Interaksi manusia dengan diri pribadi, interaksinya dengan alam serta interaksi dengan Tuhan telah diatur sesuai tatanan yang paripurna. Tatanan itu kemudian dikenal dengan sunatullâh. Dan memahami tatanan atau sunatullâh ini akan memberikan jawaban atas seabrek pertanyaan yang menggelayut dalam pikiran. Pertanyaan semisal mengapa Allah ‘memuliakan’ non-Muslim? Mengapa umat Islam justru terhina?, Mengapa cobaan dan ujian seolah tiada henti menghampiri? Mengapa doa tidak terkabul? Dan seterusnya adalah tanda tanya yang akan kita temui jawabnya ketika kita memahami apa dan bagaimana sunatullâh. Buku ini akan membawa pembaca pada pemahaman utuh mengeni hal itu serta meminimalisir kerancuan salah faham yang dapat mengantar pada faham yang salah.

Tentang mengapa Allah membebani umat islam dengan cobaan seperti yang termaktub dalam QS. Al-Baqarah (02):155 sejatinya perlu ditelaah bukan hanya dari sisi sebab-musabab belaka. Jauh lebih penting adalah memahami apa hikmah di balik rentetan musibah yang datang silih berganti. Manusia adalah hamba bagi Tuhannya. Makna penghambaan ini menjadi nyata ketika manusi mampu melakukan dua hal. Bersyukur saat diberi nikmat dan bersabar di kala tertimpa musibah. Syukur adalah upaya agar nikmat yang telah Allah berikan diberdayakan untuk hal-hal yang mendatangkan rida. Sabar adalah memroklamirkan keridhoan itu dengan tidak marah dan meluapkan emosi di kala tertimpa musibah. (hal. 14)

Tentang Allah akan membalas setiap kejelekan yang diperbuat manusia seperti yang termaktub dalam QS. An-Nisa’ (04):123. Awalnya para shahabat pesimis sesaat setelah ayat ini turun. Mengapa tidak? Kebanyakan dari mereka mengira bahwa satu kejelekan yang dikerjakan akan mendatangkan balasan terus menerus hingga hari kiamat. Abu Bakar lantas memediasi keresahan para shahabat dengan menyampaikan aspirasi di hadaan Rasulullah. Abu Bakar bertanya, “Bagaimana kemenangan bisa tercapai setelah turunnya ayat ini wahai Rasulullah? Apakah benar setiap kita akan dibalas lantaran kejelekan yang kita perbuat?”. Sejenak Rasulullah tersenyum lalu berkata, “Wahai Abu Bakar tidakkah merasakan sakit? Bukankah kamu pernah bersedih? Dan bukankah juga pernah merasakan ketidak enakan? Itulah yang dimaksud balasan.”

Hadis ini memberi pemahaman bahwa sejatinya sudah menjadi sunatullâh jika Allah memberikan balasan atas kejelekan yang manusia lakukan. Dan sebagian balasan itu kadang diberikan dunia tak lain sebagai wujud belas kasih dari-Nya agar kelak di akhirat hamba bisa menemui Allah dalam keadaan suci dan terbebas dari jeratan apapun. Dan penjelasan inilah pada gilirannya mampu meredam keresahan Abu Bakar beserta shahabat yang lain setelah turunnya ayat di atas. (hal. 22)

Selanjutnya Allah membalas orang yang berbuat adil meski ia seorang non Muslim, dan Allah membalas kezaliman yang dilakukan siapapun bahkan oleh seorang Muslim sekalipun. Perlu digaris bawahi yang dimaksud balasan di sini adalah balasan di dunia. Adapun tetang kecintaan Allah pada keadilan itu sangat banyak ditemukan dalilnya dalam al-Quran. Secara eksplisit ketika dalam lebih satu ayat Allah menegaskan ketidakcintaannya kepada kezaliman, seperti tertulis dua kali dalam surat Âli Imrân, secara tidak langsung berarti Allah mencintai keadilan. Jika kita melihat orang-orang Eropa maju dalam setiap lini kehidupan, hal itu adalah balasan dari Allah karena melihat sisi kemanusiaan, keadilan sosial yang mereka terapkan tanpa ada sangkut paut dengan ideologi dan agama seseorang.

Begitu pula kita melihat peradaban Eropa yang demikian makmur, tatanan kota yang megah serta kemajuan teknologi mutakhir adalah bentuk keadilan dari Allah. Bahwa mereka berusaha dengan gigih, totalitas serta dedikasi yang tinggi sehingga mereka berhasil. Keberhasilan ini juga bagian dari tata aturan Allah seperti yang telah dijanjikan-Nya. Tak ada kesuksesan yang mengkhianati usaha. Dan aturan ini berlaku tanpa ada keterkaitan dengan agama dan ideologi seseorang. Barang siapa gigih dalam bekerja dan sepenuhnya dalam usaha pasti akan mencapai apa yang diingininya.