SENI ROMANTIS, RUMAH TANGGA HARMONIS
Mengarungi bahtera rumah tangga tidak semudah yang pujangga kira, begitu pula tidak segampang yang anak muda duga. Di dalamnya ada beragam cerita, berupa suka maupun duka, berwujud tawa juga tangis yang mengiris-iris dada. Yang tidak sanggup mengarungi akan tersisih, sementara yang mampu akan hidup dengan penuh kasih.
Dalam membina rumah tangga, yang paling urgen dan utama terletak di hubungan antarsuami dan juga istri. Apabila satu sama lain saling menjalankan fungsi dan perannya, sekeras apa pun ombak ujian yang menghadangnya, bahtera rumah tangga tetap akan stabil dalam kendali dan fokusnya. Sang suami bertanggung jawab atas segala kebutuhan dan hajat sang istri dan sang istri juga bertanggung jawab atas segala amanah yang diberikan oleh sang suami. Begitulah kira-kira ilustrasi sederhana bagaimana peran keduanya jika dijalankan secara bersama.
Dalam al-Quran, ada satu ayat yang Allah abadikan dan Allah khususkan kepada umat Islam demi menggambarkan tugas penting antara suami dan juga istri. Tugas tersebut harus dijalankan oleh masing-masing individu. Suami harus berbaik diri kepada si istri. Begitu pula sang istri harus berkasih hati kepada si suami. Ketika dua-duanya sama-sama dewasa dalam menunaikan tugasnya dengan bijaksana, Allah pastikan koneksi baik antara keduanya akan terhubung lebih sempurna.
Allah Subahanahu wa Ta’ala berfiman
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Dan pergaulilah mereka secara baik. (An-Nisa ayat 19).
Syeikh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsîr al-Munîr menjelaskan bahwa semangat untuk berbuat baik sebenarnya tidak hanya berlaku bagi seorang suami. Menurut pandagan dan hasil tafsirannya, ayat di atas memberi penegasan kepada pihak suami dan istri agar keduanya saling berbuat baik dalam segala hal. Tambahnya, kata al-makruf dalam ayat di atas merujuk pada segala hal dan perbuatan yang dianjurkan oleh agama, diterima oleh akal normal, dan tidak bertolak belakang dengan nilai-nilai moral. Maka segala hal yang dianggap tidak baik oleh agama, bertentangan dengan akal normal, dan tidak segendang sepenarian dengan nilai-nilai moral, maka semua hal tersebut bisa dipastikan telah menafikan konsep mu’asyarah bil makruf yang al-Quran perintahkan.
Seorang suami dan istri yang baik akan senantiasa bersandar dan berpijak pada ayat di atas. Bagaimanapun keadaannya,misalnya, keduanya akan saling berbuat baik. Bahkan, ketika terdapat masalah, umpamanya, keduanya pun akan bahu membahu saling menguatkan. Apabila dalam titik masalah, keduanya mampu melewatinya secara bersama, insyaallah kebahagiaan akan senantiasa berhias di dalam kehidupan rumah tangganya.
Akan tetapi, untuk mampu melewati setiap langkah dari jutaan langkah-langkah dalam perjalanannya, suami dan istri harus cerdas-cerdas memilih cara dan seni dalam membina rumah tangganya. Nah, di antara seni tersebut adalah sikap dewasa suami dan istri yang senantiasa bersabar ketika terdapat banyak masalah dan selalu bersyukur ketika ada nikmat yang sedikit maupun yang meruah.
Bersabar dan bersyukur ini dipercaya sebagai seni romantis yang akan membuat hubungan pasangan suami dan istri terjalin lebih harmonis. Selain karena memang keduanya merupakan sikap baik yang juga tercakup dalam ranah mu’asyarah bil makruf, seni ini sudah banyak terbukti dan mujarab di kalangan pasangan suami-istri.
| BACA JUGA: TIPS BANGUN MALAM QIYAMUL-LAIL
Dalam hal bersabar, misalnya. Sudah barang tentu, roda kehidupan ini akan senantiasa berputar. Tidak mungkin usaha sang suami akan selalu bernasib baik. Pasti ada momen-momen di mana kail mata pencaharian sang suami Allah uji sehingga tidak lagi mujur sebagaimana lazimnya. Maka saat sang istri tahu bahwa si suami tercinta sedang susah karena tidak bisa memberi nafkah sebagaimana biasanya, bersabar atas takdir pahit tersebut adalah seni romantis yang akan mengunci dan meneduhkan hati pujaan hati. Sang suami yang tadinya merasa gelisah karena khawatir sang istri kecewa seketika menjadi urung gegara sikap sabar yang istri tunjukkan kepada suami. Akhirnya, dengan lapang dada dan lega hati, sang suami turut bersabar merespon sikap sabar yang diperlihatkan oleh sang istri.
Begitu pula ketika yang diterpa ujian adalah dari pihak sang istri. Seperti, misal, ia tidak sengaja atau bahkan teledor menghapus laporan dan berkas kerja si suami. Apabila sang suami bersabar atas kesalahan sang istri, keadaan rumah tangga bisa dipastikan adem ayem stabil sebagaimana tiada problem. Berbeda halnya ketika, semisal, sikap yang diambil oleh si suami adalah marah-marah yang tidak jelas kepada si istri. Selain suaranya yang keras memekakkan telinga dan menyakiti jiwa, marah-marah tersebut ya juga tidak akan sanggup mengembalikan berkas kerja yang sudah terhapus. Selain rugi kehilangan berkas yang sudah terhapus, akhirnya bisa dipastikan ia juga rugi gegara telah membentak si istri hingga trauma dan sakit hati. Maka sudah jelas, dari kasus sederhana ini, bersabar sangat mujarab kita jadikan sebagai seni romantis yang akan membikin hubungan rumah tangga berjalan lebih harmonis.
Seni romantis selanjutnya adalah bersyukur. Sepasang suami-istri yang rajin bersyukur, Allah pastikan akan semakin banyak mendapatkan nikmat. Allah tidak akan mungkin mengingkari janjinya.
Dalam al-Quran surah Ibrahim ayat ke-7, Allah berfirman dengan tegas yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu ”. Sebaliknya, jika ada sepasang suami-istri jarang bersyukur atau bahkan enggan bersyukur walau sekali, Allah pastikan hidupnya beradadi posisi yang tidak akan selamat. Allah ancam orang-orang demikian dengan azab yang pedih. Dalam al-Quran surah dan ayat yang sama, Allah berfirman yang artinya, “Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Itulah gambaran utuh antara pasangan suami-istri yang gemar bersyukur dan yang enggan bersyukur.
Maka benarlah, secara disiplin ilmu sosiologi, seseorang yang dalam hal ini pasangan suami-istri akan lebih mudah beradaptasi apabila banyak nikmat yang dapat memenuhi hajat dan kebutuhannya. Nah, tentu saja, sebagaimana janji Allah di muka, nikmat-nikmat tersebut akan semakin bertambah, lebih langgeng, dan diridhai oleh Allah apabila si suami-istri tersebut rajin bersyukur atas nikmat-nikmat yang ada. Ketika nikmat-nikmat tersebut bertambah menghiasi kemilaunya rumah tangga seseorang, sudah barang pasti, rumah tangga tersebut akan bersinar sarat kebahagiaan. Ketika si pasangan suami-istri dalam rumah tangganya tersebut berbahagia, tentu saja hubungan antara keduanya berjalan sangat harmonis.
Nah, pasangan suami-istri yang bersabar dan bersyukur beginilah, yang jalan hidup rumah tangganya akan stabil romantis dan harmonis.




