Pada saat ini, pendidikan keagamaan dan pesantren, dengan berbagai corak dan modelnya, tampak mengalami peningkatan secara kuantitas dan minat dari masyarakat. Bagaimanapun, pesantren-pesantren terus berdiri, mengalami penambahan dan perluasan di berbagai tempat. Begitu pula, minat masyarakat terhadap pendidikan keagamaan dan pesantren, yang secara kasat mata cenderung terus meningkat pada satu dekade terakhir ini.

Tren positif itu tampaknya juga berbarengan dengan mulai banyaknya program-program televisi yang menampilkan para penghafal al-Quran cilik, yang tentu saja sebagai respons dari begitu menjamurnya pondok-pondok khusus tahfidz al-Quran di Indonesia ini. Selain itu, kita juga melihat sambutan berbagai institusi pendidikan tinggi yang sangat baik terhadap keberadaan pondok-pondok pesantren ini, dengan adanya semisal beasiswa khusus untuk para penghafal al-Quran.

Baca Juga: Perjuangan Terus Berlanjut

Lalu apa sebenarnya yang melatarbelakangi tren positif tersebut? Penulis melihat bahwa secara global setidaknya ada dua faktor. Pertama adalah faktor eksternal, sedang yang kedua adalah faktor internal. Faktor eksternal salah satunya adalah bahwa masyarakat telah melihat bahwa pendidikan umum secara murni tidak sepenuhnya bisa menjadi solusi dan bukan merupakan jawaban atas krisis yang mereka hadapi dan rasakan selama ini. Misalnya krisis moral, sosial, bahkan ekonomi dan politik.

Sedang faktor internalnya adalah bahwa pesantren terus melakukan perubahan dan terus berbenah, yang membikin mereka semakin diminati. Secara kultur, kesan bahwa pesantren itu kampungan dan tidak keren sudah tidak ada lagi. Secara sistem, juga sudah banyak bermunculan sistem-sistem canggih yang memungkinkan santri, misalnya, bisa membaca kitab kuning secara cepat, hafal al-Quran dan hadis dengan cepat, dan seterusnya. Masyarakat juga melihat bahwa banyak santri yang berprestasi secara akademik, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Namun, terlepas dari semua itu, sebenarnya ada dua hal penting yang mesti dijadikan patokan di tengah-tengah ‘euforia’ pendidikan pesantren ini, di mana patokan ini sama sekali tidak boleh lepas dari dunia pesantren, karena sudah merupakan jati diri pesantren secara khusus dan dunia keilmuan Islam secara umum. Pertama, bahwa ilmu-ilmu di dalam Islam sangat beragam dan bersifat integral. Kedua, dan karena itu mempelajari ilmu-ilmu Islam tidak bisa dilakukan secara instan.

Baca Juga: Gencarnya Serangan Terhadap Syariat

Maksudnya, dengan menjamurnya pesantren Tahfidz al-Quran, misalnya, jangan sampai masyarakat berpikir bahwa belajar ilmu keislaman cukup itu saja. Bahkan mempelajari al-Quran dan menghafalkannya hanya merupakan permulaan dari mempelajari ilmu-ilmu keislaman yang lain. Bahkan sistem baca kitab cepat sekali pun tak lebih dari sekadar metode dasar untuk mempermudah mempelajari kitab-kitab ulama lebih lanjut.

Adapun menghasilkan ilmu yang paripurna di dunia pesantren tetap membutuhkan waktu yang sangat lama dan harus mulazamah dengan seorang Syekh atau Kiai. Karena di samping mempelajari ilmu-ilmu keislaman yang sangat beragam, santri di pesantren juga mesti menyerap adab, suluk, latihan membersihkan jiwa, belajar mandiri, bersosial dengan baik, dan seterusnya. Nilai-nilai luhur ini tak akan pernah bisa dihasilkan secara instan dengan sistem percepatan model apa pun.

Moh. Achyat Ahmad/sidogiri

Spread the love