REFLEKSI MUSLIMAH MILENIAL DALAM BERDAKWAH LEWAT MEDIA SOSIAL
Di antara kriteria Muslimah yang baik adalah ia yang selain mampu berbuat baik kepada dirinya sendiri, ia juga mampu berbuat baik kepada orang lain. Kriteria hidup seperti inilah yang sampai pada titik sempurna, yang sanggup membikin mental setan runtuh dan putus asa. Namun, akan menjadi lebih perfek lagi paripurna jika bentuk kebaikannya tersebut dikemas dengan kemasan dakwah; mengajak diri dan orang lain berbuat baik dan mencegah diri dan yang lain untuk berbuat buruk.
Di dalam agama Islam, dengan lembut, tetapi tegas dan dengan santun, tetapi bijaksana, syariat memerintah umat Islam untuk berbuat baik kepada diri sendiri dan orang lain. Sehingga dari perbuatan baik ini akan mendatangkan kebaikan yang lebih besar dan bernilai. Sebaliknya, syariat melarang umat Islam berbuat buruk, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Karena perbuatan baik dan buruk sejatinya adalah representasi diri sendiri. Dan manfaat serta mudaratnya pun juga akan kembali kepada diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. (QS. Al-Isra’: 7).
Berbicara mengenai dakwah ini, diakui atau tidak, medan laki-laki jauh lebih luas ketimbang seorang wanita. Keterbukaan syariat bagi seorang lelaki diakui atau tidak memang lebih longgar. Secara psikologis pun, jam terbang dakwah lelaki jauh lebih suport daripada seorang wanita. Berbeda dengan seorang wanita yang secara tabiat lebih lemah daripada seorang lelaki. Akhirnya, syariat pun menaruh perhatian yang lebih kepadanya. Sehingga ada beberapa hak istimewa bagi seorang lelaki yang tidak bisa diperoleh oleh seorang wanita. Salah satunya adalah medan dakwah yang bersifat ceramah, yang mengharuskan sang pendakwah keluar menuju lokasi-lokasi tertentu, mengeluarkan suara yang ekstra, tampil di depan khalayak ramai, dan lain-lain. Nah, tentu saja medan dakwah berceramah ini, meski tidak menutup kemungkinan bisa juga dilakukan oleh seorang wanita, tetapi batas geraknya tidak sebebas seorang lelaki. Ada hal-hal yang memang harus ditaati, tidak boleh dilanggar apalagi dilampaui.
Seorang Muslimah yang baik lagi bersemangat di dalam berdakwah tidak akan berkecil hati mengetahui fakta semacam ini. Semenjak ia tahu bahwa medan dakwah dirinya tidak seluas jangkauan laki-laki, Muslimah sejati akan memutar otak bagaimana sekiranya medan dakwah yang ia geluti, subtansi tujuannya tidak kalah dengan seorang dai laki-laki, yakni memengaruhi objek dakwah dengan baik dan kafah.
Maka untuk sekelas zaman kini yang sudah canggih dengan beragam teknologi yang dapat membantu para dai, beraneka ragam media sosial dengan platform yang berbeda-beda seakan menjadi angin segar bagi mereka para Muslimah yang siap terjun membagikan konten-konten dakwahnya.
Seolah-olah, kata-kata “berdakwah tidak harus ceramah” adalah kata-kata magis bagi mereka yang sudah kreatif menyebarkan konten dakwahnya di media sosial. Sebagaimana yang sudah lama diaplikasikan oleh Ustazah Syarifah Halimah Alaydrus yang selalu konsisten membagikan kalam muhasabah dirinya di akun resmi instagram, facebook, twiter,dan lainnya. Beliau adalah pendakwah yang andal. Selalu memberi motivasi dan nasehat baik kepada siapa pun di media sosialnya. Konten-konten dakwahnya selalu mengikuti trendi, baik dari sisi desain maupun isi, sehingga membuat nama beliau masuk deretan pendakwah milenial yang amat diminati. Makanya tidak heran, dari hasil konten dakwahnya ini, banyak kemudian para pengguna platform media sosial yang menyukai, mengomentari, menyimpan, bahkan membagikan postingan dakwah beliau.
| BACA JUGA: DELEGITIMASI ULAMA OLEH DUNIA MAYA
Bayangkan, jika satu konten dakwah saja, responnya selengkap itu, yakni disukai, dikomentari, disimpan, dan dibagikan ke berbagai media sosial, lantas bagaimana jika semua kontennya selalu begitu? Dan bagaimana jika seumpamanya, yang mengikuti semakin banyak, yang menyukai semakin bertambah, dan yang mengomentari sekaligus membagikan kian meningkat? Tentu saja kualitas dan kuantitas dakwahnya semakin mantap, sehingga subtansi dan tujuan dakwahnya semakin didapat.
Jika ada satu orang yang menceletuk “Kan memang beliau Ustazah Syarifah Halimah Alaydrus sudah banyak memiliki followers di media sosial pribadinya? Jadi ya wajar jika responnya sangat banyak” maka tentu pertanyaan semacamini adalah pertanyaan yang lahir dari kedangkalan berpikir. Karena memang faktanya, dulu ketika awal-awal menitikonten dakwah di media sosial, beliau juga sama seperti kita; miskin like, comment, and share. Perbedaannya adalah ada di siap atau tidaknya kita berdakwah. Juga ada pada di istikamah apa tidak sebenarnya kita dalam berdakwah?
Buktinya, banyak kemudian para Muslimah cerdas yang melihat terang benerangnya cahaya dakwah lewat media sosial ini. Penulis sebut saja di antaranya, Aisyah Farid Bsa, Ummi Fairuz ar-Rahbini (istri Buya Yahya), Fatimah al-Musawa (putri al-Habib Mundzir al Musawa), Nurin Zulkifli, dan banyak lagi lainnya yang tidak bisa penulis sebut semuanya.
Dulu, mereka semua sama dengan Muslimah yang lain. Ketika awal-awal menjajaki media sosial, jangankan membagikan postingan dakwah mereka, yang menyukai saja amat sedikit, tetapi realitasnya, kini konten-konten dakwah merekalah yang amat digemari oleh para pengguna media sosial. Alasannya jelas, sebab sejak awal mereka benar-benar siap terjun dalam dakwah, istikamah, dan terus melakukan evaluasi di setiap postingan dakwahnya. Dan kerennya, postingan-postingan dakwah mereka sama sekali tidak menampakkan wajah aslinya.
Para pegiat dakwah media sosial yang telah penulis sebut di atas, semuanya kompak hanya membagikan konten dakwahnya, baik berupa nasehat ulama, sepotong dua potong hadis, satu ayat al-Quran, motivasi mengerjakan amal-amal baik, dan lain-lain.
Mereka sama sekali tidak menaruh foto pribadinya, tidak menampakkan tubuhnya, apalagi memperlihatkan auratnya. Sebab mereka sadar, pengaruh media sosial sangat luar biasa dan jangkaunnya luas menembus dunia. Maka tentu, seorang Muslimah sejati akan meniru cara dakwah mereka. Muslimah sejati akan melihat kesempatan dan peluang ini dengan pandangan yang jeli, akan benar-benar menggunakan potensi media sosial ini untuk kepentingan dakwahnya, dan akan terus bersemangat menyebar kabaikan-kebaikannya lewat konten di media sosialnya.
Nabi bersabda “Barang siapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR Muslim).
Maka mau menunggu apa lagi Wahai Muslimah masa kini? Ambil kesempatan dan peluang emas ini. Tunjukkan kreasimu dan mulailah berdakwah lewat media sosial pribadimu. Selamat mencoba.




