رُبَّمَا كُنْتَ مُسِيْئًا فَأَرَاكَ الْإِحْسَانَ مِنْكَ صُحْبَتُكَ لِمَنْ هُوَ أَسْوَأُ حَالًا مِنْكَ
“Boleh jadi engkau adalah orang jahat, tapi pertemananmu dengan orang yang lebih jahat, membuatmu merasa lebih baik.”
Kalam hikmah ini masih sangat erat kaitannya dengan kalam hikmah sebelumnya, yaitu: “Janganlah engkau berteman dengan orang yang tingkah lakunya tidak menstimulus jiwamu (untuk mendekat kepada Allah), serta perkataannya tidak memberimu petunjuk kepadaNya.” Maka kalam hikmah ini akan menyempurnakan pemahaman dari kalam hikmah sebelumnya.
Untuk memudahkan pemahaman, saya akan memberikan sebuah Ilustrasi sederhana. Firman adalah seorang hamba Allah yang selalu mengerjakan shalat lima waktu. Dia tidak pernah meninggalkan puasa Ramadhan, zakat fitrah, dan kewajiban-kewajiban yang lain. Hanya saja, Firmah masih sering lupa dengan ibadah-ibadah sunnah, banyak waktunya terbuang percuma gara-gara urusan dunia. Bahkan shalatnya pun sering telat dan dilaksanakan di akhir waktu.
Di sisi lain, Firman punya teman sekantor, namanya Darmono. Setiap hari banyak waktu Firman dilalui bersama Darmono. Mulai dari bekerja, istirahat, makan, sampai berdinas ke luar kota. Padahal Darmono adalah hamba Allah yang banyak meninggalkan ibadah. Jangankah yang sunnah, yang menjadi kewajiban bagi setiap Muslim seperti shalat saja jarang dikerjakan. Ke masjid saja dia setahun dua kali, pas Idul Fitri dan Idul Adha saja.
Nah, dari seringnya Firmah berteman dengan Darmono, akhirnya Firman merasa bahwa dia jauh lebih baik dari pada Darmono. Firman merasa dia adalah hamba yang istikamah menjalankan semua perintah Allah. Merasa bahwa dia adalah hamba istimewa di antara sekian banyak umat Islam. Serta tidak pernah terbesit sedikitpun di dalam hatinya untuk memperbaiki hidup menuju jalan yang lebih baik. Hal ini tentu karena keseharian Firmah yang banyak berinteraksi dengan Darmono, dengan kualitas dan kuantitas ibadah yang masih kalah darinya.
Maka sangat jelas bahwa pertemanan semacam ini adalah pertemanan yang banyak membawa keburukan. Membuatnya lupa bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan dalam ibadahnya, serta masih banyak hak-hak ketuhanan yang belum ditunaikannya sebagai seorang hamba. Karena standart yang dijadikan sebagai tolok ukur adalah Darmono. Begitulah kira-kira maksud dari kalam hikmah, “Boleh jadi engkau adalah orang jahat, tapi pertemananmu dengan orang yang lebih jahat, membuatmu merasa lebih baik.”
Bila mau jujur, pasti semua hamba ingin kekurangan-kekurangan dalam hidupnya tercukupi, baik kekurangan kepada Tuhan ataupun kepada sesama manusia, serta ingin semua celah aibnya tertutupi. Maka bagaimana mungkin seseorang bisa nyaman dengan teman yang malah menjadikan kulitas hidup stagnan atau bahkan semakin buruk? Kekurangannya semakin kurang, serta aibnya semakin menganga.
Tentu hal sedemikian itu tidak akan terjadi, kecuali bagi mereka yang hatinya telah digerogoti dengan penyakit-penyakit batin. Serta tidak ada upaya untuk mencarikan cahaya keimanan sebagai obat. Maka keadaan seperti ini malah akan menjadikannya semakin nyaman. Dia merasa menjadi yang terbaik dari semuanya. Padahal sebenarnya, dia hanya (merasa) terbaik karena disandingkan dengan yang buruk.
