Rasulullah bersabda, “Aku diutus sedang kiamat sudah tinggal seperti ini” sembari mengandengkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya. Sabdanya ini menunjukkan keamat-dekatnya hari kiamat. Amat dekat sekali. Karena saking khawatir terhadap nasib umatnya, saat Rasulullah menjelaskan hari kiamat selalu meninggikan nada suaranya dan dengan ekspresi yang amat serius. Seakan-akan beliau sedang membakar semangat pasukan perang.
Guna mengingatkan umatnya, Rasulullah menjelaskan beberapa tandatanda kiamat (asyrâthus-sâ’ah) itu satu persatu, sehingga mereka terus mawas diri. Beberapa tanda itu sudah terjadi sebagaimana dalam lembaran historis, baik di masa Rasulullah masih hidup atau setelah beliau wafat. Yang jelas, kiamat tidak lama lagi.
Memang, ada di antara tanda kiamat yang dijelaskan Rasulullah yang belum terjadi hingga saat ini. Di antaranya adalah munculnya al-Masih Dajjal yang dikisahkan sangat beringas dan bengis itu. Dia membantai umat Islam hingga yang Mukmin sekalipun nyaris mengikuti jejaknya. Dan, masih ada tanda kiamat lain yang belum terjadi hingga saat ini.
Oleh karena itu, perlu di sini ditawarkan buku yang menjelaskan asyrâthus-sâ’ah itu. Buku itu di antaranya adalah bertajuk, AsyrâthusSâ’ah karya dari Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil. Khusus dalam pendahuluan, buku ini menyajikan empat pembahasan; urgensi menyakini hari kiamat, nama-nama kiamat yang digunakan al-Quran dan hadis, nilai hujjah dari hadis Ahad, dan berita ghaib yang disampaikan Rasulullah.
Terkhusus pembahasan nilai hujah hadis Ahad ini, karya Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil menyebutkan, bahwa hadis Ahad bisa dijadikan hujjah dalam masalah akidah. Dia mengafiliasikan pendapat ini pada mayoritas ulama salaf dan berargumentasi pada surah al-Ahzab: 36. Dalam hal ini dia banyak mengutip pendapat ulama salaf, seperti Imam Ahmad yang hanya menyaratkan diterimanya sebuah hadis harus shahih dan melalui sanad rawi yang kredibel. Tidak lebih. Bahkan, kelompok yang mengatakan hadis Ahad tidak bisa dibuat hujjah telah menyia-nyiakan ratusan hadis shahih dan pendapat ini tidak berdasar, pungkasnya.
Pada bab pertama, buku AsyrâthusSâ’ah ini mengupas definisi asyrâthussâ’ah, pembagiannya, dan secara khusus mengupas asyrâthus-sâ’ah as-sughra, baik yang telah berlalu atau yang sedang berlangsung hingga saat ini, seperti saksi paslu, saling menjatuhkan antar sesama Muslim, bermegahmegahan dalam membangun masjid dan semacamnya sebagaimana yang kita saksikan saat ini.
Untuk bab kedua, asyrâthus-sâ’ah alkubrâ dijelentrehkan secara kronologis dan runut sesuai waktu kejadiannya. Dengan membaca buku karya Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil ini seakan kita diajak menjelajah dan menyaksikan proses kejadian itu dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Sebagai contoh, ketika menjelaskan proses pengumpulan umat manusia setelah dibangkitkan dari kubur dengan kobaran api, buku ini menjelaskan tempat api itu mincul, kinerja api itu dan dimana pusat berkumpulnya umat manusia pada saat itu (ardh mahsyar).
Dan, dalam buku Asyrâthus-Sâ’ah ini ditegaskan, bahwa waktu kejadian kiamat itu merupakan rahasia ilahi (mâ ista’tsarahullâ bi-ilmihi) yang tidak ada satu pun dari makhluknya yang mengetahui. