Tentu masih sangat banyak penafsiran mengenai siapa dan bagaimana generasi milenial. Apapun itu, istilah tersebut sedang gencar digunakan untuk memberikan ‘kesan menarik’ terhadap para pemuda saat ini, yakni generasi yang lahir pada tahun 80 hingga 90-an. Kita tidak bisa mengelak bahwa istilah generasi milenial—sebagaimana halnya istilah generasi modern dan semacamnya— hanyalah eufemisme atau ungkapan halus dari generasi akhir zaman.

Tentu sangat banyak perbedaan mencolok antara pemuda dahulu dengan pemuda saat ini, terutama dalam hal gaya hidup dan pandangan hidup. Hal tersebut diakui oleh para peneliti Barat sekalipun. Menurut penelitian Bruce Horovitz dalam After Gen X, Millennials, what should next generation be?—sebagaimana dikutip oleh Wikipedia, generasi milenial lebih terkesan individual, mengabaikan masalah politik, fokus pada nilai-nilai materialistis, dan kurang peduli untuk membantu sesama.

Mereka lebih pemalas, narsis, dan suka sekali melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Mereka juga terbuka dalam mendukung kesetaraan hak (misalnya tentang LGBT atau kaum minoritas), memiliki rasa percaya diri yang bagus, mampu mengekspresikan perasaannya, pribadi liberal, optimis, dan menerima ide-ide dan cara-cara hidup.

Artinya, orang-orang Barat sekalipun merasa cukup kecewa dengan kecenderungan mutakhir generasi umat manusia, karena mereka cenderung individual, materialistis dan tidak memiliki ketangguhan jiwa. Keakraban mereka kecanggihan media digital, teknologi informasi dan media sosial, turut melahirkan dampat besar dalam kecenderungan gaya hidup dan hubungan sosial mereka.

Lalu, bagaimana pandangan Islam? Rasulullah sudah lama mengingatkan bahwa generasi akhir umat ini adalah generasi yang mengecewakan secara spiritualitas dan moralitas. Peringatan tersebut, tentu saja bukan untuk membuat kita menyerah terhadap keadaan, melainkan agar kita ekstra hati-hati, jangan sampai latah apalagi menggandrungi kecenderungan generasi akhir. Sebab, manusia cenderung memaklumi, mengagumi, mengikuti bahkan fanatik terhadap tren-tren baru yang berkembang di tengah-tengah mereka.

Ada satu hadis riwayat Imam at-Tirmidzi yang sangat tepat dalam menggambarkan perilaku umat generasi akhir, sehingga menyebabkan mereka menjadi generasi yang terpuruk. Rasulullah bersabda:

“Jika umatku telah melakukan lima belas hal, maka turunlah petaka pada mereka.” Shahabat bertanya, “Apakah hal itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bila ganimah (kekayaan negara) dimonopoli (oleh pejabat dan konglomerat), amanat menjadi fasilitas (yang dinikmati), zakat tidak dikeluarkan, suami mematuhi istrinya, anak menyakiti ibunya; dia bersikap baik (dan dekat) dengan teman, tapi menjauhi ayahnya, masjid ramai dengan suara keras, yang menjadi pemimpin adalah orang-orang yang rendah, seseorang dihormati karena ditakuti kejahatannya, berbagai minuman keras (narkoba) dikonsumsi, pakaian sutra banyak dipakai, para penyanyi wanita dan alat musik banyak dibuat, dan generasi akhir umat ini mengutuk generasi pendahulu mereka.”

Sebagai generasi umat yang berada di akhir zaman, kita mesti super hati-hati dengan perkembangan-perkembangan yang disebutkan di dalam Hadis di atas. Semuanya sedang terjadi dengan pesat dan gencar di tengah-tengah kita.

Namun demikian, di antara fenomena-fenomena buruk di atas, ada beberapa hal yang perlu kita soroti secara lebih detail karena sedang menjadi kegandrungan anak-anak muda. Pertama, menggandrungi komunitas pertemanan, sehingga tidak betah untuk berada di tengah-tengah keluarganya. Hal itu digambarkan oleh Rasulullah dengan buruknya sikap anak terhadap ibu, menjauh dari ayahnya, dan sangat dekat dengan teman-temannya. Hal ini merupakan fenomena yang meluas di mana-mana. Berbagai macam komunitas digeluti oleh anak-anak muda, sehingga dia lepas dari didikan keluarganya.

Mereka mudah berkumpul dan setia terhadap komunitas, paguyuban dan geng yang didasari oleh kesamaan hobi, kesenangan dan hal-hal lain yang cenderung negatif.

Kedua, emansipasi wanita. Rasulullah menyinggung hal ini melalui sabdanya “suami mematuhi istrinya”. Di zaman ini, generasi kita sudah termakan oleh isu kesetaraan gender yang dihembuskan secara terus menerus. Sehingga, ketentuan syariat bahwa lelaki merupakan penanggungjawab dan pemimpin bagi kaum wanita terus tergerus dari waktu ke waktu. Peran kaum wanita semakin menonjol dalam berbagai lini: politik, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya. Akibatnya apa? Banyak generasi milineal yang ‘kehilangan sosok ibu’ dari kehidupannya.

Ketiga, audisi penyayi dan musisi. Rasulullah menyinggung hal itu dalam sabdanya, “para penyanyi wanita dan alat musik banyak dibuat.” Saat ini ajang pencarian bakat menyanyi melalui audisi dan sekolah vokal menjadi bisnis yang menjanjikan dan sangat digandrungi oleh generasi milenial. Hal itu menyebabkan terkurasnya perhatian, pikiran dan energi mereka untuk dunia hiburan yang, tentu saja, lebih banyak sisi negatifnya dibanding sisi positifnya.

Keempat, lebih menyenangi kesemarakan dibandingkan kekhidmatan. Hal itu disinggung Rasulullah dalam sabdanya, “masjid ramai dengan suara keras.” Apa maksud suara keras di masjid? Abu al-Ala’ al-Mubarakfuri dalam Tuhfadzul-Ahwadzi menyatakan: hilangnya kekhidmatan masjid sebab persengketaan, pembaiatan dan permainan. Bahkan, dalam konteks ini, Syekh Mulla Ali al-Qari menyatakan bahwa sebagian ulama Hanafiyah mengharamkan mengeraskan suara di masjid meskipun dalam bentuk zikir.

Pada zaman ini, ibadah yang khusyuk dalam sunyi dan tulus dalam sembunyi memang sudah jarang diminati masyarakat. Mereka lebih berminat dan bersemangat terhadap ibadah-ibadah yang semarak, mengandung unsur perayaan, melibatkan massa dan memiliki unsur publikasi yang tinggi. Sebenarnya, jika niatnya memang tulus untuk syiar, hal itu bisa menjadi kebaikan tersendiri. Namun, masalahnya, antara syiar dan riya sangatlah sulit dibedakan.

Kelima, tidak menghormati as-salaf as-shalih. Hal ini disinggung oleh Rasulullah dalam sabdanya, “generasi akhir umat ini mengutuk generasi pendahulunya.” Dewasa ini, terlalu banyak generasi muda kita yang terpapar oleh virus liberalisme dan semacamnya. Atas nama keterbukaan, rasionalisme dan pembaharuan, mereka enggan mengambil pandangan keagamaan ulama-ulama salaf. Mereka lebih senang mengikuti pikiran-pikirannya sendiri yang offside dan tak berdasar.

Ahmad Dairobi/sidogiri

Spread the love