3 DZUL QA’DAH 748 H / 3 FEBRUARI 1348M
Pada bulan Dzul Qadah 748 H ulama pakar sejarah dan Hadis Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah at-Turkmani al-Fariqi asy-Syafii ad-Dimasyqi adz-Dzahabi wafat. Beliau lebih dikenal dengan sebutan adz-Dzhabi yang berarti emas, karena ayah beliau merupakan pengerajin emas.
Ayah beliau merupakan orang yang sangat perhatian dalam ilmu agama, ia membawa adz-Dzahabi kecil kepada salah seorang muaddib (guru agama). Ia mendidik anak-anak dalam membaca, menulis, dan berbahasa. Ia adalah Syekh Alauddin. Entah berapa lama adz-Dzahabi kecil berada dalam bimbingan Syekh Alauddin. Yang jelas, hingga tahun 682 H, menurut catatan sejarah, ia masih bermulazamah dengan Syekh Alauddin hingga sangat mahir dalam menulis.
Sejak kecil beliau sudah ilmu agama kepada beberapa guru, di antaranya Syekh Alauddin dalam bidang membaca dan menulis, Syekh Mas’ud dalam membaca al-Quran secara tahajji, Syekh al-Fadili, Syekh Jamaluddin, ad-Dimyathi dan Syihabuddin al-Khuwaiy dalam bidang qira’ah sab’ah.
Di samping menggeluti ilmu al-Quran dan qira’ah sab’ah, beliau juga sangat menggemari ilmu Hadis. Ratusan guru ia datangi untuk mendapat riwayat Hadis yang mereka punya. Saking meluapnya semangat mendapat hadis, terkadang ia mendapati guru-guru yang kondisinya tidak baik secara fisik.
Ia berkata tentang salah satu gurunya, Mahmud al-Kharaithi, “Beliau adalah seorang yang hampir tuli. Aku harus mendekatkan mulutku ke telinganya dan kubacakan riwayat-riwayat hadisnya dengan teriak”.
Adz-Dzahabi bertualang ke luar negeri Syam untuk memperdalam ilmu. Hatinya begitu rindu untuk bertemu ulama di negeri-negeri Islam. Namun, kerinduannya tak begitu saja dengan mudah mengantarnya kepada mereka. Ayahnya tidak tega bila adz-Dzahabi pergi jauh meninggalkannya. Sangatlah dimaklumi karena adz-Dzahabi adalah anak semata wayang. Ia juga masih sangat muda saat kakinya mulai kokoh dalam ilmu. Sementara timba para ulama dalam negeri Syam telah ia reguk hingga tetes-tetes penghabisan. Saatnya ia bertualang.
| BACA JUGA : LITERASI ISLAM, CAHAYA PERADABAN DARI TIMUR
Namun, adz-Dzahabi bukanlah sosok pemuda yang durhaka. Ia sangat memahami bahwa di antara adab mencari ilmu adalah meminta izin kepada orang tua sebelum bertualang. Dengan penuh adab, adz-Dzahabi mendekati sang ayah. Sampai akhirnya sang ayah mengizinkannya untuk bertualang ke luar Damaskus dengan batasan waktu tidak lebih dari 4 bulan. Setiap bertualang, ayahnya selalu mengutus seorang pendamping yang menyertai adz-Dzahabi.
Waktu-waktu yang singkat, tetapi penuh berkat. Ia gunakan kesempatan emas ini untuk berkunjung ke Himsh Tarablus, Kurk, Marah, Bushra, Nablus, Ramlah, al-Quds, Tabuk, juga negeri Mesir.
Adz-Dzahabi sempat menduduki sejumlah jabatan keilmuan di Damaskus. Di antaranya pemberi khutbah, menjadi Syekh pengajar agung di sejumlah perguruan Hadis, seperti Darul-Hadis di Turbah Umm ash-Shalih, Darul-Hadis azh- Zhahiriyah, Darul-Hadis wal-Qur’an at-Tankiziyah, dan Darul-Hadis al-Fadhiliyah.
Semua kesibukan ini tidaklah menghalangi beliau untuk melakukan penelitian ilmiah dan penulisan karya. Ketika beliau berpindah ke Kafarbathna, sebuah kampung yang hening terletak di bilangan Ghuthah, Damaskus, beliau menulis banyak karya. Bahkan, beliau berhasil meninggalkan kekayaan ilmiah yang besar dan penuh berkah. Di mana kitab-kitab dan karya tulis beliau mencapai 200 lebih yang mencakup ilmu Qiraat, Hadis, Mushthalah Hadis, sejarah, biografi, Akidah, Ushul Fikih, dan lain-lain.
Di antara karangan beliau yang terkenal adalah: Siyar A’lamin-Nubala, Mizanul-I’tidal, Al-Ibar fi Khabar man Ghabar, Al-Mughni fidh-Dhu’afa, Al-Kasyif, Tadzkiratul-Huffazh, dan masih banyak yang lain.
Setelah mengalami kebutaan lebih dari 4 tahun, beliau meninggalkan dunia ini. Beliau wafat pada malam Senin, 3 Dzul Qadah 748 H/3 Februari 1348 M. Beliau dimakamkan di Bab Ash-Shaghir kota Damaskus.




