Fenomena Pesulap Merah yang melakukan pembongkaran terhadap tipu muslihat para dukun, membuat para dukun jadi heboh. Sebagai imbasnya, kini banyak dukun yang kehilangan job atau setidaknya tamu mereka menurun drastis. Tak heran jika sebagian perhimpunan para dukun menyeret Si Pesulap Merah ke ranah hukum.
Bagaimanapun apa yang dilakukan Pesulap Merah itu positif saja, karena tujuannya adalah membongkar tipu muslihat dan kepalsuan para dukun. Namun kita perlu memberikan pemahaman yang lebih detail kepada masyarakat tentang siapa, apa dan bagaimana dukun-dukun yang layak dibongkar dan harus dijauhi itu, agar masyarakat tidak terjebak pada kekeliruan yang lain: melakukan generalisasi yang fatal. Nah, di sinilah pentingnya mengetengahkan pandangan Ahlusunah wal-Jamaah mengenai dukun dan dunia perdukunan.
MEMBONGKAR RETORIKA PESULAP MERAH
Secara global, setiap Muslim harus meyakini bahwa segala sesuatu itu berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik maupun buruknya, manfaat maupun mudaratnya. Tidak ada suatu apapun yang terjadi melainkan dengan qadha dan qadar Allah. Tidak ada seorangpun yang bisa mencegah kemanfaatan jika itu sudah dikehendaki oleh Allah, dan tidak ada seorangpun yang bisa menolak kemudaratan jika itu sudah dikehendaki oleh Allah.
Di samping itu, setiap Muslim juga perlu mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan suatu tatanan yang berlaku di alam dunia ini, berupa berbagai jalan, cara, perantara, dan sebab untuk suatu persoalan, di mana hakikatnya semuanya juga bersumber dari Allah juga. Misalnya, rezeki yang berupa uang atau kekayaan, hakikatnya berasal dari Allah, namun Allah menciptakan beragam perantara untuk menjemputnya; lumrahnya tentu dengan bekerja, namun dalam nash-nash agama banyak sekali didapati bahwa rezeki akan lancar jika Anda rajin membaca surah al-Waqi‘ah, wirid ini dan itu, rajin silaturahim dan sebagainya.
Begitupun halnya dengan obat dari penyakit, hakikat dari setiap kesembuhan adalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun Dia menciptakan beragam perantara yang bisa digunakan oleh manusia dalam usaha menyembuhkan penyakit mereka; bisa melalui obat kimia yang diresepkan oleh dokter, bisa dengan menggunakan obat herbal yang berasal dari alam, bisa juga dengan pengobatan alternatif berupa bacaan-bacaan yang warid dari nash maupun yang diresepkan oleh orang yang ahli di bidang ini, karena memang al-Quran adalah mukjizat, tentu tidak ada yang aneh jika sejumlah ayatnya berfaedah menyembuhkan penyakit, sebagaimana diriwayatkan dalam beberapa hadis.
Lalu kenapa kita mendapati sejumlah nash yang menerangkan bahwa rezeki bisa kita tarik dengan membaca ayat ini dan itu atau wirid ini dan itu, penyakit bisa kita sembuhkan dengan membaca ayat ini dan itu, atau wirid ini dan itu? Terkait dengan persoalan ini, sebagian ulama mengatakan bahwa agar umat Islam tahu bahwa rezeki itu datangnyadari Allah sehingga bekerja bukan satu-satunya sarana untuk itu. Begitu pula agar mereka tahu bahwa kesembuhan itu datangnya dari Allah, sehingga obat dari dokter bukan satu-satunya solusi untuk itu.
| BACA JUGA: SIHIR, JEJAK MISTIS DIMENSI KEGELAPAN (I)
Nah, dengan demikian, apa yang dilakukan oleh para peruqyah syar‘iyyah di dalam meruqyah untuk kesembuhan dari suatu penyakit bukanlah termasuk praktik perdukunan yang dilarang dalam agama Islam, sebab hakikatnya ruqyah syar’iyyah mengajak kembali kepada Allah dalam mengusahakan kesembuhan. Terbukti bacaan-bacaan yang dibaca untuk mengusahakan kesembuhan itu adalah rangkaian dari Asma-Asma Allah dan ayat-ayat al-Quran.
Adapun dukun yang dilarang oleh syariat Islam, adalah orang mengaku sakti karena mampu mengetahui peristiwa yang akan terjadi dan mengaku bisa mengetahui hal-hal gaib yang tidak bisa diketahui orang pada umumnya. Seorang dukun biasanya mengklaim bisa memperbantukan jin (khadam) untuk menjalankan aktivitasnya. Tentu, dukun tidak menjadikan Asma-Asma Allah dan ayat-ayat al-Quran sebagai perantara, melainkan menggunakan mantra-mantra yang mengarah pada kekufuran, seperti meminta pada kekuatan alam, pada jin, pemujaan pada setan, dan semacamnya.
Sebagian ulama membagi dukun semacam itu pada tiga kategori. Pertama, orang yang mengaku sakti karena memiliki pembantu (khadam) berupa jin yang bertugas mencuri dengar perbincangan malaikat tentang perkara gaib, semisal suratan takdir manusia. Kedua, orang yang mengaku sakti sebab bisa menginformasikan hal-hal yang tidak bisa dijangkau manusia normal seperti keberadaan barang yang hilang karena dicuri. Ketiga, ahli nujum.
Nah, dukun (kahin) dengan beragam kategorinya itulah yang dilarang oleh syariat Islam, yang kita diperintah untuk menjauhi mereka, serta diharamkan meyakini ramalan mereka. Larangan itu sebagaimana tertera dalam sebuah hadis: “Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal dan bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.” (HR. Muslim). Atau dalam hadis yang lain: “Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal dan dia membenarkan ucapannya, maka dia berarti telah kufur pada al-Quran yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad).
Nah, dengan memahami uraian di atas, diharapkan pembaca bisa membedakan mana dukun yang tidak boleh kita datangi dan harus kita hindari, dan mana peruqyah syar‘iyyah dan pengobatan alternatif yang sesuai syariah yang boleh kita datangi, sehingga kita tidak menggeneralisasi mereka semua ke dalam kategori dukun (kahin). Mengingat, dengan viralnya pembongkaran praktik perdukunan yang dipopulerkan oleh Pesulap Merah belakangan ini, membikin sebagian orang secara gegabah mengkategorikan semua pengobatan alternatif pada kategori dukun atau perdukunan. Padahal faktanya tidak demikian.
Apa yang dilakukan Pesulap Merah dengan membongkar siasat para dukun itu adalah bagus, agar masyarakat tidak tertipu oleh muslihat dukun, dan tidak terjerumus pada kesesatan bahkan kekufuran. Namun masyarakat tidak boleh lantas jadi skeptis lalu mengingkari adanya karamah yang bisa muncul dari orang saleh, seperti kiai dan orang-orang dekat dengan Allah. lalu mengingkari adanya karamah yang bisa muncul dari orang saleh, seperti kiai dan orang-orang dekat dengan Allah.




