MONUMEN KEBANGGAAN BUKITTINGGI DAN HADIAH RATU BELANDA
Jam Gadang bertempat dijalan Raya Bukittinggi Payakumbuh, Benteng Pasar Ateh, Bukittinggi, Sumatera Barat. Jam Gadang terletak di Kawasan Taman Sabai Nan Aluih. Karena lokasinya yang berada di tengah-tengah kota, Jam Gadang kemudian dijadikan titik nol Kota Bukittinggi. Berjarak 72 kilometer dari Bandara Internasional Minangkabau. Jarak tempuh dari bandara menuju Jam Gadang membutuhkan waktu sekitar dua jam.
SEJARAH SINGKAT
Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Makanya, atap berbentuk gonjong di puncak menara yang kini dapat kita saksikan bukanlah bentuk asli dari bangunan tersebut pada masa awal pendiriannya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, atap pada Jam Gadang berbentuk bulat bergaya khas Eropa dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Kemudian pada masa pendudukan Jepang, diubah menjadi bentuk pagoda, mengikuti gaya arsitektur Jepang. Setelah Indonesia merdeka, atap pada Jam Gadang diubah menjadi bentuk gonjong atau atap pada rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang. Pada tahun 2010, dilakukan renovasi terakhir yang dilakukan pada Jam Gadang oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan dukungan pemerintah Kota Bukittinggi dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan tepat pada ulang tahun Kota Bukittinggi yang ke-262 pada tanggal 22 Desember 2010.
Bangunan Jam Gadang memiliki 4 tingkat. Tingkat pertama merupakan ruangan petugas, tingkat kedua tempat bandul pemberat jam. Sementara pada tingkat ketiga merupakan tempat dari mesin jam. Dan tingkat keempat merupakan puncak menara di mana lonceng jam ditempatkan.
Bagian dalam menara jam ini setinggi 26 meter, yang terdiri dari beberapa tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul (benda yang terikat pada sebuah tali dan dapat berayun secara bebas). Bandul tersebut sempat patah hingga harus diganti akibat gempa pada tahun 2007. Terdapat 4 jam dengan diameter masing-masing 80 cm pada Jam Gadang.
Sistem yang bekerja di dalamnya menggerakkan jam secara mekanik melalui dua bandul besar yang saling menyeimbangkan satu sama lain. Sistem tersebut membuat jam ini terus berfungsi selama bertahun-tahun tanpa sumber energi apapun. Mesin yang berada di lantai tiga ini menggerakkan jarum jam yang menghadap keempat penjuru mata angin.
Seluruh angka jam dibuat menggunakan sistem penomoran Romawi, akan tetapi angka empat ditulis dengan cara diluar kelaziman, yaitu dengan empat huruf ‘I’ (IIII) dan bukan dengan tulisan ‘IV’. Hal ini menjadi salah satu daya tarik yang menimbulkan rasa penasaran bagi para wisatawan yang berkunjung ke monumen ini.
| BACA JUGA: MENGINDONESIAKAN ISLAM?
Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortman. Sedangkan Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempatdiproduksinya mesin jam pada tahun 1892. Dari sini kita bisa tau bahwa, mesin jam yang digunakan di dalam monumen ini merupakan barang langka yang hanya diproduksi dua unit oleh pabrik Vortmann Recklinghausen, Jerman. Unit kedua yang setipe dengannya hingga kini masih digunakan dalam menara jam legendaris Kota London, Inggris, yaitu Big Ben.
Konstruksi bangunan menara jam ini dibangun oleh arsitek asli Minangkabau, Jazid Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh. Dibangun tanpa menggunakan besi psenyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur, dan pasir putih. Pembangunannya secara resmi selesai pada tahun 1926 dengan menghabiskan dana mencapai 3.000 Gulden (mata uang Belanda selama beberapa abad), biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda atau markah tanah dan juga titik nol Kota Bukittinggi.
HADIAH DARI RATU BELANDA
Menampilkan alat blok lainnya
blob:https://sidogirimedia.com/b023aba3-29e6-454e-b23c-e32302a3fee0
jam Gadang sendiri didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda atas perintah dari Ratu Wilhelmina dari Belanda. Jam ini merupakan hadiah kepada HR Rookmaaker yang ketika itu menjabat sebagai Sekretaris Kota Bukittinggi. Didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur dan digerakkan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu Jam Gadang itu sendiri dan Big Ben di London, Inggris. Maka tak heran jika kemudian peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker sendiri yang pada saat masih berusia 6 tahun.
KISAH SANG SAKA KALA
Ketika berita proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan di Bukittinggi, bendera merah putih untuk pertama kalinya dikibarkan di puncak Jam Gadang, setelah melalui pertentangan dengan pimpinan tentara Jepang. Dan pemuda yang memimpin massa untuk menaikkan pertama kali Sang Saka Merah Putih di puncak Jam Gadang bernama Mara Karma.
Pada masa pmerintahan Revolusioner Republik Indonesia (1958- 1961), terjadi pertempuran antaraTentara Indonesia (ketika itu bernama Angkatan Perang Republik Indonesia atau APRI) dengan pasukan PRRI. Di bawah Jam Gadang, APRI membunuh sekitar 187 orang dengan cara ditembak. Hanya 17 orang dari jumlah tersebut yang merupakan tentara PRRI, sedangkan selebihnya merupakan rakyat sipil. Para mayat lalu dijejer di halaman Jam Gadang.
Selain menjadi bangunan peninggalan era Hindia Belanda yang identik dengan kota yang dahulu pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Barat ini, Jam Gadang juga merupakan simbol dari Kota Bukittinggi. Menara jam ini terus menjadi kebanggaan bagi warga Bukittinggi, dengan bukti banyaknya gambar Jam Gadang yang terpampang di berbagai jenis souvenir khas kota ini.




