Terkadang Allah menguji hamba-Nya dengan rasa sakit. Bukan karena benci, namun agar seorang hamba mengerti betapa berharganya nikmat sehat yang telah lama Allah berikan. Sakit juga terkadang menjadi sebuah ujian untuk mengangkat derajat seseorang, bisa juga sebagai penebus dosa yang telah lalu. Lalu bagaimana tuntunan Islam saat seorang Muslim diuji dengan rasa sakit?
Sabar dan Rida
Seorang Muslim yang yakin bahwa semua kebaikan dan keburukan datangnya dari Allah, pasti akan sabar dan rida terhadap apapun yang Allah takdirkan untuknya. Termasuk jika Allah memberikan ujian rasa sakit kepadanya.
Kesabaran menjadi faktor penting untuk menarik datangnya rahmat Allah. Allah berfirman, (artinya) “Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. Al-Baqarah: 155)
Adapun sikap sabar yang dituntunkan oleh syariat adalah sabar tanpa henti, tanpa mengeluh, dan tanpa adanya rasa tidak terima atas keputusan Allah-meskipun hanya dalam hati. Sabar yang sungguh-sungguh ditunjukkan oleh lisan dan hati. Bukan oleh lisan yang berkata rida, namun hati tidak menerima, dan bergumam, “Mengapa begini, Ya Allah!”
Selain sabar, seorang Muslim juga harus rida atas apapun yang telah Allah tetapkan. Karena segala hal yang terjadi semuanya atas kehendak Allah. Mungkin kita bisa berkaca kepada kisah Nabi Ayyub; meskipun telah diuji dengan kehilangan seluruh harta benda, keluarga, dan dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, beliau tetap bersyukur dan rida atas ketetapan Allah. Lisan beliau tidak pernah berhenti mengucapkan hamdalah dan mensyukuri karunia Allah.
Ikhtiar Mencari Pengobatan
Selain sabar dan rida, seorang Muslim juga seharusnya berusaha menjemput kesembuhan, di antara sebab datangnya kesembuhan adalah berobat. Allah tidaklah menciptakan sebuah penyakit, kecuali Dia juga menciptakan obatnya.
Dalam berobat seorang Muslim juga harus selektif. Agama Islam sudah mengajarkan mana pengobatan yang legal dan mana yang dilarang oleh syariat. Seorang Muslim harus mencari pengobatan yang diperbolehkan oleh syariat. Bahkan jika memungkinkan, sangat dianjurkan untuk berobat menggunakan metode yang pernah diajarkan oleh Nabi, seperti hijamah (bekam), berobat dengan madu, jinten hitam, atau yang lainnya.
| BACA JUGA : ANTARA CINTA DAN RAYUAN
Berdoa
Ketika sakit, doa seorang Muslim lebih mudah diijabahi oleh Allah. Dalam al-Adzkar Imam an-Nawawi mengatakan bahwa doa orang sakit sama dengan doa para malaikat. Doa juga sebagai bukti kepasrahan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Di antara doa yang pernah Nabi ajarkan untuk seseorang yang sedang sakit adalah doa yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim,
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرْ سَقْمًا
“Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah sakit ini. Sembuhkanlah, Engkaulah as-Syafi (Sang Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari–Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.
Selain doa kesembuhan, juga dapat menyertakan doa pengampunan untuk diri sendiri, orang tua, dan umat Islam pada umumnya.
Bersedekah
Hal lain yang telah terbukti bermanfaat untuk menjadi wasilah penyembuhan adalah sedekah. Dalam hadis riwayat ath-Thabrani Rasulullah bersabda,
“Jagalah harta kalian dengan zakat, obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah, dan tolaklah bala dengan doa.”
Perihal kemujaraban sedekah sebagai media penyembuhan, Syekh Abdur Ra’uf Al-Munawi dalam kitab Faidhul-Qadir menulis, “Orang yang sakit diperintahkan sering-sering bersedekah… Hal ini sudah terbukti bagi mereka yang telah berhasil. Mereka mendapatinya sebagai obat (penyembuh) ruhaniyah yang ampuh di mana tidak didapatkan pada obat biasa.”
Terakhir, hendaknya kondisi tubuh yang sakit menjadi momentum yang tepat untuk bermuhasabah, sebab banyak penyakit yang Allah timpakan kepada seseorang karena dosanya sendiri. Wallahu A’lam.




