Indonesia merdeka tetapi belum mendapatkan pengakuan dunia Internasional, oleh karena itu para pejuang kemerdekaan terus berupaya menggalang pengakuan Internasional. Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kedaulatan kemerdekaan Indonesia secara sah. Pernyataan itu juga membuat pihak Belanda protes pada Mesir yang dianggap sewenang-wenang terhadap salah satu kawasan jajahannya yang belum berdaulat dan masih berada di bawah kekuasaannya.
Adalah Haji Agus Salim, AR. Baswedan, Mr. Nazir Pamoentjak, dan Rasjidi yang menjadi utusan menuju Mesir. Kunjungan ini merupakan balasan setelah sebelumnya Muhammad Abdul Mun’im, Konsul Jenderal Mesir di Bombay (kini Mumbay, India) datang ke Jogjakarta (13-16 Maret 1947) untuk mewakili negerinya dan membawa pesan dari Liga Arab yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Mun’im datang ditemani Ketut Tantri (Muriel Pearson), perempuan Amerika yang banyak membantu perjuangan rakyat Indonesia di masa revolusi.
Menurut catatan AR Baswedan, pada 15 Maret 1947, bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan Mesir yang ke-23, Mun’im menghadap Presiden Soekarno (untuk) menyampaikan pesan-pesan dari Liga Arab. Pesan itu berupa hasil keputusan sidang Dewan Liga Arab yang diselenggarakan pada 18 November 1946 yang menganjurkan seluruh anggota Liga Arab mengakui kedaulatan Republik Indonesia berdasarkan ikatan keagamaan, persaudaraan, serta kekeluargaan. Menurut sumber lain, solidaritas dari negara anggota Liga Arab tersebut diinisiasi oleh gerakan Ikhwanul Muslimin yang berpusat di Mesir. Ikhwanul Muslimin sendiri merupakan gerakan persaudaraan muslim yang didirikan oleh Hassan Al-Banna, pemikir sekaligus tokoh pembebasan yang getol menentang kolonialisme Inggris di Mesir dan aktif menggalang persaudaraan di kalangan umat muslim.
Baca juga: Perjuangan Terus Berlanjut
Kedatangan delegasi Indonesia ke Mesir disiarkan secara luas oleh surat kabar Mesir. Hal itu membuat Dubes Belanda di Mesir berupaya menggagalkan misi Haji Agus Salim dan rombongan dalam menjalin persahabatan. Belanda beralasan bahwa Indonesia bukanlah republik merdeka yang berdaulat melainkan masih berada di bawah kekuasaan Belanda. Sehingga tindakan politik apa pun yang mengatasnamakan Indonesia tanpa sepengetahuan dan atas nama Belanda, tidak diakui.
Belanda menutup fakta atas kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945. Mereka malah menyebar opini sesat tentang Indonesia bahwa Indonesia yang baru berdiri ini merupakan hasil kerjasama kelompok ekstrimis republik dengan fasis Jepang. Bahkan tersiar kabar bahwa Bung Karno dan Bung Hatta akan diadili sekutu sebagai penjahat perang. Oleh karena kampanye negatif Belanda itulah, pihak Indonesia berusaha mengimbangi dengan mengirimkan diplomat ke berbagai forum Internasional.
Sebelum delegasi Indonesia bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Mesir, Nokrashi, di kantor Kementerian Luar Negeri Mesir, ternyata sudah ada Duta Besar Belanda di Mesir yang lebih dulu mendatangi pemerintah Mesir. Nokrashi bercerita bahwa pihak Belanda protes dan keberatan dengan cara pemerintah Mesir memperlakukan delegasi Indonesia. Duta Besar Belanda mengingatkan Mesir tentang hubungan ekonomi Mesir dengan Belanda.
Baca juga: Calon Pemimpin Yang Sesungguhnya
Belanda juga mengancam akan menarik dukungannya terhadap Mesir terkait persoalan Palestina yang dibawa Mesir ke forum PBB.
PM Nokrashi atas nama bangsa Mesir tak gentar sedikit pun. Dia malah memberikan jawaban di luar dugaan Dubes Belanda. “Menyesal sekali kami harus menolak protes, Tuan, sebab Mesir selaku negara berdaulat dan sebagai negara yang berdasarkan Islam, tidak bisa tidak mendukung perjuangan bangsa Indonesia yang beragama Islam. Ini adalah tradisi bangsa Mesir dan tidak dapat diabaikan,” kata Nokrashi seperti dikutip oleh AR Baswedan. Dubes Belanda akhirnya meninggalkan PM Nokrashi dengan perasaan kecewa.
Perjanjian persahabatan antara Mesir dengan Indonesia pun berhasil ditandatangani. Tanda tangan dilakukan oleh Menteri Muda Luar Negeri Indonesia Haji Agus Salim dengan Nokrashi Pasha dalam kapasitas sebagai Menteri Luar Negeri Mesir. Disaksikan oleh AR Baswedan selaku Menteri Muda Penerangan Indonesia, Rasjidi dan Dr. Nazir Dt. Pamoentjak dari pihak Indonesia serta Abdul Mun’im dan Sekjen Kemlu Mesir Dr. Kamil dari pihak pemerintah Mesir.
Penandatanganan perjanjian persahabatan dua negara tersebut sekaligus sebagai penanda pengakuan Mesir secara legal atas kedaulatan Republik Indonesia. Dengan demikian, persyaratan formal berdirinya sebuah negara sudah terlengkapi dan diakui negara lain secara de jure dan de facto.
N. Shalihin Damiri/sidogiri




