Masjid bagi umat Islam tak sekadar jadi tempat ibadah, melainkan juga menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan yang memberikan kontribusi bagi sejarah perkembangan Islam. Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia pada saat ini tak pelak dari peranan masjid yang dibangun oleh penyebar Islam pada masa silam. Karena keberadaan masjid bukan sekadar sebagai simbol yang menandakan adanya komunitas umat Islam. Namun juga memiliki jejak signifi kan bagi kesejarahan dunia Islam di tanah air.

Tak terkecuali perkembangan Islam yang disebarkan oleh Kesultanan Banten –yang sejarahnya seakan tiada habisnya mewarnai rubrik jelajah dalam majalah ini. Hanya saja sejarah Kesultanan Banten yang dimuat sampai beberapa kali di edisi sebelumnya, dirasa belum klop jika sejarah Masjid Agung Banten, belum kami suguhkan kepada para pembaca budiman.

Dalam catatan sejarah purbakala, masjid yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin ini, merupakan satu-satunya situs sejarah Kejayaan Kesultanan Banten yang masih utuh sampai saat ini. Keberadaanya yang tepat di tengah komplek pemakaman Kesultanan Banten, menjadikan masjid ini tak hanya sebagai tempat wisata religi, namun juga menjadi destinasi religi yang kaya akan histori dan budaya, sarat dengan bukti arkeologi sebagai sejarah paradaban Islam di Nusantara.

Salah satu kekhasan yang tampak dari masjid ini adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda China yang dirangcang oleh Raden Sepat, arsitek dari Majapahit yang sudah berpengalaman membangun masjid, seperti Masjid Demak dan Cirebon. Ada juga bukti histori bahwa Tjek Ban Tjut, arsitek asal China yang juga ditengarai turut berperan dalam pembangunan salah satu masjid tertua di Indonesia ini. Terutama pada bagian tangga masjid. Berkat jasanya itulah Tjek Ban Tjut memperoleh gelar Pangeran Adiguna.

Bangunan masjid yang memiliki luas mencapai 1 hektar dengan luas kompleks masjid 2 hektar ini, tak pernah sepi dari pengunjung domestik dan manca negara. Utamanya pada halaman yang terhampar luas di antara masjid dan alun-alun Banten Lama terdapat menara yang mirip mercusuar. Menara ini terbuat dari batu-bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Dengan latar belakang menara inilah para pengunjung berselfiria mengabadikan diri bersama keluarga dan handaitolan.

Namun siapalah menyangka, Jika benda cagar budaya yang menjadi ikon Kota Serang merupakan karya dari seorang muallaf berkebangsaan Belanda. Pada tahun 1620 M, semasa Sultan Haji berkuasa, datanglah Hendrik Lucaz Cardeel ke Banten, yang melarikan diri dari Batavia dan berniat masuk Islam.

Kepada Sang Sultan, ia menyatakan kesiapannya untuk turut serta membangun menara masjid dan paviliun yang terletak di selatan masjid dengan nama tiyamah, berfungsi sebagai tempat musyawarah dan kajian keagamaan. Hal ini dilakukan sebagai wujud keseriusannya untuk masuk Islam. Karena jasanya tersebut, Cardeel kemudian mendapat gelar Pangeran Wiraguna.

Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dengan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Dari atas menara pengunujng dapat menyaksikan penorama pemandangan sekitar dan perairan lepas pantai karena jarak antara menara dengan laut hanya sekitar 1,5 km.

Konon selain digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan, menara yang berbentuk persegi delapan ini, dulu juga digunakan sebagai tempat menyimpan senjata dan mengawasi kesibukan Pelabuhan Karangantu sebagai pelabuhan terbesar ketika itu yang dihancurkan oleh Belanda.

Kejeniusan kolaborasi arsitektur dalam membangun masjid ini juga tampak dari pintu masuk masjid. Pintu masuk Masjid di sisi depan ada 5 dan di samping ada 1 yang semuanya berjumlah 6, yang melambangkan ‘rukun iman’.

“Keenam pintu ini dibuat pendek tujuannya agar setiap jamaah yang masuk merasa merendahkan diri di hadapan hadirat Allah. Serta meninggalkan segala bentuk keangkuhan. Kaya-miskin juga sama, kita rendah di hadapan Allah,” ungkap Abbas Wasse, yang kami temui di serambi kanan masjid.

Baca juga: Pesarean Sentono Boto Putih

Memasuki masjid ini jika dipandang secara seksama akan menemukan berbagai benda yang apabila diteliti, kesemuanya memiliki fi losofi  serta simbol masing-masing. Salah satunya 24 tiang penyangga atap masjid merupakan simbol waktu 24 jam dalam sehari semalam. Sementara masing-masing tiang membentuk segi 8 dengan terbagi menjadi 3 menandakan tiga pembagian waktu dari 24 jam. Yaitu untuk ibadah, untuk bekerja dan mencari penghidupan, serta untuk istirahat.

“Merupakan simbol 24 jam dalam sehari semalam. Angka 3 merupakan simbol dari ma’isyah, ibadah dan istirahat. Jadi pesan yang disampaikan, agar umat Islam bisa memanfaatkan waktu seadil-adilnya untuk ketiga hal tersebut. Ada waktu untuk beribadah, ada waktu mencari penghidupan serta waktu untuk beristirahat,” jelasnya dari luar masjid kerena ketika itu kami berkunjung bukan jam buka masjid.

Lebih lanjut pria yang menjabat sebagai takmir masjid, menjelaskan beberapa fi losofi  yang terekam dalam bangunan ini. Di antaranya ada umpak batu andesit berbentuk labu ukuran besar yang terdapat pada tiap dasar tiang masjid dan juga pendopo digambarkan sebagai simbol pertanian untuk mengingatkan kemakmuran kesultanan Banten Lama pada masanya. Kiranya dari simbol pertanian ini, akan menimbulkan tanda tanya bagi pegunjung. “Patutkah Indonesia sebagai negara Agraris kekurangan sandang pangan?” Wong pendiri bangsa ini telah menyiapkan dengan Gemah ripah loh jinawi?

Moh. Kurdi Arifin (Santri PPS asal Malang)

Spread the love