Hal yang muncul biasanya, saat kematian dibicarakan adalah pikiran dan pertanyaan, kapan saya akan mati? Seperti apa keadaan setelah kematian? Siapkah saya menghadapinya? Pertanyaan seperti itu terus menghantui pikiran setiap orang, meskipun mereka yakin bahwa kematian adalah kepastian yang tidak mungkin dihindarinya. Kematian tidak memilih usia atau tempat, tidak pula menangguhkan kehadirannya sampai terpenuhi semua keinginan. Jika waktunya sudah tiba, pasti maut akan menjemput.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pembicaraan tentang kematian bukan sesuatu yang menyenangkan bagi manusia karena kematian telah dinilai sebagai hal yang tabu dan menakutkan. Karenanya, setiap orang merasa enggan mati. Keengganan ini mungkin karena telah menduga bahwa kehidupan dunia lebih baik daripada setelah kematian. Atau mungkin karena khawatir meninggalkan keluarga sehingga merasa cemas dan takut menghadapi kematian. Atau alasan lain yang kesimpulannya sama: takut mati.

Peristiwa kematian dapat kita saksikan setiap hari saat saudara, tetangga, teman dan orang yang kita cintai meninggalkan selama-lamanya. Inilah yang menyebabkan rasa takut akan kematian dan kehilangan terus menghantui kita, sehingga dorongan psikologis menuntut kita dengan sekuat tenaga berusaha untuk menolaknya. Setiap kali rasa sakit menyerang maka kita berusaha mengusirnya dengan obat, karena rasa sakit adalah pintu masuk terdekat pada kematian. Rumah sakit dibangun dan program kesehatan masyarakat terus ditingkatkan, hanya untuk menghindar dari yang namanya kematian.

Konon, kematian adalah nomor satu yang paling ditakuti di dunia, mengalahkan AIDS, hantu, dan kemiskinan. Segenap usaha dikerahkan di seluruh negeri untuk menekan tingkat kematian. Observasi terus dilakukan untuk menghasilkan obat-obatan penyembuh sakit. Pada kelanjutannya, sekolah kedokteran didirikan untuk menanam bibit dokter yang handal. Ribuan rumah sakit didirikan hanya untuk menolak yang namanya kematian. Meskipun sebenarnya manusia juga sadar bahwa kematian tak bisa ditolak oleh obat atau dokter sepesialis sekalipun. Minimal ada upaya untuk memperpanjang masa hidup di dunia.

Inilah yang menarik, di satu sisi kematian ditakuti, tapi di sisi yang lain kematian justru membawa inspirasi besar dalam bangunan peradaban manusia. Manusia terus berusaha bagaimana kematian dapat dihindari sehingga mendorong untuk berbuat baik, berkarya, dan berinovasi. Minimal, nama mereka bisa abadi dan dikenang oleh priode selanjutnya bahwa inovasinya membawa manfaat untuk keberlangsungan manusia, karena mereka yakin bahwa kematian tak mungkin bisa ditolak. Hanya satu jalan, yaitu berkarya.

Di sisi yang lain pula, kematian membawa inspirasi manusia untuk berbuat baik dan bijak saat hidup di dunia, karena dengan itu ia dapat menatap cerahnya masa depan setelah kematin. Bahkan, untuk mengasah ketajaman spiritualitasnya, Umar bin Khaththab, Khalifah Kedua perlu menulis di cincinnya sebuah kata: “Cukup kematian yang menjadi petunjukmu wahai Umar.”

Hanya terkadang, kenikmatan dan kesibukan dunia telah membuat manusia lupa dengan kepastian datangnya kematian. Biasanya manusia tersadar saat ada sanak saudara, atau tetangga yang meninggal dunia. Pada saat itu, muncul kesadaran bahwa pada gilirannya pasti akan mengalaminya seperti yang oleh si mayat alami. Karena proses terus berjalan menuju kepastian itu, tinggal menunggu waktu dan giliran selanjutnya. Jika pun kematian tidak menggetarkan hati dan mengundang kesadaran maka sebuah pertanda bahwa kematian terjadi pada hati seseorang.

