(REFLEKSI BUKU ISLAM 1.O)
God Is Dead (Tuhan telah mati). Salah satu ungkapan yang sangat khas bagi seorang Friedrich Nietzsche. Salah satu filsuf Jerman yang mengusung dan membela filsafat perspektivisme secara mati-matian. Karena ungkapan itulah kemudian ia dijuluki sebagai ‘sang pembunuh Tuhan’. Apa yang sebenarnya membuat Nietzsche berpikir sedemikian? Jawabannya sederhana: karena tidak ada status keberhambaan dalam hatinya! Ia berfikir bahwa otak merupakan pangkat tertinggi dalam menjalankan kehidupan dunia. Akhirnya ia kemudian berani mengotak-atik urusan agama. Muncullah kemudian pemikiran seperti; Tuhan telah mati, agama tidak relevan, kitab suci buatan manusia, dan ide-ide liar lainnya.
Sejarah Singkat
Dalam bukunya, Ust. Achyat Ahmad mengutip buku A History of God (Sejarah Tuhan) karya Karen Amstrong tentang perspektif Barat terhadap Tuhan dan agama. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa awal mulanya, manusia menciptakan satu Tuhan dengan harapan Tuhan tersebut akan menyelesaikan segala persoalan mereka. Lambat-laun, Tuhan itu memudar dari kesadaran umatnya. Dia telah menjadi begitu jauh sehingga mereka memutuskan bahwa mereka tidak lagi menginginkannya. Pada akhirnya, dia dikatakan telah menghilang.
Dari sini kita bisa sedikit memahami perspektif Barat tentang Tuhan. Keyakinan mereka bahwa Tuhan merupakan salah satu aset yang pernah nenek moyang mereka buat. Pada akhirnya mereka tidak memiliki rasa ‘sungkan’ sama sekali dengan yang namanya Tuhan, karena menurut mereka Tuhan adalah entitas abstrak yang hanya diciptakan oleh imajinasi manusia.
Ketika mereka merasa bahwa kesakralan Tuhan saja mudah untuk diotak-atik, maka mereka mulai berfikir ‘apalagi agama dan kitab suci’? Imbasnya, terjadilah pemahaman bahwa agama sudah tidak relevan, beragama tidak perlu, pencemaran kitab suci dengan mengurangi atau menambahi, atau yang lainnya. Akhirnya kesakralan agama dan yang berkaitan dengannya begitu rendah karena diyakini sebagai ciptaan manusia.
| BACA JUGA: TEMULAWAK, MANFAAT DAN CARA MERAMUNYA
Pentingnya Keimanan dan Status Kehambaan
Apa yang terjadi dengan Barat dengan hilangnya kesakralan agama, adalah bukti nyata bahwa status keberhambaan sangatlah penting. Maka adanya kita memiliki keimanan dan rasa bahwa kita adalah seorang hamba dari Tuhan Yang Maha Esa, adalah sebuah anugerah yang perlu disyukuri. Dalam surah Ali ‘Imran ayat 16 Allah berfirman (artinya): “(Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Dari ayat ini kita bisa memahami dua pokok sekaligus; pentingnya status keimanan dan kesadaran status keberhambaan. Di mana iman menjadi pondasi awal dalam kehidupan. Setelah keimanan tertanam kuat, dan keyakinan bahwa dirinya ada yang menciptakan, barulah akan hidup dalam dirinya status keberhambaan. Setelah dia menyadari bahwa dia hanyalah seorang hamba, barulah dia akan menyadari tujuan daripada hamba sendiri; yaitu menyembah dan mengabdi sepenuhnya kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56 (artinya): “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
Dekat dengan Ulama
Sebagai orang awam, tentu keimanan kita sering goyah dan sering naik-turun. Maka salah satu alternatif kita untuk menjaga keimanan agar tetap kuat, yaitu dengan sering mujalasah dengan para ulama. Karena mereka adalah hamba-hamba Allah yang lebih mengerti dan memahami tentang keimanan. Syekh Nawawi al-Bantani di dalam kitabnya, Nashaihul-Ibad, menulis salah satu hadis terkait hal tersebut, bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Hendaklah kalian duduk bersama para ulama (orang-orang yang berilmu) atau orang yang mengamalkan ilmunya, dan mendengarkan perkataan para hukama (ahli hikmah), karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah yaitu cahaya ilmu yang bermanfaat sebagaimana Ia menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan”.
Di riwayat yang lain, Nabi bersabda, “Hendaklah kalian duduk bergaul bersahabat dengan para pemimpin dan bergaul dengan hukama, serta bertanyalah kalian kepada ulama” (HR. Ath-Thabrani).




