Di indonesia, utamanya di tanah Jawa seringkali terdengar sayup-sayup syair berbahasa Jawa pada malam Jumat tentang pulangnya ahli kubur ke rumah familinya masing-masing. Syair tersebut sebagaimana berikut: “Saban malem Jumat ahli kubur moleh nang omah, kanggo njaluk dungo wacan quran najan sak kalimat. Lamun ora dikirimi banjur bali mbrebes mili. Bali nang kuburan mangku tangan tetangisan”.
Artinya, “Tiap malam Jumat, ahli kubur pulang ke rumah, guna meminta dibacakan al-Quran sekalipun satukalimat (ayat). Jika tidak dikirimi (pahala) bacaan al-Quran, mereka akan kembali dalam keadaan sedih dan menangis tersedu-sedu”.
Femomena ini sudah menjadi keyakinan masyarakat, mulai dari masa kolonial sampai masa milenial. Oleh karena itu, sudah menjadi tradisi hampir di seluruh lapisan masyarakat setiap sore Kamis, menjelang maghrib Jumat setelah berziarah di makam keluarganya, mereka menyuruh anak-anaknya agar cepat pulang, masuk ke rumahnya, dan segera mengambil wudu untuk persiapan shalat dan mengaji.
Lumrahnya surah al-Quran yang dibaca pada malam Jumat adalah Surah Yasin, dilengkapi dengan tahlil. Bahkan ada yang rutin mengeluarkan sedekah kepada tokoh masyarakat setempat atau tetangganya, kemudian pahalanya dihadiahkan kepada yang sudah mati. Tradisi semacam ini sudah mengakar kuat bahkan mendarah daging di hati masyarakat dan para ulama dulu sampai sekarang tidak ada yang melarangnya apalagi sampai menstigma sesat, kecuali sebagian ustaz-ustaz muda milenial yang sering nongol di kanal youtube.
Sebenarnya, dari mana asal mula tradisi ini muncul dan berkembang sedemikian rupa? Apakah ada landasan hukumnya dalam Islam, atau jangan-jangan hanya kreasi dari segelintir orang lalu berkembang dan berubah wujud menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun?
Kalau ditelisik lebih jauh, kepercayaan mengenai kunjungan orang yang sudah mati ke rumah keluarganya yang masih hidup bermula dari pernyataan ulama yang tertuang dalam kitab-kitab otoritatif. Rata-rata ulama Syafiiyah berpendapat demikian. Demikian ini menurut para ulama, salah satunya statement dari Imam Ibnul Qayyim dalam kitab ar-Ruh, setiap orang mati memiliki ketergantungan atau keterkaitan dengan kuburan dan jasadnya, lebih-lebih mulai Ashar hari Kamis sampai terbit mentari hari Sabtu. Sebab itulah, kita dianjurkan berziarah pada waktu-waktu itu, agar keluarga yang mendahului kita menyaksikan kita datang ke kuburannya.
Sehubungan dengan hal ini, Imam al-Qurthubi menegaskan seperti yang dikutip oleh Imam ar-Ramli dalam Fatawa-nya:
قال القرطبي وقد قيل إنها تزور قبورها كل جمعة على الدوام وقد ورد أنها تأتي قبورها ودور أهلها في وقت يريده الله لها ؛ لأنها مأذون لها في التصرف ، وإنها تبصر من هناك سواء أتت إلى القبور أم الدور
“Al-Qurthubi berkata, ‘Arwah-arwah itu senantiasa mengunjungi kuburannya setiap hari Jumat. Ada hadis yang menjelaskan bahwa arwah-arwah itu mendatangi kuburnya dan rumah keluarga mereka pada waktu yang dikehendaki Allah. Hal itu karena mereka telah diberi izin oleh Allah untuk melakukannya. Arwah-arwah itu dapat melihat dari sana baik mereka datang ke kuburnya atau ke rumah keluarganya”.
|BACA JUGA: AJARAN ISLAM ITU ‘OPLOSAN’?
