Mendidik memang tidak semudah mengajar. Target pencapaiannya tidak melulu tentang transfer pengetahuan dan prestasi keilmuan. Ada proses panjang yang mesti dilalui. Pendidikan pertama tentunya dimulai dari lingkungan keluarga. Dalam Islam, tanggung jawab orang tua atas pendidikan anak menjadi ketetapan syariat. Orang tua bisa saja terseret ke neraka gara-gara mengabaikan pendidikannya. Karena itu, ada beberapa prinsip yang harus dimiliki agar pendidikan yang diterapkan tidak melahirkan pribadi yang anti syariat.
PERTAMA
menjadi teladan yang baik. Bagi anak kecil, seluruh perilaku dan perkataan orang lain akan ditiru secara alami, baik ataupun buruk. Diusia meniru ini, orang tua dituntut untuk menampilkan perilaku dan kebiasaan baik yang dapat ditiru anak. Ibnu Abbas pernah bercerita bahwa beliau ketika masih kecil ikut bangun dan shalat malam karena melihat Rasulullah melakukannya.
Perilaku baik ini harus terus dipertahankan hingga menjadi kebiasaan anak. Jangan sampai mempertontonkan perilaku buruk di hadapannya. Bahkan, jangan sampai orang tua membohongi anak. Rasulullah pernah bersabda:
“Barang siapa berkata kepada anak kecil, ‘Kesinilah, ambil’, tapi ia tidak memberikan apa-apa maka dianggap berdusta.” (HR. Ahmad)
KEDUA
memberi nasihat di waktu yang tepat. Prinsip ini pada dasarnya sangat ditunjang oleh prinsip sebelumnya. Nasihat tanpa ada teladan sering kali hanya dianggap angin lalu yang berefek sesaat. Mengenai waktu nasihat yang tepat, ada beberapa momen yang pernah dicontohkan Rasulullah . Salah satunya adalah ketika dalam perjalanan. Ibn Abbasbercerita bahwa dirinya pernah dibonceng Rasulullah menaiki kendaraan. Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah berkata padanya, “Hei, nak! Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu.” Suatu saat, Rasulullah juga pernah memberi nasihat saat makan. Beliau bersabda:
“Mendekatlah, nak! Bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kanan dan mulailah dari makanan yang dekat denganmu.” (HR. At-Tirmidzi)
KETIGA
bersikap adil kepada semua anaknya. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diulang tiga kali:“Adillah kalian terhadap anak-anak kalian.” (HR. ath-Thabarani)
Sikap adil ini sangat berpengaruh pada sikap anak. Bahkan di sebagian hadis, disebutkan bahwa sikap adil orang tua akan membuahkan bakti dan ketaatan anak padanya. Tidak hanya dalam pemberian saja, tapi termasuk pula dalam bentuk kasih sayangnya. Diriwayatkan dari Imam al-Baihaqi dari Anas bahwa ada seorang lelaki yang sedang duduk bersama Rasulullah . Beberapa saat kemudian, salah satu putranya mendatanginya. Ia lalu menciumnya dan mendudukkannya di pangkuannya. Tak lama kemudian, putri kecilnya datang. Si ayah lalu memeluknya dan mendudukkannya di sampingnya. Melihat hal tersebut, Rasulullah lantas bersabda, “Engkau tidak berlaku adil antara keduanya.”
| BACA JUGA : TENTARA HATI
Ketidakadilan yang diterima anak sering kali menimbulkan bibit permusuhan antar saudara, bahkan dengan orang tua. Tapi bersikap adil bukan berarti memperlakukan mereka dengan sama rata. Ada sekian pertimbangan yang menuntut untuk tidak menyamaratakan tapi tetap dianggap adil, seperti perbedaan kebutuhan dan usia anak. Orang tua dianggap tidak adil jika uang jajan anak yang sudah sekolah disamakan dengan anak yang baru bisa berjalan.
KEEMPAT
memenuhi semua hak anak. Anak tidak boleh dikesampingkan hanya karena ia masih kecil dan belum bisa melawan. Hal ini seperti yang dicontohkan Rasulullah ketika hendak memberikan sisa air minumnya ke seseorang yang berada di sebelah kiri beliau. Saat itu, beliau masih minta izin pada anak kecil yang berada di sebelah kanan beliau untuk memberikan haknya. Tentunya, sikap semacam ini yang dilakukan orang dewasa akan menancap dalam benak anak dan secara tidak langsung akan membantunya menuju kedewasaan.
KELIMA
selalu mendoakan baik bagi anak. Prinsip ini mencerminkan sifat tawakal yang seharusnya dimiliki setiap muslim. Sebaliknya, orang tua jangan sampai mendoakan jelek untuk anaknya dalam keadaan apapun. Sekalipun dalam keadaan sangat marah karena ulah si anak. Rasulullah pernah bersabda:
“Jangan kalian mendoakan jelek diri kalian dan anak-anak kalian agar kalian tidak bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa kalian oleh Allah.” (HR. Muslim)
Diceritakan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya’-nya bahwa ada seorang lelaki datang kepada Imam Abdullah bin al-Mubarak untuk mengadukan anaknya yang durhaka. “Apakah engkau pernah jelek?” tanya beliau. Lelaki tersebut menjawab, “Iya.” Beliau lantas berkata, “Engkaulah yang telah merusaknya.”
KEENAM
membantu anak untuk berbakti dan melakukan ketaatan. Contohnya, seperti memperlakukannya dengan lembut, tidak mempersulitnya, dan memaafkan kesalahan-kesalahan kecilnya. Prinsip ini sangat penting sebagai bentuk dukungan terhadap anak. Bahkan, kalau perlu, orang tua dapat memberikan reward atas pencapaian yang telah dilalui anak agar menjadi motivasi baginya untuk menjadi lebih baik. Tentunya, orang tua juga perlu melatihnya menjadi orang yang ikhlas secara bertahap. Rasulullah pernah bersabda:
أَعِينُوا أَوْلَادَكُمْ عَلَى الْبِرِّ، مَنْ شَاءَ اسْتَخْرَجَ الْعُقُوقَ لِوَلَدِهِ
“Bantulah anak-anak kalian untuk berbakti. Siapapun yang mau, ia akan mampu menghilangkan sifat durhaka dari anaknya.” (HR. ath-Thabarani)
KETUJUH
tidak banyak mencela dan menyalahkan anak. Anak yang telah melakukan kesalahan memang perlu diperingati. Namun jika selalu dicela dan disalahkan, alih-alih semakin baik, anak malah semakin nakal. Rasulullah menjadi teladan sempurna dalam hal ini. Anas bin Malik yang menjadi khadam Rasulullah selama sepuluh tahun pernah berkata, “Rasulullah tidak pernah berkata padaku karena perbuatan yang telah kulakukan ‘Mengapa engkau lakukan’,
dan perbuatan yang tidak kulakukan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan’.”Jika semua prinsip ini dapat diterapkan oleh orang tua, tidak berarti anak dipastikan menjadi baik. Banyak faktor yang berpengaruh dalam pembentukan kepribadian anak. Lingkungan sekolah dan masyarakat juga memiliki peran besar. Tapi setidaknya, anak sudah dididik oleh orang tua dengan pendidikan yang benar. Langkah berikutnya, tinggal pemantauan dan pengawasan tanpa mengekang kebebasan anak.




