Dahulu ketika para pemuka suku Quraisy musyrikin telah kehabisan akal untuk membendung dan menghentikan dakwah Baginda Nabi, mereka datang menemui Baginda Nabi menawarkan hal-hal menggiurkan kepada beliau; jika Baginda mau, mereka akan menjadikan beliau raja, atau jika beliau mau, mereka akan menjadikan beliau orang yang paling kaya.
Mereka berani mengajukan penawaran konyol seperti itu, karena mereka menduga bahwa Baginda Nabi mendakwahkan agama baru itu hanya karena motif uang dan kekuasaan. Padahal faktanya tidak begitu. Nabi mendakwahkan agama Islam itu murni karena Allah. Itulah sebabnya kenapa tawaran dari para pemuka kaum musyrikin itu ditolak mentah-mentah oleh Baginda Nabi.
Ketika membahas tema ini dalam Fiqhus-Sirah an-Nabawiyyah, Dr. Muhammad Sa‘id Ramadhan al-Buthi mengutarakan dua poin penting terkait dengan dakwah Islam. Pertama, bahwa dakwah itu harus dilakukan dengan tujuan yang benar. Kedua, dakwah harus dilakukan dengan cara yang benar. Tujuan dakwah yang benar adalah berdakwah semata-mata hanya karena Allah, mengajak objek dakwah pada agama Allah, bukan pada kehendak kita, golongan kita, organisasi kita, atau partai kita. Sedangkan cara dakwah yang benar adalah setiap cara yang baik yang diperkenankan oleh syariat Islam, atau tidak bertentangan dengannya.
Jadi di dalam dakwah Islam, tujuan yang benar saja tidak cukup, akan tetapi juga harus dilakukan dengan cara yang benar, yakni cara yang sesuai dengan syariat Islam. Karena, masih menurut al-Buthi, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan syariat Islam ini satu paket, berupa tujuan dan tata caranya sekaligus.
Itulah sebabnya kenapa Baginda Nabi menolak dengan tegas ketika ditawari banyak uang dan dijadikan raja. Padahal pikiran pragmatis mungkin akan berandai, bukankah sebaiknya Baginda Nabi menerima tumpukan uang itu dan menerima untuk dikukuhkan sebagai raja. Memang, untuk sementara beliau harus menghentikan dakwahnya, namun dalam waktu yang tidak terlalu lama, ketika posisi beliau sudah kukuh, beliau justru bisa menjadikan tumpukan uang dan posisi sebagai raja itu sebagai sarana untuk melanjutkan dakwah. Dan tentu saja, berdakwah ketika sudah menjadi orang terkaya sekaligus sebagai raja akan lebih mudah diterima oleh objek dakwah.
Namun sekali lagi, opsi itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Baginda Nabi. Karena jika itu beliau lakukan, maka pastinya akan menjadi presiden buruk bagi perjalanan dakwah ke depan. Bisa jadi berikutnya akan banyak orang yang sebenarnya hanya mencari kekayaan dan kekuasaan, namun menjadikan dakwah Islam sebagai kedoknya. Akhirnya tidak bisa dibedakan mana orang yang benar benar berdakwah tulus karena Allah, dan mana para dai palsu yang menjadikan dakwah sebagai kedok belaka.
Karena itu, fenomena yang terjadi belakangan ini, berupa fashion show para gus dan ning, yang berjalan lenggak lenggok di depan umum, dengan dalih mengisi lini dakwah yang kosong, sejatinya adalah ironi tersendiri dalam dakwah. Memangnya sejak kapan ada lampu hijau dari syariat bagi seorang perempuan untuk berjalan di catwalk menjadi pusat tontonan?
| BACA JUGA: RELATIVISME KEBENARAN?




