Konstelasi politik nasional hari ini tampaknya telah menyentuh titik kulminasinya. Hal ini ditandai dengan mulai menjamurnya iklan-iklan politik dengan berbagai bentuknya, dan kian ramainya diskusi-diskusi politik, baik di dunia nyata maupun (apalagi) di dunia maya, yang tentunya penuh dengan kontroversi, saling serang dalam silang pendapat yang tak berkesudahan.
Tampaknya, keterlibatan kita dalam momen-momen seperti itu hampir niscaya, dan akan sangat sulit bagi kita untuk menghindar sama sekali dari gesekan-gesekan politik mutakhir ini, karena hiruk-pikuknya telah melingkupi berbagai lini kehidupan kita. Faktanya, tak ada satu peristiwa pun yang terjadi di negeri ini, melainkan isu politik menyelinap masuk di dalamnya.
Misalnya, peristiwa olahraga seperti Asian Games beberapa waktu yang lalu, atau peristiwa gempa bumi di beberapa tempat di Indonesia, dan bahkan peristiwa jatuhnya pesawat terbang pun, tak luput dari segmentasi dan kavling-kavling politis. Dan, barangkali karena dalam kancah Pilpres hanya ada dua kubu yang bertarung, maka semua hal seakan terpilah pada dua kubu yang saling berseteru.
Maka kini, nyaris tak ada satu entitas pun yang seakan tak terbelah menjadi dua kubu yang saling berhadap-hadapan dan -ironisnya- kerap saling mencederai. Mereka yang ada dalam frame yang sama; sebangsa, seagama, seorganisasi, sealmamater, dan bahkan mungkin juga serumah, tiba-tiba saja saling mengambil jarak untuk kemudian bentrok di suatu ‘titik temu’: medan pertempuran politik.
Nah, fenomena yang tengah terpampang di hadapan kita ini harus membikin kita menyadari hal-hal penting terkait dengan situasi politik mutakhir, serta hubungannya dengan perjuangan umat Islam dan agama Islam.
Pertama, umat Islam tak boleh terjebak dalam kavling-kavling politik yang merugikan umat Islam dan agama Islam secara umum, yakni terpecahnya bangunan dan keutuhan persatuan umat, sehingga mereka tak bisa bersatu, yang pada akhirnya mereka tak bisa mengatasi masalah keumatan yang perlu dihadapi secara kolektif.
Perbedaan haluan dan pilihan dalam politik adalah niscaya dan karenanya sah-sah saja, akan tetapi jika itu mesti ditukar dengan keretakan persatuan umat, maka artinya kita telah menukar barang rongsokan (politik) dengan sesuatu yang tak ternilai harganya. Karena retaknya persatuan umat berarti kelumpuhan kekuatan mereka secara total.
Kedua, umat Islam mesti mengarahkan pandangannya dan mengerahkan kekuatannya untuk membendung gerakan-gerakan politik yang secara lantang menyatakan perang terhadap agama dan umat Islam, melalui program-program dan agenda-agenda yang mereka rencanakan, seperti menolak dan hendak memberangus Perda-perda Syariah, maupun melalui langkah-langkah yang mereka ambil selama ini, seperti pro terhadap asing dan mendukung penyimpangan-penyimpangan seperti LGBT, feminisme, sekularisme, dan semacamnya.
Nah, dua poin tersebut adalah tantangan terbesar bagi umat Islam Indonesia dewasa ini, dan tantangan itu mesti mereka jawab dengan jihad.
Moh. Achyat Ahmad/sidogiri
Baca juga: Mengenal Sosok Pahlawan Nasional, KH As’ad Syamsul Arifin




