaliknya.
Prespektif berbeda juga disampaikan oleh Syekh Syarqawi dalam menguraikan kalam hikmah ini. Beliau menyatakan di dalam Kitab Syarhul Hikamnya bahwa kalam hikmah Syekh Ibnu Athaillah ini bisa dipahami dalam dua konteks berbeda.
Dalam konteks kalangan awam, posisi kita di sisi Allah bergantung pada ketaatan dan kemaksiatan yang mengisi hari-hari kita. Sedangkan dalam konteks kalangan tertentu (khawas), posisi seorang hamba ditentukan pada sejauh mana seseorang menempati kedudukan muqarrabin atau abrar, di mana sesuatu yang dianggap sudah baik oleh kalangan abrar belum tentu bernilai baik bagi kalangan muqarrabin. Sehingga masyhur di kalangan sufi bahwa kebaikan abrar adalah keburukan bagi muqarrabin.
Walhasil, yang perlu digarisbawahi dalam pembahasan kali ini, bahwa penilaian semacam ini sebaiknya hanya dibatasi untuk mengukur diri sendiri, bukan untuk orang lain. Menilai diri sendiri akan membuat kita semangat meningkatkan kualitas hamba di hadapan Sang Khalik. Sedangkan apabila kita gunakan untuk menilai orang lain, maka mafsadatnya akan jauh lebih besar untuk diri kita sendiri. Bisa-bisa kita akan berprasangka buruk, atau bahkan timbul ujub dan takabbur dalam diri. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.




