Syekh Abu Ya’za, terlalu unik untuk dilewatkan sebagai labuhan spiritual pada waktu itu. Termasuk bagi Syekh Abu Madyan muda.
Masyarakat awam Maroko lebih mengenalnya dengan sebutan Maula Bu’azah (Sunan Bu’azah). Polesan tangan beliaulah yang membuat Abu Madyan benar-benar menyelami dunia tasawuf dalam tahapan-tahapan suluk yang sangat empiris. Abu Madyan sebenarnya telah mendalami tasawuf sejak bertemu dengan Ibnu Harazim. Selanjutnya melalui Abu Abdillah ad-Daqqaq. Setelah itu, barulah beliau datang kepada Abu Ya’za.
Ada yang menduga bahwa Abu Madyan sudah mendapatkan bisikan untuk berguru kepada Abu Ya’za semenjak masih yatim, semenjak masih menjadi penggembala bersama saudara-saudaranya. Bisikan itulah yang katanya terus mendorong Abu Madyan mencari guru yang dimaksud, hingga tibalah beliau di Fez.
Abu Ya’za adalah sufi terbesar di wilayah Afrika Barat di masanya. Berusia sangat panjang, nyaris 130 Irojan. Gunung Irojan termasuk dataran terendah dari deretan Pegunungan Atlas yang membentang sepanjang 1500 mil, dari Maroko hingga ke Tunisia dan Aljazair. Puncak tertingginya disebut gunung Toubkal yang terletak di selatan Marakesh.
Sepanjang hidupnya, Abu Ya’za memang dikenal menghabiskan har-harinya di hutan, gunung dan tepi-tepi pantai. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya sejak muda. Menurut hikayat dari Abdul Aziz al-Haskuri, sebelum menjadi sufi besar, Abu Ya’zatelah menjalani tirakat siyâhah (berkelana ke tempat-tempat sepi dan menjauhi khalayak ramai). Hal itu beliau lakukan selama 20 tahun di daerah pegunungan. Selanjutnya, beliau turun gunung, dan berkelana di wilayah-wilayah pesisir selama 18 tahun.
Karena itulah, beliau dikenal sebagai wali yang sangat unik. Akrab dengan dunia flora dan dunia fauna. Berteman dengan singa, ular, burung-burung dan hewan liar. Menurut penuturan Imam asy-Sya’rani dalam at-Thabaqât al-Kubrâ,Abu Madyan pernah mendatangi Abu Ya’za di sebuah padang pasir. Waktu itu, Abu Ya’za dikelilingi oleh banyak singa, burung-burung dan berbagai binatang liar. Abu Ya’za berdialog dengan mereka.Dan mereka mematuhi apapun perintah Abu Ya’za.
Beliau juga makan dari tumbuh-tumbuhan yang ada di sekelilingnya. Daun dan bunga kembang Jepun (Daflâ) dikenal sebagai makanan utamanya ketika berada di gunung. Adapun ketika turun gunung beliau seringkali memakan tumbuh-tumbuhan yang ada di beberapa tempat sampah.
Mula-mula, saat muda, beliau meninggalkan orang tuanya untuk hidup mandiri. Sempat bekerja, dengan upah dua potong roti. Satu potong dimakannnya sendiri. Satunya lagi, beliau sedekahkan kepada orang yang tekun membaca al-Quran di masjid. Lama kelamaan, orang yang membaca al-Quran semakin banyak, maka Abu Ya’za pun memberikan semua roti upahnya kepada mereka. Beliau mencoba makan daun-daunan. Ternyata cukup untuk menyambung hidup!
Semenjak itulah, beliau memutuskan untuk melakukan siyâhah. Berkelana tanpa henti, berguru kepada para sufi. Konon, beliau pernah menyatakan telah berguru kepada 40 orang wali. Selamaitu, beliau hanya berguru tentang suluk spiritual. Mungkin karena itulah, Abu Ya’za buta huruf. Pada masa mudanya memang tidak sempat belajar membaca dan menulis. Konon, pada saat pergi meninggalkan orang tuanya, Abu Ya’za muda sempat ditangkap oleh orang-orang Nasrani dan dijadikan sebagai pekerja kasar oleh mereka, sehingga tidak sempat belajar baca tulis.
| BACA JUGA: ASHTINAME OF MOHAMED DAN KONTROVERSINYA (1\2)
Setelah pengembaraan spiritualnya selama hampir 40 tahun, barulah Abu Ya’za berumah tangga. Beliau tetap memilih menjauh dari khalayak ramai. Memilih hidup di pegunungan. Tepatnya di gunung Irojan, gunung dengan ketinggian kurang lebih seribu meter. Dulu, gunung ini termasuk wilayah Thaghia. Tapi, sekarang, gunung ini sudah masuk ke dalam propinsi Khenifra, Maroko.
