Konstelasi politik di DKI Jakarta yang kian hari kian panas, mau tidak mau telah menyeret berjuta-juta umat Islam dari seluruh pelosok negeri untuk juga ‘ikut terlibat’ dalam hingar-bingarnya. Dan, yang membuat pertarungan politik daerah istimewa itu kali ini menjadi tidak biasa, tentu saja karena warna agama menjadi sangat dominan, bahkan bagi umat Islam secara umum, menjadi jauh lebih penting tenimbang kue politik yang sedang diperebutkan itu.

Sejujurnya, yang menyeret berjutajuta umat Islam untuk ikut bergerak ke Ibu Kota itu memang bukan urusan Pilkada itu sendiri, melainkan aspek semangat keagamaan, di mana calon gubernur dari pihak kafi r telah memunculkan pernyataan yang diduga menistakan al-Quran. Itulah sebabnya gelombang massa yang mengalir ke Jakarta dalam beberapa episode itu bertajuk “Aksi Bela Islam”, dan bukan jargon lain yang bernuansa politis.

Maka dari sini, Pilgub DKI putaran kedua ini akan mengemuka tidak hanya sebagai pertarungan politik murni, namun juga sebagai pertarungan identitas keagamaan; tidak saja pertarungan identitas keagamaan masyarakat DKI Jakarta saja, melainkan sebagai pertarungan identitas keagamaan umat Islam di seluruh Indonesia, dengan mengabaikan afi liasi partai politik dan oraganisasinya yang tentu saja sangat beragam.

Apakah pertarungan identitas itu artinya adalah pertarungan umat Islam melawan umat non-Muslim? Tentu saja tidak. Karena jika demikian maksudnya, tentu tak ada pertarungan apa-apa, sebab identitas keagamaan masingmasing (Muslim – non-Muslim) sudah jelas. Pertarungan ini terjadi antara sesama umat Islam, antara mereka yang paham dan akidah keagamaannya lurus sehingga condong pada Islam, melawan umat Islam yang paham keagamaanya bengkok dan sesat sehingga condong pada non-Muslim.

Sesungguhnya, pertarungan identitas yang terjadi antar-sesama Muslim ini sangat ironis, mengingat semestinya, hadirnya pertarungan politik antara calon Muslim dan kafi r ini menjadi momentum yang paling tepat untuk memupuk persatuan, merapatkan barisan, dan menyongsong kemenangan yang sudah berada di depan mata. Namun sungguh sangat disayangkan, sebagian umat Islam telah mengabaikan ajaran-ajaran Islam itu sendiri, sehingga mereka dengan mudah dipecah-belah dan dikalahkan oleh lawan-lawan mereka.

Ketika menafsiri al-Quran surat al-Anfal ayat 72-73, Ibnul-‘Arabi mengatakan, bahwa dalam ayat ini, Allah telah memutuskan pertalian kasih-saya dan saling tolong menolong antara orang-orang kafir dan orangorang mukmin, sehingga Allah menjadikan orang mukmin sebagai wali bagi orang mukmin yang lain, serta menjadikan orang kafir sebagai wali bagi orang kafir yang lain.

Memperkuat pernyataan Ibnul- ‘Arabi tersebut, Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi menyatakan bahwa sesungguhnya, menerapkan ajaran Islam yang telah dituangkan dalam al-Quran tersebut (Muslim menjadi wali bagi Muslim yang lain) merupakan modal utama bagi kemenangan umat Islam dalam setiap ruang dan waktu, sebagaimana halnya mengabaikan ajaran itu merupakan penyebab utama bagi kelemahan dan kekalahan mereka atas musuh-mush mereka, sehingga musuh-musuh mereka bisa mencabik-cabik mereka dari setiap sisi dan lini.

Dengan demikian, sejujurnya pertarungan identitas sesama Muslim ini tak banyak memberikan manfaat bagi kekuatan dan kemenangan umat Islam. Namun, barangkali pertarungan identitas ini akan memperjelas siapa dan golongan mana saja dari umat ini yang munafi k, dan siapa atau golongan mana saja yang Islamnya masih lurus, murni dan akidahnya tidak digadaikan.