Ditinaju dari hukum pelaksanaannya, dalam shalat jamaah masih ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Imam ar-Rafii berpendapat bahwa shalat jamaah hukumnya sunah, sedangkan Imam an-Nawawi mengatakan bahwa shalat jamaah hukumnya fardhu kifayah. Terlepas dari perbedaan tersebut, yang jelas shalat jamaah memiliki keutamaan dibanding shalat sendirian. Dalam sebuah hadis riwayat Imam al-Bukhari Rasulullah bersabda:
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً
“Shalat jamaah lebih utama daripada shalat sendirian selisih dua puluh tujuh derajat.”
Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda:
فَضْلُ صَلاَةِ الجَمَاعَةِ عَلى صَلاةِ الرَّجُلِ وَحْدَهُ خَمْسٌ وَعِشْرُوْنَ دَرَجَةً وَفَضْلُ صَلاةِ التَّطوُّعِ فِي الْبَيْتِ عَلَى فِعْلِهَا فِي الْمَسْجِدِ كَفَضْلِ صَلاةِ الجَمَاعَةِ عَلَى صَلاةِ المُنْفَرِدِ
“Keutamaan shalat jamaah dibanding shalatnya seseorang secara sendirian adalah dua puluh lima derajat. Keutamaan shalat sunah di rumah dibanding melakukannya di masjid seperti keutamaannya shalat jamaah terhadap shalat sendirian.”
Kendati memiliki keutamaan yang luar biasa besar, shalat jamaah terkadang dirasa berat untuk dikerjakan, sebab seorang makmum harus mengikuti imam yang mana terkadang imam tersebut lama dalam memimpin shalat. Permasalahan muncul ketika seorang makmum sengaja mengakhirkan takbiratul-ihram dengan alasan imamnya terlalu lama membaca surah. Dia baru melaksanakan takbiratul–ihram ketika imamnya hampir rukuk atau bahkan ketika rukuk. Dalam kasus ini apakah makmum tersebut dianggap masbuq, sehingga dia tidak berkewajiban membaca surah al-Fatihah secara sempurna?
Untuk membahas pertanyaan ini, ada baiknya mengetahui terlebih dahulu pengertian makmum muwafiq dan makmum masbuq. Syekh Nawawi Banten dalam kitab Nihayatuz-Zain hal. 124 menjelaskan:
وَإِنْ وَجَدَ الْإِمَامَ فِي الْقِيَامِ قَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ وَقَفَ مَعَهُ فَإِنْ أَدْرَكَ مَعَهُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ زَمَنًا يَسَعُ الْفَاتِحَةَ بِالنِّسْبَةِ لِلْوَسَطِ الْمُعْتَدِلِ فَهُوَ مُوَافِقٌ فَيَجِبُ عَلَيْهِ إِتْمَامُ الْفَاتِحَةِ وَيُغْتَفَرُ لَهُ التَّخَلُّفُ بِثَلَاثَةِ أَرْكَانٍ طَوِيْلَةٍ كَمَا تَقَدَّمَ وَإِنْ لَمْ يُدْرِكْ مَعَ الْإِمَامِ زَمَنًا يَسَعُ الْفَاتِحَةَ فَهُوَ مَسْبُوْقٌ يَقْرَأُ مَا أَمْكَنَهُ مِنَ الْفَاتِحَةِ وَمَتَى رَكَعَ الْإِمَامُ وَجَبَ عَلَيْهِ الرُّكُوْعُ مَعَهُ
”Jika makmum mendapati imam dalam keadaan berdiri sebelum rukuk, maka makmum harus berdiri bersama imam. Jika makmum mendapati imam berdiri dalam jangka waktu yang cukup untuk membaca surah al-Fatihah secara biasa (tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat), maka ia disebut makmum muwafiq. Dia wajib membaca surah al-Fatihah secara sempurna dan dimaafkan (shalatnya tidak batal) adanya keterlambatan tiga rukun panjang sebagaimana penjelasan yang telah lalu. Jika makmum tidak menemukan waktu yang cukup untuk membaca surah al-Fatihah, maka dia dinamakan makmum masbuq. Dia wajib membaca surah al-Fatihah sebisanya dan ketika imam rukuk dia juga wajib rukuk bersama imam.”
|BACA JUGA: SERAMBI MASJID DALAM KAITAN WANITA HAID
Dari sini bisa dipahami bahwa makmum yang mendapati imam sedang berdiri, tetapi dia tidak memiliki cukup waktu untuk membaca surah al-Fatihah disebut makmum masbuq. Hanya saja, apakah status masbuq ini diberlakukan secara umum kepada semua makmum yang tidak memiliki cukup waktu untuk membaca surah al-Fatihah, meskipun ketidakcukupan waktu ini disebabkan makmumnya sendiri yang sengaja mengakhirkan takbiratul-ihram? Imam Zakariya al-Anshari dalam Asnal-Mathalib Syarh Raudhuth-Thalib menjelaskan, keteledoran makmum yang tidak segera takbiratul-ihram sampai imamnya rukuk, maka makmum tersebut tetap dihitung melaksanakanan satu rakaat bersama imam dan dia langsung rukuk bersama imam. Berikut ibarat-nya:
فَرْعٌ تُدْرَكُ الرَّكْعَةُ بِإِدْرَاكِ الرُّكُوعِ الْمَحْسُوبِ) لِلْإِمَامِ، وَإِنْ قَصَّرَ الْمَأْمُومُ فَلَمْ يُحْرِمْ حَتَّى رَكَعَ إمَامُهُ
”Cabang permasalahan: satu rakaat bisa didapati dengan mengikuti imam melaksanakan rukuk yang dianggap, meskipun makmumnya teledor, dia tidak melakukan takbiratul-ihram sampai imamnya rukuk.”
