semua orang pasti ingin panjang umur, tapi tentu tidak semua orang menghendaki menjadi ringkih atau bahkan pikun akibat lanjut usia. Penuaan adalah bagian dari proses alami manusia yang sulit dihindari. Bersamaan dengan proses penuaan tersebut, bukan hanya kondisi fisik yang menurun drastis, tapi juga datang penyakit pikun.

Pikun bisa mempengaruhi aktivitas seseorang, termasuk ibadah yang harus dijalankan. Pikun bisa menyebabkan seseorang lupa untuk melaksanakan shalat, yang kadang merasa sudah melakukannya. Atau bahkan, terkadang melaksanakan shalat berulang kali, karena merasa belum melaksanakannya. Diingatkan akan membantah, karena orang yang terserang penyakit pikun biasanya tidak mau mengakui apa yang dilakukan.

Dalam dunia medis, pikun dikenal dengan istilah demensia yang didefinisikan sebagai reaksi terus menurunnya kemampuan berpikir secara drastis, akibat menurunnya fungsi jaringan otak. Risiko seseorang mengalami demensia atau pikun ini semakin bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Umumnya, orang yang menderita pikun mengalami gangguan short term memory (ingatan jangka pendek). Kondisi ini sangat jarang menyerang orang muda dan bahkan tak lazim diderita orang berusia paruh baya.

Dalam pandangan fikih, pikun berkaitan erat dengan akal yang menjadi motor aktivitas seseorang ibadah seseorang. Sebagaimana maklum, kesempurnaan akal menjadi salah satu indikator seseorang terkena hukum syariah, sebab syariah hanya bisa didapat dan dirasakan oleh mereka yang memiliki akal sempurna. Oleh karena itu, Allah tidak akan membebani mereka yang tidak memiliki kapasitas untuk menerima beban syariah, karena mungkin disebabkan akal dan pikirannya belum sempurna.

Orang gila, misalnya, tidak mungkin tahu bahwa shalat adalah kewajiban yang harus dijalankan. Anak kecil yang belum cukup umur juga tidak diwajibkan untuk melakukan shalat karena belum memasuki usia yang bertanggung jawab sehingga kapasitas untuk menangkap esensi peribadatan belum sempurna. Dari itulah, Allah tidak menuntut mereka untuk mengerjakan ibadah, karena mereka bukan ahli dalam ibadah (laysa ahlan lil ibadah).

Dengan demikian, berakal dan baligh adalah syarat yang harus dipenuhi untuk mengerjakan ibadah dalam syariat, termasuk shalat. Sebab, tanggung jawab kehambaan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berakal dan dewasa. Terlebih, Allah tidak membebani mereka dengan kewajiban menjalani hukum syariah sehingga ’dosa’ tidak akan disandangkan pada mereka manakala meninggalkan shalat. Ini berbeda dengan mereka yang telah dewasa dan memiliki akal yang sempurna, kata dosa dan ancaman siksa disematkan manakala mereka tidak mengerjakan ibadah shalat.

Dalam beberapa pembahasan fikih, yang sering disinggung dalam hal berkurangnya taklif syariah disebabkan berkurangnya akal adalah gila (majnun), anak kecil (shabi), tidur (naum) dan epilepsi (mughma ‘alaih). Sementara pikun (kharaf) atau perubahan akal disebabkan penuaan, sedikit disinggung, padahal ini juga bagian dari perubahan pada akal. Dalam sebuah hadis berkaitan dengan terlepas catatan amal (rufi ’ al-qalam) juga disebutkan tiga: anak kecil, tidur dan gila.

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

 “Tuntutan dihilangkan pada (tindakan) tiga orang: orang tidur hingga terbangun, anak kecil hingga mimpi basah (baligh) dan orang gila hingga sembuh.” (H.R. Abi Daud).

Hal ini mungkin, karena pikun bukan bagian inti penyakit, meski di sebagian riwayat kharaf juga disinggung. Sebagaimana disebutkan oleh as-Suyuthi (w. 911 H.), pikun berada di fase antara gila dan epilepsi, hanya lebih banyak mengarah ke apilepsi (mughma ‘alaih) ketimbang pada gila. Hal ini sama dengan epilepsi yang tidak disinggung dalam hadis. Menurut as-Subki, yang juga dikutip oleh as-Suyuthi dalam Asybah wa an-Nazhair-nya, epilepsi semakna dengan tidur.

Dengan demikian, pikun adalah di antara penyakit yang menyebabkan seeorang kehilangan taklif, sekelas dengan gila dan epilepsi, karena termasuk bagian dari penyakit yang mengurangi kesempurnaan akal. Oleh karena itu, kewajiban menjalankan syariah, termasuk shalat dan qadha’, menjadi gugur disebabkan pikun yang menderanya, karena tidak tergolong mukallaf.

Hanya kemudian, sebagai mani’ atau penghalang pemberlakuan syariah, pikun tidak berlaku secara mutlak; orang pikun tidak berkewajiban sama sekali sebagaimana anak kecil. Pikun sekelas dengan haid, termasuk juga gila, yang bisa datang dan pergi. Hal inilah yang kemudian menyebabkan seseorang yang mengalaminya masih bisa terkena taklif dalam suatu waktu sehingga sembuh dari pikun mewajibkan qadha atas ibadah yang ditinggalkan.

Dengan maksud lain, kewajiban syariah semisal shalat, terhalang secara penuh oleh mani’ atau penghalang berupa pikun yang sampai menghabiskan waktu mengerjakannya. Gambarannya, saat masuk shalat Zhuhur, misalnya, ia sudah pikun dan pikun tersebut menghabiskan waktu pelaksanaan shalat Zhuhur sampai masuk waktu shalat Ashar. Dengan demikian, ia tidak berkewajiban shalat Zhuhur dan tidak wajib meng-qadha’– inya.

Hal ini berbeda jika mani’ berupa pikun ini sesekali datang dan pergi pada saat kewajiban syariah dibebankan. Seseorang yang penyakit pikunnya hilang pada saat kewajiban shalat akan berakhir, tetap berkewajiban melaksanakannya, meski tidak bisa mengerjakaannya saat itu. Termasuk pikun datang pada awal waktu shalat dan belum melaksanakannya, maka tetap berkewajiban qadha’.

Akan tetapi, rentang waktu dan porsi pelaksanaan ibadah saat sembuh dari pikun tetap dipertimbangkan, seberapa lama ia sembuh? Ketika pikun datang setelah masuk waktu shalat yang cukup untuk mengerjakan shalat seringan mungkin, tapi belum mengerjakannya, maka ia wajib mengqadha’ shalat yang ditinggalkan, ketika nanti sudah ingat. Termasuk wajib qadha, kesembuhan dari pikun yang terjadi pada akhir waktu shalat dalam sisa waktu yang cukup untuk takbiratul ihram.

Ketentuan seperti ini sama dengan wanita haid. Jika haid datang setelah masuk waktu shalat dalam waktu yang cukup mengerjakan shalat seringan mungkin berikut bersucinya, maka setelah suci dari haid berkewajiban qadha’, meski shalat yang ditinggalkan saat haid tidak wajib. Saat haid berakhir, juga sama. Jika bersih dari haid terjadi menjelang akhir waktu shalat dan cukup untuk takbiratul ihram maka wajib meng-qadha’nya, termasuk shalat sebelumnya yang bisa dijama’.

Kesimpulannya, pikun sekelas dengan gila dan epilepsi yang menyebabkan terangkatnya taklif syariah. Datang dan perginya penyakit ini juga menjadi pertimbangan dalam penentuan kewajiban tersebut, termasuk ketentuan qadha’ saat meninggalkannya. Sebagai sebuah penyakit, sudah barang tentu tidak bisa dibuat-buat, apalagi sekedar untuk menghindari kewajiban syara’.

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri