Kenakalan anak disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Tentu dalam menyikapi anak yang nakal harus menggunakan pendekatan persuasif dan sebisa mungkin tidak emosi dan darah tinggi saat melihat mereka melakukan hal aneh.
Apapun yang mereka lakukan harus dilihat dari sudut pandang anak, bukan sudut pandang orang tua, sebab dunia anak dan orang tua jelas berbeda. Oleh sebab itu, posisikanlah anak-anak sebagai seorang manusia yang masih kecil, jangan disamakan dengan orang dewasa yang pikiran dan sikapnya sudah matang. Dengan demikian, orang tua tak perlu langsung membentak apalagi sampai memukul saat melihat anaknya melakukan hal tidak baik menurutnya.
Ada teladan dari Rasulullah yang patut dijadikan contoh dalam menghadapi anak yang nakal dan kurang penurut. Dalam sebuah hadis dikisahkan mengenai sikap Rasulullah saat menghadapi Anas bin Malik sewaktu masih kecil.
قَالَ أَنَسٌ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا، فَأَرْسَلَنِي يَوْمًا لِحَاجَةٍ، فَقُلْتُ: وَاللَّهِ لَا أَذْهَبُ، وَفِي نَفْسِي أَنْ أَذْهَبَ لِمَا أَمَرَنِي بِهِ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَخَرَجْتُ حَتَّى أَمُرَّ عَلَى صِبْيَانٍ وَهُمْ يَلْعَبُونَ فِي السُّوقِ، فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَابِضٌ بِقَفَايَ مِنْ وَرَائِي، قَالَ: فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَضْحَكُ، فَقَالَ: يَا أُنَيْسُ أَذَهَبْتَ حَيْثُ أَمَرْتُكَ؟ قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ، أَنَا أَذْهَبُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ أَنَسٌ: وَاللَّهِ لَقَدْ خَدَمْتُهُ سَبْعَ سِنِينَ أَوْ تِسْعَ سِنِينَ مَا عَلِمْتُ قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا، وَلَا لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ: هَلَّا فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا.
Anas bin Malik berkata, “Rasulullah adalah manusia yang berperang paling baik. Suatu ketika Rasulullah menyuruhku untuk keperluan tertentu, aku berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan pergi.’ Padahal diriku sebenarnya ingin pergi melaksanakan perintahnya.” Anas berkata: “Lalu aku keluar (rumah). Aku melewati sekumpulan anak yang tengah bermain di pasar, tiba-tiba Rasulullah memegang tengkukku dari belakang, aku melihat kepadanya, beliau pun tertawa kemudian berkata: “Wahai Anas kecil, pergilah sebagaimana yang kuperintahkan padamu”. Aku menjawab: “Baik, aku akan berangkat, ya Rasulullah.” Anas berkata: “Demi Allah, selama tujuh atau sembilan tahun mengabdi kepadanya, Rasulullah tidak pernah menegur kesalahan yang kulakukan dalam mengerjakan sesuatu dengan ucapan: “Kenapa kau melakukannya begini dan begitu,” atau teguran dengan berkata: “Kenapa kau tidak melakukan ini dan itu.” (HR. Imam Abu Dawud).
Memang sejak kecil Anas bin Malik diserahkan kepada Rasulullah oleh ibundanya guna berkhidmah dan mengabdi kepada Rasulullah. Kala itu Anas memang masih kecil yang dunianya adalah bermain bersama teman sebayanya. Sebagaimana lumrahnya anak kecil apalagi yang tengah asyik bermain, kejar-kejaran, dan semacamnya, tentu tidak akan menggubris saat ada seseorang datang dan menyuruh sesuatu kepadanya, kendatipun yang menyuruh itu orang tuanya.
| BACA JUGA : IDEOLOGI NGAWUR SYIAH
asyiknya bermain lalu disuruh oleh Begitu juga sikap Anas kecil saat Rasulullah untuk keperluan tertentu. Ia pun tanpa segan sedikit pun langsung menolak begitu saja, walaupun sebenarnya di hatinya ada rasa ingin melaksanakan perintah tersebut. Melihat tindakan Anas seperti itu, Rasulullah tidak serta-merta memaksa agar langsung berangkat, apalagi menampakkan kemarahan dan bermuka masam, tapi beliau jeda dulu dan mencari momen terbaik untuk menyuruh Anas pada kali keduanya.
Pada kesempatan kedua ini, ternyata Rasulullah menggunakan narasi yangsama dengan perintah sebelumnya saat menyuruh Anas. Inilah bukti kecerdasan, kearifan, dan kasih sayang Rasulullah dalam menyikapi anak kecil. Beliau tidak lantas bertanya kepada Anas yang bisa dipastikan akan membuatnya bingung untuk menjawab, semisal pertanyaan “Apakah sudah kamu kerjakan apa yang aku perintahkan?”, dan ujung-ujungnya Anas akan berkata tidak jujur kepada Rasulullah karena tidak melaksanakan perintahnya.
Oleh sebab itulah, Rasulullah melakukan mediasi dengan cara melakukan tindakan yang relevan dengan kondisi anak kecil. Kendati perintahnya ditolak seketika itu oleh Anas kecil, beliau tetap tersenyum lebar, tidak merasa wibawanya hilang, tidak dihormat, perkataannya tidak dihiraukan, juga tidak mengerutkan dahi, apalagi sampai melotot serta membentak dengan nada yang sarat intimidasi.
Dari sini bisa dipahami, Rasulullah sejatinya tengah mendidik Anas bin Malik dengan keteladanan, sehingga kesan yang ditangkap olehnya adalah kelembutan perangai dan kemuliaan akhlak, bukan sebaliknya, sikap arogan, egois, dan ingin semua perintahnya harus dituruti. Pada tataran selanjutnya, sikap Rasulullah itulah yang menumbuhkan rasa tidak enak hati secara alami pada diri Anas.
Sikap Rasulullah ini menunjukkan bahwa dunia anak adalah dunia yang tidak bisa diposisikan layaknya dunia orang yang sudah dewasa, dan juga tidak boleh memandang dunia mereka menggunakan perspektif orang dewasas, akan fatal jadinya.
Oleh sebab itulah, Rasulullah tetap memberikan ruang dan dunianya sendiri kepada Anas bin Malik kendati ia menolak perintah Rasulullah. Rasulullah tetap memposisikan Anas sebagai anak kecil,bukan sebagai orang dewasa, sehingga apapun kesalahan yang dilakukannya, ia tidak menyalahkannya, tapi memberinya contoh yang benar. Nasihat dan kata-kata memang berarti, tapi bagi anak-anak, contoh keteladanan jauh menggugah jiwa mereka.