Imam Syamsuddin ar-Ramli dalam Nihayatul-Muhtaj juga memberikan penjelasan yang senada dengan Imam Zakariya al-Anshari:
وَإِنْ أَدْرَكَهُ) أَيْ الْمَأْمُومُ الْإِمَامَ (رَاكِعًا أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ) أَيْ مَا فَاتَهُ مِنْ قِيَامِهَا وَقِرَاءَتِهَا وَلَوْ قَصَّرَ بِتَأْخِيرِ تَحَرُّمِهِ إلَى رُكُوعِ الْإِمَامِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ لِخَبَرِ مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلَاةِ قَبْلَ أَنْ يُقِيمَ الْإِمَامُ صُلْبَهُ فَقَدْ أَدْرَكَهَا وَظَاهِرُ كَلَامِهِ أَنَّهُ لَا فَرْقَ فِي إدْرَاكِهَا بِذَلِكَ بَيْنَ أَنْ يُتِمَّ الْإِمَامُ الرَّكْعَةَ وَيُتِمَّهَا مَعَهُ أَوْلَا
”Jika seorang makmum mendapati imam dalam keadaan rukuk, maka dia mendapat satu rakaat. Artinya dia tetap mendapatkan rukun yang telah lewat berupa berdiri dan bacaan al-Fatihah, meskipun dia teledor dengan mengakhirkan takbiratul–ihram sampai imamnya rukuk tanpa adanya udzur, karena ada hadis, ‘Barang siapa mendapati rakaat shalat sebelum imam meluruskan tulang punggungnya maka dia mendapat satu rakaat.’ Zahirnya sabda Rasulullah tidak ada perbedaan dalam mendapatkan satu rakaat antara makmum yang menyempurnakan satu rakaat bersama imam atau tidak.”
Kendati dengan mengakhirkan takbiratul-ihram tetap bisa mendapatkan satu rakaat, tetapi hal ini bisa menghilangkan fadilah takbiratul-ihram bersama imam yang memiliki keutamaan tersendiri. Imam Abu Bakar Syatha’ dalam I’anatuth-Thalibin menjelaskan bahwa mengkuti takbiratul-ihram bersama imam ini bisa membersihkan shalat, orang yang melanggengkannya selama empat puluh hari terbebas dari neraka dan terbebas dari kemunafikan, sebagaimana diterangkan dalam hadis.
وَتُدْرَكُ فَضِيْلَةُ) تَحَرُّمٍ مَعَ إِمَامٍ ) بِحُضُوْرِهِ) أَيْ الْمَأْمُوْمِ التَّحَرُّمَ (وَاشْتِغَالٍ بِهِ عَقِبَ تَحَرُّمِ إِمَامِهِ) مِنْ غَيْرِ تَرَاخٍ فَإِنْ لَمْ يَحْضُرْهُ أَوْ تَرَاخَى فَاتَتْهُ فَضِيْلَتُهُ نَعَمْ يُغْتَفَرُ لَهُ وَسْوَسَةٌ خَفِيْفَةٌ وَإِدْرَاكُ تَحَرُّمِ الْاِمَامِ فَضِيْلَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ مَأْمُوْرٌ بِهَا لِكَوْنِهِ صَفْوَةَ الصَّلَاةِ وَلِاَنَّ مُلَازِمَهُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا يُكْتَبُ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ كَمَا فِي الْحَدِيْثِ
“Fadilah takbiratul-ihram bersama imam didapati dengan hadirnya makmum ketika takbiratul-ihramnya imam dan menyibukkan diri untuk takbir setelah imamnya takbiratul-ihram tanpa menunda–nunda. Jika makmum tersebut belum hadir atau dia menunda-nunda maka dia tidak mendapatkan fadilah. Namun, adanya was–was yang ringan bisa dimaafkan. Mendapati takbiratul-ihramnya imam merupakan fadilah tersebdiri dan diperintahkan, sebab hal itu bisa membersihkan shalat, dan orang yang melanggengkannya selama empat puluh hari dia akan dicatat terbebas dari neraka dan terbebas dari kemunafikan, sebagaimana keterangan dalam hadis.”imam didapati dengan hadirnya makmum ketika takbiratul-ihramnya imam dan menyibukkan diri untuk takbir setelah imamnya takbiratul-ihram tanpa menunda–nunda. Jika makmum tersebut belum hadir atau dia menunda-nunda maka dia tidak mendapatkan fadilah. Namun, adanya was–was yang ringan bisa dimaafkan. Mendapati takbiratul-ihramnya imam merupakan fadilah tersebdiri dan diperintahkan, sebab hal itu bisa membersihkan shalat, dan orang yang melanggengkannya selama empat puluh hari dia akan dicatat terbebas dari neraka dan terbebas dari kemunafikan, sebagaimana keterangan dalam hadis.”