Pendapat senada juga disampaikan oleh Imam al-Yafii, sebagaimana kutipan berikut:
وقد قال اليافعي مذهب أهل السنة أن أرواح الموتى ترد في بعض الأوقات من عليين أو من سجين إلى أجسادهم في قبورهم عند إرادة الله تعالى وخصوصا ليلة الجمعة ويجلسون ويتحدثون
“Al-Yafii berkata: Ulama Ahlusunnah menegaskan bahwa ruh orang mati, pada waktu-waktu tertentu dikembalikan ke jasad mereka, baik yang dari surga maupun dari neraka, atas kehendak Allah, khususnya pada malam Jumat. Mereka duduk-duduk dan berbicara”.
Beberapa pernyataan ini sudah cukup dijadikan acuan untuk melegitimasi kepercayaan masyarakat sekarang mengenai berkunjungnya orang yang telah mati kepada keluarganya yang masih hidup. Tentu pendapat para ulama itu tidak berangkat dari ruang kosong dan tahayul saja, sebab sebelum para ahli Fikih terkemuka di atas berpendapat, seorang ulama ahli Hadis sekaligus tasawuf, Imam Ali bin Ahmad bin Yusuf al-Hakkari (w. 468 H.) meriwayatkan sebuah hadis yang menunjukkan fenomena berkunjungnya arwah ke rumah keluarganya dalam kitabnya, Hadiyatul-Ahyâ’ ilal Amwât wa Mâ Yashilu Ilaihim:
عن أبي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اهدوا لموتاكم، قلنا: وما نهدي يا رسول الله الموتى؟ قال: (الصدقة والدعاء) ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن أرواح المؤمنين يأتون كل جمعة إلى سماء الدنيا فيقفون بحذاء دورهم وبيوتهم فينادي كل واحد منهم بصوت حزين: يا أهلي وولدي وأهل بيتي وقراباتي، اعطفوا علينا بشيء، رحمكم الله، واذكرونا ولا تنسونا، وارحموا غربتنا، وقلة حيلتنا، وما نحن فيه، فإنا قد بقينا في سحيق وثيق، وغم طويل، ووهن شديد، فارحمونا رحمكم الله، ولا تبخلوا علينا بدعاء أو صدقة أو تسبيح، لعل الله يرحنا قبل أن تكونوا أمثالنا
“Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: ‘Berilah hadiah untuk keluargamu yang telah meninggal.’ Kemudian kami (para sahabat) bertanya: ‘Apa yang dapat kami hadiahkan untuk mereka yang meninggal wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab: ‘Dengan bersedekah dan berdoa.’ Kemudian Rasulullah bersabda:’Sesungguhnya ruh-ruh orang mukmindatang ke langit dunia setiap malam Jumat, mereka berdiri di depan rumah-rumah mereka, lalu memanggil dengan suara yang penuh iba: ‘Wahai keluargaku, anak-anakku, kerabat-kerabatku, kasihanilah kami dengan sesuatu, niscaya Allah akan menyayangi kalian. Ingatlah pada kami dan janganlah kami lupakan. Kasihanilah kami dalam keterasingan ini, ketidakberdayaan kami dan segala sesuatu yang kami berada di dalamnya. Sesungguhnya kami berada di tempat yang jauh dan terpencil dengan kepiluan yang mendalam. Sayangilah kami, niscaya Allah akan menyayangi kalian. Janganlah kalian kikir kepada kami dengan sekadar berdoa, bersedekah ataupun bertasbih. Semoga Allah memberikan rasa nyaman kepada kami sebelum kalian sama seperti kami.”
Dengan demikian, tidak ada celah untuk menyalahkan keyakinan masyarakat selama ini, dan syair yang ditembangkan di musalla-musalla dan masjid tiap malam Jumat, ternyata ada payung hukumnya, bukan cerita rakyat, mitos, apalagi takhayul. Oleh sebab itu, perbanyaklah berdoa, mengaji, dan bersedekah pada malam Jumat dan esok harinya, guna menyambut kedatangan pendahulu kita yang berada di alam baka.



