ZIARAH ARBA’IN DAN MOBILISASI MASSA TERBESAR DI DUNIA
Bagi pemeluk Syiah, khususnya di Iran, bulan Safar adalah bulan yang paling padat dengan upacara upacara keagamaan. Di antara hari-hari besar tersebut, tiga di antaranya berhubungan erat dengan Tragedi Karbala, yaitu mengenang masuknya para tawanan perang Karbala ke negeri Syam (1 Safar 61 H), syahidnya Sayidah Ruqayah binti Husain (5 Safar), dan peringatan Ziarah Arba’in pada 20 Safar.
Hari Raya Arba’in atau Arba’iniyatul Husain diadakan untuk mengenang 40 hari wafatnya Imam Husain bin Ali. Acara ini adalah hari raya Syiah yang paling meriah dan menampilkan perkumpulan massa terbesar di dunia. Beberapa tahun terakhir, umat Syiah yang menghadiri acara ini mencapai lebih dari 30 juta orang setiap tahunnya. Cukup efektif untuk menunjukkan eksistensi pemeluk Syiah Itsna Asyariyah kepada dunia.
Ziarah Arba’in diawali pada tanggal 7 Safar dengan ritual jalan kaki para pengikut Syiah menuju Karbala. Mereka berdatangan dari Iran, Lebanon, Kuwait, Bahrain, dan Pakistan. Mereka yang berdomisili jauh dari Karbala rata-rata berangkat lebih awal.
Mengapa Ziarah Arba’in begitu sakral bagi pemeluk Syiah? Setidaknya karena didorong oleh dua faktor penting:
Pertama, Ziarah Arba’in dilakukan oleh keluarga dekat Imam Husain, tepat 40 hari setelah tragedi Karbala pada tahun 61 H. Setelah dibawa menghadap Khalifah Yazid di Damaskus pada awal bulan Shafar, maka sebelum pulang ke Madinah, rombongan tawanan terlebih dahulu ziarah ke Karbala. Sebelum rombongan ini tiba di Karbala, ada Shahabat Jabir bin Abdillah al-Anshari yang sampai terlebih dahulu ke lokasi tersebut.
| BACA JUGA : SIASAT TAREKAT SESAT
Meskipun cerita ini di yakini kebenarannya di kalangan Syiah, namun beberapa ulama Syiah meragukan Ziarah Arba’in oleh kerabat Imam Husain terjadi pada tahun 61 H. Tokoh-tokoh besar Syiah seperti Sayid bin Thawus (w 664 H/1266 M), Mirza Husain an-Nuri ath-Thabarsi (w 1902) dan muridnya, Abbas al-Qummi (w 1950) berpandangan, tidak mungkin acara ziarah dilakukan pada tahun itu juga, mengingat jarak antara Karbala dan Damaskus sangat jauh, 900 km lebih). Menurut mereka, Ziarah Arba’in memang dilakukan oleh para kerabat Imam Husain, namun baru terlaksana tahun berikutnya, yaitu tahun 62 H.
Kedua, ada riwayat dari Imam ke-11 Syiah, Hasan al-Askari bin Ali al-Hadi, bahwa Ziarah Arba’in termasuk tanda- tanda pokok keimanan seseorang.
“Ada 5 tanda keimanan seorang mukmin: shalat 51 rakaat, Ziarah Arba’in, memakai cincin di tangan kanan, sujud di atas tanah/batu, dan mengeraskan bacaan basmalah.”
Riwayat ini cukup masyhur dan tercatat dalam buku-buku induk Syiah, salah satunya dalam Biharul-Anwar karya Muhammad Baqir al-Majlisi (w 1111 H/1698 M)
HARI BESAR LAIN DI BULAN SAFAR
2 SAFAR 121 H,
hari wafat Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin. Pimpinan oposisi Bani Hasyim melawan pemerintahan Bani Umayah. Beliau wafat dalam pertempuran melawan pasukan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H). Kekalahan pasukan Imam Zaid tidak lepas dari pengkhianatan kelompok Syiah ekstrem pembenci Khalifah Abu Bakar dan Umar. Mereka membelot karena Imam Zaid mengakui kekhilafahan Abu Bakar dan Umar. Imam Zaid pun menyebut mereka sebagai kelompok “Rafidhah”.
5 SAFAR 61 H
hari syahidnya Sayidah Ruqayah binti Husain bin Ali. Menurut sumber Syiah, Sayidah Ruqayah adalah salah satu putri Imam Husain yang dibawa ke Karbala. Saat itu usianya baru 4 tahun. Usai pembantaian di Karbala dan rombongan ahlul bait dibawa ke Damaskus, di suatu malam Sayidah Ruqayah menangis histeris karena melihat ayahnya dalam mimpi. Khalifah Yazid lalu memberi perintah agar kepala Sayidina Husain diperlihatkan kepada Sayidah Ruqayah. Melihat kepala ayahnya, Sayidah Ruqayah semakin histeris hingga wafat seketika. Makam Sayidah Ruqayah berada di Damaskus dan disakralkan oleh pemeluk Syiah hingga hari ini.
