KHOTBAH GHADIR KHUM DAN SESAT NALAR SYIAH
RAMADAN
15 Ramadan diperingati sebagai hari lahir Imam Hasan bin Ali di Madinah pada tahun 3 H. Beliau lahir pada tahun ke-3 H, 11 bulan sebelum adiknya, Imam Husain.
Imam Hasan adalah imam ke-2 bagi umat Syiah Imamiyah, baik Syiah Itsna Asyariyah (12 Imam) maupun Syiah Ismailiyah (7 Imam). Bagi Ahlussunah, Imam Hasan adalah khalifah ke-5 yang menggenapi periode 30 tahun masa khilafah kenabian. Beliau resmi lengser dari takhta khilafiah dan menyerahkannya kepada Shahabat Muawiyah bin Abi Sufyan pada bulan Rabiul Awal tahun 41 H, tepat 30 tahun setelah pembaiatan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq.
Momem peringatan sakral berikutnya bagi kalangan Syiah pada bulan Ramadan adalah seputar Lailatul Qadar dan tragedi terbunuhnya Imam Ali bin Abi Thalib. Kedua momen itu diperingati bersamaan dalam 3 waktu:
Pada malam 19 Ramadan, umat Syiah memperingati malam Lailatul Qadar pertama, sekaligus meratapi peristiwa penusukan Imam Ali oleh Abdurrahman bin Muljam al-Muradi al-Madzhiji.
Dalam sejarah, Ibnu Muljam berkomplot dengan dua rekannya dari Bani Tamim, yaitu al-Hajjaj dan Amr bin Bakar, untuk secara serentak membunuh tiga pemimpin yang dianggap sebagai pemicu terpecahnya umat Islam, yaitu Imam Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan dan Amr bin al-Ash. Bagi ketiga pentolan Khawarij itu, gerakan ini dalam rangka balas dendam atas kekalahan kaum Muhakkimah Khawarij di Perang Nahrawan di bulan Safar tahun 38 H.
Khusus Ibnu Muljam, ada motivasi ekstra baginya. Ada seorang perempuan Bani Tamim yang menyimpan dendam kesumat terhadap Imam Ali. Namanya Qitham binti Adhbai’. Ayah dan saudaranya terbunuh di Perang Nahrawan. Diapun menawarkan diri untuk dinikah oleh Ibnu Muljam dengan nyawa Imam Ali sebagai maharnya.
Konon di malam pembunuhan itu, Ibnu Muljam tidur di rumah Qitham. Dan Qitham pula yang memberinya pisau beracun untuk dipakai membunuh Imam Ali.
Dua hari kemudian, pada 21 Ramadan, diperingati malam Lailatul Qadar kedua, serta peringatan syahidnya Imam Ali bin Abi Thalib.
Dan terakhir, pada 23 Ramadan, adalah puncak peringatan Lailatul Qadar yang bersamaan dengan malam Nuzulul Quran versi Syiah.
SYAWAL
Pada 8 Syawal, umat Syiah mengenang peristiwa dihancurkannya kompleks pemakaman Baqi’ pada tahun 1344 H, hampir seabad silam. Meski tidak ada seremoni khusus yang digelar, namun mereka tidak bisa melupakan tragedi ini begitu saja. Banyak tokoh ahlul bait yang kubah dan makamnya diratakan dengan tanah oleh Dinasti Saud yang waktu itu baru merebut tanah Hejaz dari Syarif Husain.
Kemudian di akhir Syawal, tepatnya 25 Syawal, Syiah memperingati hari wafat imam ke-6, yaitu Jakfar ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir pada tahun 148 H. Konon beliau wafat karena diracun oleh khalifah kedua Abbasiyah, Abu Jakfar al-Manshur (136-158 H).
DZUL QADAH
1 Dzul Qadah adalah tanggal kelahiran Sayidah Fathimah Ma’shumah, putri Imam Musa al-Kazhim dan adik daripada Imam Ali ar-Ridha. Boleh dikata, tokoh yang dikebumikan di Qom ini adalah perempuan agung keempat yang paling menonjol di kalangan Syiah, setelah Sayidah Khadijah, Sayidah Fathimah, dan Zainab binti Ali.
Kemudian 11 Dzul Qadah, adalah hari lahir imam ke-8 Syiah, Ali ar-Ridha bin Musa al-Kazhim. Beliau lahir pada tahun 148 H di Madinah. Tahun yang sama dengan wafatnya sang kakek, Imam Jakfar ash-Shadiq dan sang paman, yaitu Ali al-Uraidhi bin Jakfar yang tidak lain adalah leluhur marga Alawiyin.
Berikutnya, tanggal 25 Dzul Qadah sebagai Hari Dahwul Ardh atau hari dihamparkannya bumi. Ini berkaitan dengan QS an-Naziat: 30 (yang artinya): “Dan sesudah itu bumi dihamparkan-Nya.”
| BACA JUGA: SYIAH DAN HARI-HARI BESARNYA (4)
Umat Syiah meyakini bahwa hari ini mengandung banyak keutamaan dan mengandung anjuran agar berpuasa dan memperbanyak amal ibadah.
Dalam sejarah, tanggal 25 Dzul Qadah juga merekam beberapa peristiwa penting, seperti turunnya rahmat dari langit bagi Nabi Adam, berlabuhnya bahtera Nabi Nuh di bukti Judi, serta kelahiran Nabi Ibrahim dan Nabi Isa alaihimus-salam.
Hari terakhir Dzul Qadah merupakan hari wafat Imam Muhammad al-Jawad, imam ke-9 Syiah Itsna Asyariyah. Beliau wafat pada tahun 220 H dalam usia cukup muda, 25 tahun. Konon beliau wafat karena diracun oleh orang suruhan Khalifah al-Mu’tashim bin Harun ar-Rasyid (198-218 H). Namun tuduhan ini tidak berdasarkan riwayat yang jelas.Bahkan salah satu tokoh besar Syiah, Syekh al-Mufid Muhammad bin Nu’man (w 413 H) menyebutkan bahwa hal itu hanya praduga tak berdasar dan tidak didukung oleh riwayat yang bisa diterima.
Imam Muhammad al-Jawad dikebumikan bersama sang kakek, yaitu Musa al-Kazhim di kompleks Haram Kazhimi atau ‘Atabah Kazhimiyah di Baghdad.
DZUL HIJAH
Tanggal 1 Dzul Hijah diperingati sebagai hari pernikahan Imam Ali bin Abi Thalib dan Sayidah Fathimah binti Rasulillah shallallahu alaihi wasallam.
Kemudian 7 Dzul Hijah adalah hari wafat Imam Muhammad al-Baqir bin Ali as-Sajjad, imam ke-5 Syiah. Beliau wafat tahun 97 H dan dikebumikan di Baqi’, Madinah. Berkumpul dengan makam ayahanda dan makam putranya, Imam Jakfar ash-Shadiq. Makam ketiganya berjejer di samping makam Imam Hasan bin Ali dan tidak jauh dari makam Sayidina Abbas bin Abdul Muththalib.
Berikutnya 15 Dzul Hijah, hari lahir imam ke-10, yaitu Imam Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawad. Beliau lahir tahun 212 H di Madinah. Sesuai tradisi Syiah, beliau adalah imam yang menjabat dalam usia paling muda, yaitu 8 tahun. Beliau menjadi imam pasca wafatnya sang ayah, Muhammad al-Jawad pada tahun 220 H.
Kemudian pada tanggal 18 Dzul Hijah, umat Syiah memperingati salah satu hari raya terbesar mereka, yaitu Idul Ghadir. Dalam sejarahnya, Rasulullah sepulang dari Haji Wada’ pada tahun 10 H atau 3 bulan sebelum wafat, menyampaikan khotbah di suatu lembah memanjang (ghadir) bernama Khum, di utara Makkah. Khotbah di depan sekitar 120 ribu shahabat tersebut memuat satu kutipan krusial yaitu: “Man kuntu maulahu, fa ‘Ali maulah, barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpin (maula), maka Alli adalah maula-nya.”
Menurut Mazhab Syiah, khotbah di Ghadir Khum adalah bukti kuat bahwa Imam Ali adalah penerima wasiat Baginda Rasul shallallahu alaihi wasallam.
Sedangkan Ahlussunah berpandangan bahwa khotbah di Ghadir Khum hanya menegaskan keutamaan Imam Ali, dimana ketika itu ada beberapa orang yang tidak puas dengan keputusan beliau terkait pembagian harta rampasan yang diraih oleh pasukan Khalid bin Walid dalam operaasi militer ke Yaman.
Dan terkait klaim dari Mazhab Syiah di atas, Ahlussunah menolaknya dengan beberapa argumentasi:
Pertama, tidak ada redaksi sharih yang bermakna penunjukan atau suksesi kepemimpinan. Lafal maula sendiri memiliki banyak arti dan tidak otomatis mengarah kepada makna pengganti atau pewaris kepemimpiman.
Kedua, jika memang khotbah ini mengandung wasiat terkait suksesi kepemimpinan, dan lebih-lebih Syiah memasukkannya sebagai pokok ajaran agama, tentunya Rasulullah pasti menyampaikannya sebelum turunnya ayat Ikmal atau QS Al-Maidah: 3, yaitu Al-yauma akmaltu lakum dinakum yang turun pada hari Arafah sebelumnya, dan disampaikan kepada seluruh shahabat yang hadir di Arafah. Sangat janggal apabila khotbah yang memuat inti ajaran agama (versi Syiah) baru diucapkan 9 hari kemudian dan hanya disampaikan kepada shahabat yang berasal dari Madinah.
Ketiga, klaim Syiah di atas secara implisit juga menuduh bahwa seluruh shahabat berkomplot mengkhianati wasiat Rasulullah dengan melantik Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Jika memang khotbah tersebut mengandung wasiat secara eksplisit, tidak mungkin shahabat mengabaikannya.