Bagaimanapun, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kematian hanyalah transmisi dari kehidupan yang panjang menuju kehidupan lain yang jauh lebih panjang. Setelah kematian akan terkuak sedikit misteri tentang siapa diri kita sebenarnya. Apa yang kita sebut diri, ternyata bukan jasad yang telah mati. Diri terlepas dan hanya bisa memandangi jasad yang sudah tak berdaya. Saati tulah, kita menyadari sesuatu yang sama sekali tak pernah terpikirkan semasa hidup di dunia.

Meskipun kelihatannya adalah kepunahan, tapi pada hakikatnya kematian adalah kelahiran untuk yang kedua kalinya. Kematian hanyalah masa transisi untuk melanjutkan perjalanan manusia menuju kehidupan yang sebenarnya. Dalam sebuah Hadis disebutkan, “Sesungguhnya perumpamaan orang mukmin di dunia adalah seperti janin di dalam perut ibunya. Ketika keluar dari perut ibunya, ia menangis karena keluar dari situ. Akan tetapi ketika melihat cahaya dan menyusu ia tidak mau kembali ke tempatnya.” (H.R. Ibn Abi ad-Dunya).

Bilal bin Sa’ad berkata, “Sesungguhnya kalian tidak diciptakan untuk mengalami kemusnahan, melainkan diciptakan untuk kehidupan yang kekal abadi. Akan tetapi kalian hanya berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain.” Sebagian ulama mengatakan, “Kematian bukan berarti tidak ada sama sekali maupun binasa sama sekali. Sesungguhnya kematian adalah terputusnya hubungan antara ruh dengan badan dan perpisahan serta terhalangnya hubungan antara keduanya, dan perubahan keadaan serta perpindahan dari satu negeri ke negeri yang lain.”

Artinya, kematian bukanlah akhir dari wujud manusia karena ada kehidupan lain setelah itu. Pandangan ini ditandai oleh ritual ziarah kubur yang dilakukan oleh manusia primitif sampai manusia modern. Ini menjadi bukti bahwa manusia enggan menganggap kematian sebagai kepunahan. Ada kehidupan lain setelah kematian. Mereka yang telah meninggalkan dunia ini, diyakini hanya berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lainnya, sehingga masih dimungkinkan terjadinya hubungan dengan orang yang masih hidup. Dari itu, doa-doa dipanjatkan untuk dimintakan ampun bagi keluarga dan sahabat yang telah meninggal, serta terkadang meminta pertolongan lewat tawassul melalui orang-orang yang diyakini saleh.

Dengan demikian, kematian adalah guru terbaik sebagai pendidik hati agar tidak pongah dan sombong. Oleh karena itu, kita dianjurkan oleh Rasulullah untuk memperbanyak mengingat kematian. Ingat pada kematian akan membuat manusia punya kendali. Kecurangan, kerakusan, kesombongan dan berbagai bentuk penyakit hati yang bersarang di dada akan dibunuh oleh rasa takut pada kematian, sebab, nilai-nilai pelajaran yang diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan.

Termasuk juga, fenomena kematian selalu mengingatkan pada waktu hidup yang demikian singkat. Ini memberi pelajaran bahwa waktu sangat berharga. Perasaan ini tentu akan mempengaruhi pikiran dan sikap hidup seseorang. Yakin adanya kehidupan lain setelah kematian akan mengajak sesorang untuk berpikir mengenai persiapan dan agenda masa depan. Orang yang tidak mampu melihat secara jernih terhadap hukum kepastian ini, akan lemah dan kehilangan visi hidup. Energi hidupnya terkuras hanya untuk tujuan-tujuan jangka pendek tanpa memandang visi ke depan. Wallahu A’lam.

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri