Kota Solo tidaklah asing lagi bila terngiang di telinga kalangan kita, umat islam. Lebih-lebih dengan monumen-monumen kuno Islam-hindunya, menjadi daya tarik dan keunikan tersendiri bagi para pelancong yang kebetulan berkunjung di kota yang satu ini. Dari berbagai masjid yang ada di Solo, ada salah satu masjid yang setiap tahunnya sangat dipadati oleh para pelancong dari berbagai wilayah bahkan luar kota. Masjid yang satu ini dikenal dengan Masjid Ar-Riyadh Solo. Salah satu Masjid kebanggaan masyarakat Solo, utamanya bagi para ulama, santri khususnya Para Habaib. Sebab didalam area Masjid Riyadh ini, ada tiga makam keturunan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi pengarang Maulid Simthud Durar. Masjid Riyadh bisa jadi adalah replika Masjid Ar-Riyad yang dibangun oleh ayahanda Habib Alwi Al-Habsyi yakni Habib Ali di kota Seiwun, Hadramaut, Yaman. Bahkan, mulai dari nama masjid, struktur, tata letak ruangan dibuat semirip mungkin dengan masjidi Riyadh yang dibangun oleh Habib Ali al-Habsyi di Seiwun, Hadramaut. Aura masjid Riyad Seiwun seakan merasuk ke dalam Masjid Ar-Riyadh Solo.
Keberadaan Masjid ar-Riyadh Solo tidak dapat terlepaskan dari napak tilas dakwah Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi di kampung Gurawan Solo. Habib Alwi merupakan salah satu putra bungsu kesayangan Habib Ali Al-Habsyi sang pengarang Maulid Simthud Durar dari Seiwun, Hadramaut, Yaman. Sebelum Habib Alwi Al-Habsyi hijrah ke Solo, mayoritas masyarakat sekitar Gurawan dan masyarakat Solo pada umumnya beragama Hindu dan ada juga yang berpaham kejawen. Hingga suatu ketika, Habib Muhammad bin ‘Idrus Al-Habsyi yang berdomisili di Surabaya dawuh “Insya allah, dikemudian hari nanti Islam akan berjaya di Solo dan kekufuran akan bekurang”. Konon, dawuh Habib Muhammad Bin ‘Idrus Al-Habsyi inilah menjadi cikal bakal dakwahnya Habib Alwi Al-Habsyi di Solo dan didirikannya Masjid Ar-Riyadh. Bahkan tidak sampai di situ, dawuh Habib Muhammad bin ‘Idrus Al-Habsyi juga termaktubkan dalam salah satu syiirnya semasa hidupnya di Surabaya.
Baca Juga: Gua Akbar Dari Markas Berandal, Menjadi Markas Ulama
Habib Alwi Al-Habsyi rela meninggalkan kampung halamannya sesaat setelah ayahanda untuk hijrah berdakwah ke Indonesia mengikuti titah dakwah sang ayahanda tercinta. Sebab, dari beberapa murid-murid ayahanda beliau, mayoritas mereka merupakan santri asal Indonesia. Sebelum beliau menetap di Gurawan Solo, ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau pernah bertempat tinggal di Jakarta dan ada versi lain yang menyebutkan beliau berdomisili di Palembang. Dan kota Solo merupakan tempat tinggal akhir hijrah beliau.
di makam. nampak Habib Hasan bin anis alHabsyi memimpin (barisan ke-tiga dari depan
bagian kanan foto).
Kedatangan beliau di solo, sebenarnya buah dari ajakan salah satu teman beliau yaitu habib Muhammad bin Abdullah Al-Idrus. Lebih-lebih beliau terdorong untuk menetap disana disebabkan salah satu saudara kandung beliau yaitu Habib Ahmad bin Ali al-Habsyi yang lebih dahulu menetap disana. Hingga pada tahun 1355 H Masjid Riyadh resmi dibangun di atas sebidang tanah yang diwakafakan Habib Muhammad bin Abdullah Al-‘Idrus. Setelah dibangunnya masjid inilah, Habib Alwi Al-Habsyi lebih geliat dalam berdakwah. Beliau memulai dakwahnya dengan berinteraksi dan berbaur langsung dengan masyarakat sekitar -bahkan beliau pernah disibukkan hanya untuk belajar bahasa Jawa halus (ragil, red jawa) agar mudah bergaul dengan masyarakat- hingga dengan membuka majlis taklim yang beliau asuh sendiri di dalam Masjid Ar-Riyadh hingga sekarang.
ali al-Habsyi
Baca juga: Masjid Isliqlal, Masjid Kebanggaan Umat Islam Di Indonesia
Ada beberapa hal yang membuat hati kami terkesan ketika berkunjung di sana. Di antaranya, masjid yang satu ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah dan shalat berjamaah. Lebih dari itu, Masjid Riyadh bisa dikatakan masjid yang multifungsi dan komplit sarat akan syiar ilmu dan keislaman. Sebab, beberapa kegiatan keagamaan, mulai pembacaan yasinan, tahlilan hingga pengajian kitab berbagai macam bidang pun juga menjadi rutinitas kegiatan masjid. Waktu pelaksanaannya pun terjadwalkan. Misal, setelah zikir Subuh dilanjutkan dengan pembacaan yasin dan tahlil bersama masyarakat sekitar ke makam Habib Alwi, Habib Ahmad bin Ali Al-Habsyi yang terletak di bangunan yang tersambung dengan masjid sebelah selatan masjid. Kegiatan ini dipimpin oleh habib Hasan Bin Anis Al-Habsyi, cucu dari Habib Alwi Al-Habsyi. Kemudian pegajian kitab juga merupakan menu asupan ilmu yang juga diajikan secara khidmah di zawiyah sebelah utara masjid. Antusiasme masyarakat pun juga tidak kalah hebat, tercatat kira-kira delapan puluh hingga seratus orang yang khidmah mengikuti jalannya pengajian. Bahkan tidak jarang dari sebagian jamaah yang mengikuti pengajian, mereka berasal dari luar kota. Di antara kitab yang di sajikan sebagai materi pengajian adalah kitab Fikih Syafi’i, Ihya’ Ulumiddin Imam Al-Ghazali, Shahih Bukhari, Shafwatut Tafasir, dsb. Termasuk kegiatan rutinitas setiap tahunnya yang tidak kalah masyhur bagi kalangan umat islam Indonesia, bahkan tergolong acara terbesar dengan ribuan jamaahnya yang tumpah ruah menghadiri acara ini, yaitu yang disebut dengan Haul Solo. Berbagai jamaah berduyun-duyun menghadiri Haul Solo ini hanya untuk ngalap berkah dari Habib Alwi Al-Habsyi dan umumnya para Habaib.
Moh. Baihaqi/sidogiri