Ke gunung inilah Abu Madyan datang untuk berguru kepada Abu Ya’za. Jaraknya sekitar seratus mil di selatan Fez. Di hari pertama kedatangannya, Abu Madyan mendapat pengalaman yang amat pahit.
Waktu itu, Abu Madyan datang dari Fez bersama teman-temannya yang lain. Semuanya memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi setelah seringkali mendengar berbagai kehebatan dan karamah dari Abu Ya’za. Tibalah mereka ke pegunungan Irojan. Abu Ya’za menyambut mereka dengan sangat ramah, kecuali untuk Abu Madyan. Beliau membentaknya dengan kasar.
Beliau juga menyuguhi mereka dengan berbagai jamuan makan, kecuali untuk Abu Madyan. Beliau mengusirnya dan melarangnya ikut makan. Tentu Abu Madyan merasa sangat malu, merasa sangat nestapa. Namun demikian, Abu Madyan tetap bertahan, tekadnya untuk berguru kepada Abu Ya’za tak goyah sedikitpun, meskipun perlakuan keras dan kasar itu terus berlangsung selama berhari-hari.
Pada hari ketiga, Abu Madyan nyaris pingsan. Tak ada sesuap makananpun yang mengisi perutnya selama berada di pegunungan Irojan. Syahdan, tepatpada saat Syekh Abu Ya’za bangkit dari duduknya, Abu Madyan rebah di hadapan beliau, melumuri wajahnya dengan debu. Ketika Abu Madyan mendongakkan kepalanya, betapa terkejut, ia tak bisa melihat apa-apa lagi. Kedua matanya benar-benar buta.
Abu Ya’za acuh tak acuh. Beliau membiarkan dan meninggalkannya begitu saja.
Semalam suntuk Abu Madyan menangis tiada henti. Pagi harinya, Abu Ya’za memanggilnya. “Ke sini kau, hei orang Andalus!”
Abu Madyan segera mendekat.
“Ya Syekh, aku tak bisa melihat apa-apa lagi.”
Abu Ya’za mengusap kedua mata Abu Madyan dengan tangannya. Penglihatannya langsung kembali seperti semula. Terang dan jelas!
Selanjutnya, Abu Ya’za mengusap dada Abu Madyan, seraya berkata kepada seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu, “Pemuda ini akan begini, akan begitu…”
Setelah peristiwa menegangkan itu, Abu Madyan pamit pulang ke Fez. Abu Ya’za berpesan: “Di jalan nanti, kau akan dihadang oleh seekor singa. Jangan takut. Katakan saja: Dengan kemuliaan Abu Ya’za, pergilah dariku! Selanjutnya, kau akan dihadang oleh tiga orang pencuri di bawah sebuah pohon. Berilah mereka wejangan. Dua orang akan insaf. Sedangkan yang satunya lagi, akan dipenggal. Jasadnya akan disalib di pohon itu.”
Semua yang dinyatakan Abu Ya’za benar-benar terjadi. Persis seperti yang dikatakannya. Tentang singa, juga tentang tiga orang pencuri itu. “Ketika aku keluar dari lorong lembah, aku dihadang tiga orang. Aku menasehati mereka. Ucapanku berhasil menyadarkan dua orang di antara mereka. Keduanya pergi. Sedangkan yang satu orang kembali lagi ke pohon (tempat penghadangan). Akhirnya, ia ditangkap oleh pemerintah. Dipenggal dan disalib di pohon itu.”
Demikian, seperti dituturkan oleh Ibnul-Qunfudz di dalam kitab Unsul-Faqîr wa Izzul-Haqîr.




