Nama Pesantren: Pondok Pesantren Al-Isyraq
Alamat: Jl. Pejuangan Gg. F 10/10 No. 56 Kebon Jeruk Jakarta Barat
Tahun berdiri: 2011
Pendiri & Pengasuh: KH. Suherman Mukhtar, SHI., MA.
Jumlah santri: ± 300
Pendidikan: Madrasah Diniyah, Tahfidz al Quran, Majelis Taklim
Lembaga pendidikan dewasa ini sangat mutlak keberadaannya bagi kelancaran proses pendidikan, khususnya di Indonesia. Apalagi lembaga pendidikan itu dikaitkan dengan konsep Islam, lembaga pendidikan Islam merupakan suatu wadah di mana pendidikan dalam ruang lingkup keislaman melaksanakan tugasnya demi tercapainya cita-cita umat Islam. Keluarga, masjid, pondok pesantren, majelis taklim dan madrasah merupakan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang mutlak diperlukan di suatu negara secara umum atau di sebuah kota secara khususnya.
Tujuan pendidikan majelis taklim dan pesantren adalah menciptakan kepribadian Muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Allah, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi abdi masyarakat, mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian — Indonesia. Idealnya — pengembangan kepribadian yang ingin dituju ialah kepribadian muhsin, bukan sekadar muslim.
Sejak tahun 2000, KH. Suherman memang sudah sangat sibuk dengan kegiatan mengajar dari satu tempat ke tempat lainnya. Saat itu ada 23 majelis, baik majelis di masjid, mushalla, dan sebagainya. Untuk mempermudahkan segala yang berhubungan komunikasi antar jamaah majelis. Maka pada tahun 2009 dibentuklah satu wadah pengajian yang akan dipusatkan di satu tempat tanpa meninggalkan kegiatan taklim yang sudah berjalan yaitu suatu majelis taklim yang diberi nama Majelis Taklim Al-Isyraq. Tepat pada waktu isyraq (pagi) pada hari Minggu, tanggal 26 Desember 2009 diresmikanlah majelis tersebut lengkap dengan susunan pengurusnya serta program kerja yang sudah disusun sedemikan rupa.
Nama Al-Isyraq pertama kali digunakan oleh salah satu Majelis Taklim yang diasuh oleh beliau sendiri, yaitu bertempat di Jalan Salman Kampung Rawa Kebon Jeruk Jakarta Barat, tepatnya di kediaman Bapak Andri bin H. Ali. Majelis ini sebelumnya secara rutin bertempat di Mushalla Nurul Iman, dikarenakan ada suatu hal maka pengajian dipindah ke rumah Bapak H. Ali. Yang memberi nama Al-Isyraq adalah beliau sendiri.
Secara bahasa Al-Isyraq berasal dari kata asyraqa yusyriqu isyraqan yang artinya penyinaran, penerangan, pencahayaan. Kalau dikaji dengan menggunakan kaca mata tasawuf ada seorang ulama tasawuf yang bernama Imam Suhrawadi Al-Magtul, seorang yang memiliki pengetahuan yang luas dalam berbagai aliran filsafat Yunani maupun filsafat Persia dan India. Beliau berasal dari Aleppo nama lengkapnya adalah Abu Al-Futuh Yahya ibn Amrak Suhrawardi, lahir di Suhrawardi. Beliau mempunyai paham dalam berdekat diri kepada Allah, yakni: Al-Isyraq yakni penyinar.
| BACA JUGA :INSPIRASI MUSLIMAH MASA KINI
Bukan hanya suatu majelis yang fungsinya hanya untuk mencari ilmu, tetapi adalah suatu majelis yang juga mempunyai program pembinaan generasi muda yang Islami juga berjiwa Qurani serta kegiatan lainnya.
Program majelis ini terus berkembang di antaranya adalah membantu atau memfasilitasi kaum muslimin untuk dapat melaksanakan ibadah kurban pada hari raya Idul Adha, yaitu dengan cara menyediakan tabungan kurban. Baik untuk kurban berupa hewan ternak sapi maupun kambing.
Selain program di atas, majelis ini membentuk juga suatu lembaga Baitul–Masakin, suatu lembaga keuangan yang dikelola oleh pengurus majelis. Program kerja Baitul-Masakin adalah mengacu pada pola “ibda’ binafsika” yang berarti mulai dari dirimu. Setelah dana terkumpul pada setiap bulan melalui pengajian bulanan umum yang rutin diadakan di Pondok Pesantren Terbuka Gratis Al-Isyraq setiap pagi waktu isyraq, maka dana tersebut kemudian disedekahkan dalam bentuk beasiswa kepada fakir miskin yang ingin melanjutkan studinya, tetapi ia tidak mampu atau berat karena kebutuhan biaya yang tinggi dan dipergunakan juga untuk operasional pesantren.
Adapun perolehan dananya adalah bersumber dari jamaah Majelis Ta’lim Al-Isyraq dan orang-orang yang ikut peduli dengan kegiatan pendidikan agama ini. Beliau memakai semboyan hadis Rasulullah, Khairul a’mal adwamuha wa in qalla (sebaik-baik amal adalah yang terus-menerus, sekalipun hanya sedikit). Pada saat itu besarnya iuran tetap donator adalah sebesar Rp. 10.000,. Besarnya iuran tersebut tidaklah tetap. Donatur bisa saja memberikan lebih dari jumlah yang ditetapkan. Menurutnya, “Seorang pendidik yang pandai adalah ketika ia semakin terkenal mempunyai harta yang banyak dan pengaruh yang luas, maka ia semakin pandai menciptakan sarana pendidikan yang semakin mudah diraih oleh siapa saja yang mempunyai semangat belajar”, beliau juga mengatakan, ”Ulama yang baik adalah ulama yang orientasinya tidak kepada harta atau uang”. Akan tetapi bukan berarti menurutnya uang tidak penting, justru sebaliknya uang sangatlah penting untuk menopang perjuangan pendidikan.
Setelah satu tahun terbentuknya Majelis Ta’lim Al-Isyraq, tahun 2010 tercetuslah ide pembentukan sebuah pesantren. Awal mulanya pembentukan pesantren ini diutarakan kepada kakek beliau yaitu H. Mustofa. Pada saat meminta izin dan mengutarakan maksud pembentukan pesantren, tak lama kemudian sang kakek berdoa dengan mengangkat kedua belah tangannya seraya berkata “sudah saatnya”.
Berdoa dengan mengangkat kedua tangannya adalah perkataan dan perbuatan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Bagi beliau ini adalah sesuatu yang sangat tepat.




