Hingga saat ini, kekerasan di dunia pendidikan masih sering terjadi, kendati harus diakui bahwa kekerasan itu tak melulu berarti kekerasan oleh guru terhadap murid, bahkan kadang dan seringkali justru guru yang menjadi korbannya.
Namun sebenarnya apakah hal mendasar yang melandasi terjadinya kekerasan di dunia pendidikan, baik yang dilakukan guru terhadap murid ataupun oleh murid terhadap gurunya? Sajian berikut barangkali bisa dijadikan sebagai salah satu perspektif jawaban.
PENDIDIKAN TANPA BELAS KASIHAN
(KERANCUAN PERSPEKTIF DAN KESALAHAN PIJAKAN)
Hingga saat ini, kekerasan masih saja menjadi momok yang menghantui dunia pendidikan kita. Tentu, ini tidak selalu berarti kekerasan dalam pendidikan adalah tindakan militer yang dilakukan seorang guru terhadap murid. Justru yang lebih marak terjadi adalah kekerasan yang dilakukan murid terhadap sesamanya,atau murid terhadap gurunya, bahkan wali murid terhadap guru dari anaknya. Namun sialnya, semua aksi kekerasan itu tampaknya dibaca sebagai “kekerasan di dunia pendidikan”.
Kesan sedemikian muncul karena persepsi masyarakat terhadap dunia pendidikan sudah timpang dan tidak proporsional. Di samping itu, pendidikan dewasa ini juga sudah banyak tercemari oleh cara pandang filsafat humanisme yang berhembus dari Barat. Bagaimanapun, dua faktor itu telah menimpakan kerancuan terhadap dunia pendidikan.
Pertama, dikatakan bahwa masyarakat memandang dunia pendidikan secara timpang dan tidak proporsional, adalah karena mereka memosisikan lembaga-lembaga pendidikan tak ubahnya dealer, yang menerima produk dari pabrik, dan mereka harus menjaganya dengan baik; harus tetap mulus, tanpa ada lecet dan kerusakan apapun, hingga nantinya produk itu sampai pada tuannya.
Mereka lupa bahwa sebetulnya lembaga pendidikan itu juga berfungsi serupa bengkel, di mana inputnya memang produk-produk yang bermasalah dengan beragam levelnya, mulai dari kerusakan ringan hingga kerusakan berat, yang diharapkan setelah diperbaiki di bengkel lembaga pendidikan, produk-produk yang mengalami kerusakan tadi bisa diperbaikii menjadi baik kembali, bahkan lebih baik daripada kondisi sebelumnya.
Nah, dalam proses memperbaiki produk rusak tersebut, tentu tidak relevan jika kita mengharapkan tidak adanya kontak dan gesekan sama sekali; tidak adanya tindakan dan hukuman yang tidak disukai peserta didik, termasuk di dalamnya adalah pukulan, sebab semua itu sebenarnya adalah bagian yang integral dari suatu proses perbaikan (pendidikan).
Kedua, disebut bahwa pandangan masyarakat terhadap pendidikan telah tercemari oleh cara pandang filsafat humanisme yang berhembus dari Barat, karena mereka memaksa pendidikan harus berlangsung secara sempurna dalam melayani manusia (peserta didik), atau dalam bahasa yang agak kasar: ‘mendewakan manusia’.
| BACA JUGA: PENDIDIKAN ANAK DALAM SUDUT PANDANG ULAMA
Dalam perspektif pendidikan yang seperti itu, jangankan ada guru yang membentak atau apalagi memukul muridnya, mengatakan “jangan” saja tidak boleh, atau setidaknya tidak dianjurkan, sebagaimana hal ini dengan mudah kita dapati dalam panduan-panduan pendidikan modern. Di sini, peserta didik diperlakukan secara tidak proporsional, bahkan seperti ‘dikultuskan’, di mana dia dianggap tidak pernah salah, dan kesalahan selalu dari pihak guru.
Bagaimanapun, pandangan seperti ini adalah ironis dan absurd. Bagaimana mungkin seorang guru bisa memperbaiki keadaan murid jika sejak awal dikatakan bahwa murid itu sempurna dan tidak pernah salah sama sekali? Bahkan jika si murid itu sudah sempurna, maka untuk apa mereka dimasukkan ke dalam dunia pendidikan?
Ringkasnya, dua cara pandang di atas sebenarnya tidak proporsional, over, dan bisa menjerumuskan proses pendidikan ke jalan yang tidak benar. Pendidikan dalam Islam adalah pendidikan yang ideal, tegak di atas pondasi yang kokoh dan perspektif yang adil dan proporsional; pendidikan Islam tidak memihak sebelah pihak, baik murid maupun guru. Dalam pendidikan Islam, masing-masing murid dan guru berdiri di atas pondasi dan tujuan yang sama, yaitu belajar dan mengajar karena Allah, yakni menjalankan perintah Allah dan berusaha menggapai ridha-Nya.
Di samping itu, guru dan murid berjalan di atas rel yang berbeda, guna menuju tujuan yang sama tadi. Guru berjalan di atas perspektif bahwa dialah yang berkewajiban menyampaikan ilmu, dan dialah yang butuh pada murid, sebab murid adalah objek untuk menunaikan kewajibannya. Tanpa keberadaan murid, guru tidak bisa menunaikan kewajibannya, dan tentunya tidak bisa menggapai apa yang dijanjikan oleh Allah. Karena itu guru akan senantiasa menyayangi murid, persis seperti dia menyayangi anaknya sendiri.
Dari sisi yang berbeda, murid berjalan di atas perspektif bahwa dia sedang menunaikan kewajibannya untuk mencari ilmu, karena itu dia butuh pada guru, sebab tanpa guru dia tidak bisa menjalankan kewajibannya. Dia harus menghormati dan memuliakan guru, serta mentaati segala titahnya, sebab hanya dengan itu dia bisa menjalankan kewajibannya dan menggapai cita-citanya.
Nah, jika guru dan murid – di samping itu juga wali murid – memegang pakem Islami tersebut dalam keterlibatanmereka di dalam proses pendidikan, maka tentunya jika guru memberikan tindakan kepada murid, tindakan itu tidak akan keluar dari batasan yang ditoleransi syariat Islam, misalnya memukul dengan wajar, di area yang tidak berbahaya, dan tidak sampai membekas apalagi melukai: sebuah pukulan simbolis, sekadar menggambarkan keseriusan guru dalam menginginkan kebaikan pada si murid.
Sebaliknya, murid tidak akan mempersoalkan tindakan apapun yang diberikan oleh guru, sebab sejak awal dia telah sadar bahwa gurunya hanya menginginkan yang terbaik untuknya, dan begitu pula wali murid tidak akan melakukan protes apapun terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh guru terhadap anaknya, karena sejak awal dia telah memasrahkan secara total masalah pendidikan anak kepada sang guru. Wali murid telah yakin dengan kemampuan guru dan karena itu dia tidak akan ikut campur atau sok tahu.
Sebetulnya, teori perspektif guru dan murid (juga wali murid) dalam pendidikan sebagaimana dikemukakan barusan, telah berlangsung di dalam dunia pendidikan kita sejak dahulu kala, dan telah menghasilkan tokoh-tokoh yang luar biasa, berupa para ulama, para pejuang, pahlawan, dan para pendiri bangsa ini. Hanya saja, rapuhnya landasan pijak dan kekeliruan perspektif yang terjadi belakangan ini membuat jalannya pendidikan kita seperti kehilangan orientasi dan salah jalan.




