Setelah cukup puas menjelajahi destinasi Kesultanan Banten yang mampu menjadikan bangsa ini sejahtera dengan gemah ripah loh jinawi. Walau kini hanya meninggalkan nostalgia di atas reruntuhan puing-puing Kejayaan Keraton Surosuwan akibat politik devide et impera yang dihembuskan oleh Belanda. Pada edisi kali ini mari sejenak kita beranjak dari Banten Lama Kabupaten Serang menuju Kabupaten Pandeglang dengan berbagai destinasi religi dengan segala histori yang telah ditorehkan oleh putra-putra terbaik Pandeglang.

Memasuki kota Pandeglang kami menuju pesisir Pantai Caringin yang terletak di Kecamatan Lambuan. Tapi sayangnya kami sampai di kawasan pada pukul 22.10 Wib. Maka hanya semburat ngebruul yang tergambar di retina mata kami, mengingat minimnya pencahayaan dan keindahan pesisir pantai tak tertangkap jelas. Hanya debur ombak begitu besar yang menandakan komplek kawasan pemakaman Syekh Asnawi bin Abdurahman ini bersebelahan dengan laut lepas. Sehingga kami pun bergegas menuju pusara tempat disemayamkan salah satu ulama Banten yang tersohor dengan perjuangannya dalam mengusir penjajah dari bangsa ini.

Mungkin nama beliau tak sefamiliar Syekh Nawawi al-Bantani di pendengaran dengan berbagai investasi berupa karya tulis; kitab, yang bisa dikaji hingga kini. Namun sejarah telah membuktikan bahwa berdirinya Masjid Caringin yang masih kokoh sampai sekarang adalah Candradimuka perjuangan dakwa Syekh Asnawi bin Syekh Abdurahman.

Syekh Asnawi Caringin
  • Facebook
  • Twitter
  • Gmail
Syekh Asnawi Caringin

Beliau terlahir dengan nama Tubagus Muhammad Asnawi di kampung Caringin, Lambuan, Banten, sekitar tahun 1850 M. Dari pasangan Syekh Abdurahman bin Syekh Afifuddin dan Ratu Sabi’ah (Robiah). Berasal dari keluarga sangat religius tekun dalam beribadah. Bahkan disebutkan beliau merupakan keturunan dari Sultan Agung Mataram, Raden Fatah.

Dalam usia yang sangat belia, 9 tahun, Syekh Asnawi kecil sudah dikirim ayahnya untuk menimba ilmu ke tanah suci Mekah. Di sana beliau bertemu dengan Syekh Nawawi al-Bantani, sang maha guru di Masjidil Haram. Kedekatan beliau dengan sang guru, bukanlah atas dasar dilahirkan dari tumpah tanah air yang sama. Namun kecerdasan Syekh Asnawi yang begitu memukau membuat Syekh Nawawi tak jemu mengajarkan banyak hal kepadanya. Kecerdasannya terbukti pada usia 9 tahun, beliau sudah menghafal al-Quran atas bimbingan Ayahandanya. Pun pula beliau banyak belajar kepada para ulama Nusantara yang mengajar di Makkah. Di antaranya adalah KH. Abdul Karim asal Tanara dan Syekh Ahmad Khatib asy-Syambasi.

Enam tahun lamanya beliau belajar di Tanah Suci Arab dan dirasa telah mumpuni untuk menjadi duta Islam sebagai penyebar agama. Pulanglah Syekh Asnawi untuk berdakwa di kampung halamannya. Ia mulai mengajar dan mengundang banyak pemuda untuk berguru kepadanya. Tersiarlah namaW Syekh Asnawi sebagai ulama tersohor yang pandai dalam berdakwah.

Namun sebagai ulama yang hidup pada masa kolonialisme, sudahlah tentu beliau tak hanya sibuk mengajarkan agama demi menciptakan moral yang berperikemanusiaan. Beliau turut andil mengangkat senjata, mengobarkan semangat pemuda untuk melawan penjajah kolonial Belanda. Apalagi saat itu seluruh wilayah Banten telah dikuasai penjajah. Beruntung Syekh Asnawi juga memiliki ilmu bela diri, sehingga banyak para jawara-jawara hebat dan sakti yang bisa ditaklukan oleh beliau dan kemudian menjadi santrinya.

Usaha yang dilakukan oleh Syekh Asnawi betul-betul gigih. Belasan tahun ia lakukan tanpa pamrih apapun. Membuat simpatik ulama Banten dan pejuang Islam saat itu. Bergabunglah mereka bersama Syekh Asnawi untuk memberontak dengan tekad mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini.

Walhasil, insiden ini mementik amarah Pemerintah Belanda sehingga beliau ditangkap dan ditahan oleh penjajah di Tanah Abang. Bahkan diasingkan ke Cianjur dengan hukuman lebih dari setahun atas tuduhan melakukan pemberontakan. Namun, tekadnya tetap bulat, selama ditahan dan diasingkan, Syekh Asnawi tetap aktif menyampaikan dakwah dengan mengajarkan syariat Islam kepada masyarakat sekitar di manapun ia berada.

Syekh Asnawi Caringin
  • Facebook
  • Twitter
  • Gmail
Syekh Asnawi Caringin

Akhirnya, Syekh Asnawi kembali ke kampungnya. Beliau semakin giat mensyiarkan Islam dengan mendirikan sebuah Madrasah Masyarikul Anwar dan masjid di Caringin pada 1884. Masjid tersebut bernama Masjid Caringin yang hingga kini masih berdiri tegak. Karena Syekh Asnawi sangat terkenal pamornya sebagai ulama besar dari Kampung Caringin, ia pun dikenal pula dengan nama Syekh Asnawi Caringin. Masyarakat memaknai Caringin sebagai kata lain dari beringin. Selain karena kampung asal beliau dari Caringin. Nama Caringin juga dijadikan mitos –oleh  masyarakat setempat– yang sangat pas untuk mengumpamakan sosok Syekh Asnawi karena telah mengayomi masyarakat layaknya teduhnya pohon beringin yang mampu melindungi orang yang berteduh di bawahnya dari derasnya guyuran hujan dan teriknya panas mentari.

Baca juga; Masjid Agung Jamik Malang, Perkaya Masyarakat dengan Berbagai Fasilitas Keagamaan

Pada 1937 M. beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Namun kisah perjuangannya tak lapuk dimakan masa. Terbukti saat kami menginjakkan kaki pada beberapa bulan yang lalu sampai larut malam, makam beliau tetap ramai dengan penziarah yang datang dari segala penjuru. Hanya saja akibat kurangnya perhatian dari berbagai pihak sehingga kawasan wisata religi yang berbatasan langsung dengan laut lepas terkesan kumuh. Bahkan sudah seharusnya di bagian pesisir pantai untuk dibangun pelingsingan mengingat debur ombak terus mengikis bagian daratan sehingga dikhawatirkan menggerus bangunan makam.

Muh. Kurdi Arifin/ Supervisor Naskah Sidogiri Penerbit