Yang akrab dengan kajian sejarah masa-masa awal Islam tentu tidak asing dengan riwayat-riwayat dramatis ala Syiah seperti ini. Sangat mudah menemukan kisah seputar Karbala dan rangkaian peristiwa setelahnya yang didramatisir sedemikian rupa dalam sumber-sumber Syiah. Namun anehnya, masih banyak saja yang percaya dan bahkan terpengaruh dengan riwayat-riwayat tersebut.
Selain Sayidah Ruqayah, sejarawan Syiah juga mencatat bahwa Imam Husain memiliki dua putri lain, yaitu Shafiyah dan Khaulah. Keduanya dimakamkan di dua tempat berbeda di Baalbek, Lebanon dan ramai diziarahi para penganut Syiah hingga hari ini.
Sementara itu, nyaris tidak ada sejarawan Ahlussunah yang memasukkan ketiga nama di atas dalam daftar putra-putri Imam Husain. Menurut sejarawan Ahlussunah, Imam Husain hanya memiliki dua orang putri, yaitu:
–
Sayidah Fathimah binti Husain (40-110 H). Menikah dengan sepupunya, Hasan al-Mutsanna bin Hasan bin Ali. Hasan al-Mutsanna terluka dalam pertempuran di Karbala. Beliau lantas dibawa ke Damaskus bersama tawanan lain, termasuk Imam Ali Zainal Abidin bin Husain yang waktu itu sedang sakit. Pernikahan Hasan al-Mutsanna dan Sayidah Fathimah melahirkan Abdullah al-Mahdhu, yang kelak menurunkan mayoritas asyraf Hasaniyin. Setelah suaminya wafat tahun 97 H, Sayidah Fathimah lalu menikah dengan Abdullah bin Amr bin Utsman, cucu Khalifah Utsman bin Affan.
| BACA JUGA : SYIAH DAN HARI-HARI BESARNYA (1)
–
Sayidah Sukainah binti Husain (47-120 H). Sayidah Sukainah menikah dengan sepupunya, Abdullah bin Hasan bin Ali yang wafat bersama Sayidina Husain di Karbala. Tidak lama kemudian beliau menikah dengan Mush’ab bin Zubair bin Awam, gubernur Irak pada masa kekhalifahan Abdullah bin Zubair.
7 SAFAR 50 H
hari wafat Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib menurut satu riwayat yang dipakai oleh Hawza Ilmiah di Najaf, Irak, semacam seminari atau sekolah teologi Syiah. Sementara diIran, peringatan hari wafat Imam Hasan diadakan pada tanggal 28 Safar dan menjadi hari libur nasional. Riwayat yang populer di kalangan Sunni maupun Syiah menyebutkan bahwa beliau wafat karena diracun. Bedanya, kelompok Sunni tidak memastikan siapa pelakunya. Sedangkan kelompok Syiah menyatakan bahwa pelakunya adalah salah satu istri beliau sendiri, Ju’dah binti al-Asy’ats, atas instruksi Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan.
Tanggal 7 Safar juga diperingati sebagai hari lahir Imam Musa al-Kazhim bin Jakfar ash-Shadiq (lahir tahun 128 H di Madinah)
8 SAFAR
hari wafat Shahabat Salman al-Farisi. Orang-orang Syiah menyebutnya Salman al-Muhammadi. Sejak masa Khalifah Umar, Salman al-Farisi menjabat sebagai gubernur bekas ibukota Dinasti Sassaniyah, Ctesiphon (Madain). Salman wafat menjelang akhir kekhilafahan Utsman bin Affan tahun 33 H dan dimakamkan di Madain.
9 SAFAR
hari wafat Shahabat Ammar bin Yasir. Terbunuh di Perang Shiffin pada tahun 37 H. Dalam usia 93 tahun, beliau tampil heroik di barisan pendukung Imam Ali. Shahabat Salman dan Ammar termasuk di antara sedikit shahabat yang dihormati kalangan Syiah karena kedekatannya dengan Imam Ali. Dalam HR at-Tirmidzi, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Surga merindu tiga orang: Ali, Ammar dan Salman.”
28 SAFAR
hari wafat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Berbeda dengan Ahlussunah yang nyaris sepakat bahwa Baginda Rasul wafat tanggal 12 Rabiul Awal, Syiah berpandangan bahwa tanggal wafat beliau adalah 28 Safar. Di Iran, tanggal 28 menjadi hari libur nasional dalam rangka mengenang wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sekaligus hari wafatnya sang cucu, Imam Hasan bin Ali.
29 SAFAR 203 H
hari wafat Imam Ali ar-Ridha bin Musa al-Kazhim. Menurut sumber-sumber Syiah, beliau wafat karena diracun oleh orang suruhan Khalifah al-Makmun bin Harun ar-Rasyid (198-218 H). Imam Ali ar-Ridha wafat di Thus dan dikebumikan di Masyhad, kawasan Timur Iran yang dulunya termasuk bagian Khurasan Raya. Makam beliau terletak paling jauh dibandingkan ahlul bait yang lain, sehingga dijuluki Gharibul Ghuraba’.




