DZUL HIJJAH 317 H
Musim haji tahun 317 H (930) M menjadi salah satu musim haji yang paling bersejarah. Pasalnya, Masjidil Haram tidak lagi dikunjungi umat Islam dari seluruh dunia karena alasan keamanan, yaitu adanya tragedi Qaramithah.
Pada tahun itu, segerombolan perampok datang ke Makkah untuk berbuat onar. Mereka merupakan kelompok Qaramithah di bawah pimpinan Abu Thahir Sulaiman. Qaramithah sendiri adalah sebuah millenarian dari sekte Syiah Ismailiyah di Bahrain. Untuk memperluas pengaruhnya, mereka menebar propaganda sebagai gerakan perbaikan sosial dan penegakan keadilan atas dasar persamaan. Gerakan Qaramithah berakar pada ide Syiah radikal. Diduga awal pergerakannya diilhami propaganda Syiah Ismailiyah yang hanya mempercayai 7 imam, dan disebarkan ke tengah-tengah orang Badawi Suriah dan gurun-gurun Arab.
Para propagandis di sini disebut Qaramithah karena mereka dipimpin Hamdan bin al-Asy‘as yang dijuluki Qarmath. Pada 277 H (890 M) Qarmath menemukan tempat yang aman sebagai markas. Para pengikutnya memberikan sumbangan sukarela untuk perbendaharaan umum. Ia dibantu oleh iparnya, Abdan, yang bertindak sebagai komandan kedua dalam pergerakan.
Ketika pergerakan telah sampai di Irak dan terdengar buruk di kalangan penduduk dan para penguasa Abbasiyah di Baghdad, pergerakan itu mulai dikenal dengan nama Qaramitah.
Kepemimpinan Qarmat dan Abdan rupanya tergantung pada sejumlah pemimpin yang identitasnya tetap dirahasiakan. Ketika kepemimpinan Qaramitah dipegang oleh Abdan, mereka memecatnya dan menggantinya dengan Zikrawayh ad-Dindani.
Pada 288 H (900 M), Zikrawayh memberi isyarat di Suriah di tengah-tengah Bani Ulays bagi kebangkitan Qaramitah secara umum. Akan tetapi, pergerakan Qaramitah di Mesopotamia Bawah mengakibatkan pertumpahan darah dan Zikrawayh sendiri terbunuh pada tahun 294 H (906 M).
| BACA JUGA: HAJI DAN RISALAH PERADABAN
Di lain sisi, pergerakan Qaramitah di Ahsa, Bahrain, berada di bawah pimpinan Abu Sa’id Hasan bin Bahram al-Janabi, yang semula merupakan wakil dari Hamdan bin Qarmat. Daerah ini sangat terisolasi dan sukar dimasuki, sehingga subur untuk gerakan-gerakan revolusioner.
Penduduknya merupakan campuran dan banyak di antaranya merupakan sisa-sisa pemberontak Zanj yang masih bertahan. Dengan memanfaatkan kekecewaan sosial lokal dan kekacauan yang ditinggalkan oleh pemberontak Zanj, Qaramitah membangun sebuah negara yang kokoh dan makmur. Kekuasaan ini dibangun oleh Abu Sa’id. Selama lebih dari satu abad kemudian Qaramitah Bahrain tetap dikenal sebagai Pengikut Abu Sa’id.
Dinasti Abu Sa’id bertindak sebagai pemimpin di dalam perang dan diplomasi, sedangkan urusan komunitas diatur oleh sebuah badan yang disebut Badan Kaum Tua (‘Iqdaniyyah). Selama berdirinya, kekuasaan dipegang oleh Abu Sa’id (894– 913), Abu al-Qasim Sa’id (913–923), Abu Tahir Sulaiman (923–944), Abu Mansur Ahmad (944–972), dan Abu Ya’kub Yusuf (972–977).
Dibawah pimpinan mereka, Qaramithah menjarah Kufah dari Bahrain, mengganggu jamaah haji, menduduki Oman, dan pada 929 menjarah Mekah serta mencuri Hajar Aswad yang amat dimuliakan hingga menyebabkan Ka’bah tanpa Hajar Aswad dalam waktu 22 mtahun. Mereka membawa Hajar Aswad ke Masjid Al-Dirar di Bahrain oleh pimpinan mereka, Abu Tahir Sulaiman. Dia bermimpi jamaah haji akan beralih ke sana setelah berpindahnya Hajar Aswad, tapi cita-cita konyol itu tak pernah terwujud hingga dia meninggal. Hajar Aswad baru dikembalikan atas permintaan seorang khalifah Fatimiyah, al-Mansur (946–953).
Tidak saja hilangnya batu suci itu, bersamaan dengan peristiwa tersebut terjadi pula pembantaian massal jamaah haji dan penduduk Makkah. Menurut sejarawan Al-Juwaini, batu itu dikembalikan 22 tahun kemudian pada 951 dengan keadaan yang misterius. Dibungkus oleh karung, digantung di Masjid Agung Kufah di Irak, dilengkapi dengan tulisan “Dengan perintah kami mengambil ini, dan dengan perintah kami mengembalikannya.” Dan yang paling mengecewakan, Hajar Aswad telah pecah menjadi tujuh bagian.