Itulah yang sebenarnya membuat pandangan dangkal. Memvonis sebatas apa yang dilihat mata, tanpa memperhatikan aspek-aspek lain dalam kehidupan. “Saya shalat, mereka tidak. Saya puasa, mereka tidak. Saya lepas dari siksaan, mereka tidak. Maka saya sudah baik dan lebih baik dari mereka.”
Padahal apabila direnungkan lebih mendalam, semua ini merupakan awal dari kehancuran. Mengapa tidak? Karena di saat Darmono nyaman dengan meninggalkan semua kewajiban, maka Firman juga akan nyaman dengan posisinya yang merasa sudah baik. Hingga lama kelamaan, ketinggalan satu kewajibanpun, Firman akan tetap merasa baik. Bahkan seandainya dia sama-sama meninggalkan kewajibannya sebagaimana Darmono, dia akan tetap merasa lebih baik seraya berkata, “Aku tetap lebih baik dari pada Darmono.
Karena aku barusan saja meninggalkan kewajiban. Sedangkan Darmono? Dia sudah jauh lebih dulu dari pada aku dalam meninggalkan kewajibannya.” Tidakkah ini adalah sebuah kehancuran iman seorang hamba?
Lantas, apakah dengan demikian maka kita tidak diperkenankan untuk berteman dengan orang yang lebih buruk dari kita? Lalu bagaimana cara kita mengingatkan mereka dan mengajak mereka kepada jalan yang lebih baik? Bukankah kita memerlukan perjumpaan yang intensif di dalam berdakwah?
Maka di sini perlu diperjelas, bahwa duduk bersama dengan orang yang sifat dan perangainya lebih buruk, tetap diperbolehkan apabila ada tujuan dakwah atau karena syafaqah. Adapun orang yang datang dengan syafaqah, berkumpulnya akan selalu membawa kebaikan. Apabila dia salah akan diingatkan. Dalam berkumpul, dia tidak akan rida melihat kemungkaran. Karena rasa syafaqah-nya akan membuatnya tidak diam melihat orang yang bersamanya celaka.
Begitu pula orang yang berkumpul dengan tujuan dakwah. Maka kehadirannya akan selalu mengarahkan pada kebaikan. Dia tidak akan mau berkumpul apabila terdapat kemungkaran yang tidak bisa dia hilangkan. Maka ketika mulai nampak kemungkaran, dia akan segera menjauh dari orang yang sedang dia dakwahi. Begitu seterusnya. Oleh karenanya, hal ini berbeda dengan pertemanan yang diwanti-wantikan oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam kalam hikmahnya.
Sedangkan pertemanan yang diwanti-wantikan oleh beliau adalah pertemanan yang membuat seseorang lalai. Pertemanan yang banyak membuang waktu sia-sia. Memperbanyak obrolan tanpa ada tujuan kebaikan sedikitpun, serta pertemanan yang hanya berorientasikan dunia. Maka pertemanan yang demikian ini yang sangat rentan menimbukan efek negatif bagi semua pihak.
Maka alangkah bijaknya, apabila dalam setiap perteman yang kita jalin, selalu diadakan evalusi berkala. “Apakah kebersamaan saya dengan Fulan ini banyak menambah kebaikan, baik untuk diri saya atau untuk dirinya, atau malah sebaliknya?”
Apabila pertamanan tersebut bernilai positif, maka tentu pertemanan itu tidak termasuk ke dalam pertemanan yang dikhawatirkan, dan boleh dilanjutkan demi meraih kebaikankebaikan selanjutnya. Namun apabila pertamanan yang kita jalin malah mengarah pada jurang jerumus, maka boleh jadi kehadiran kita belum kuat dengan syafaqah atau visi dakwah, atau karena keimanan kita yang belum kuat menghadapi efek negatif pertemanan. Maka menyudahinya dengan baik-baik, adalah pilihan terbaik demi kebaikankebaikan yang baik.
Baca juga: Dakwah Islam Dimasa Nabi Dan Masa Kini
Baca juga: Jihad Politik Umat Islam
Baca juga: Sejarah Tahun Baru Islam




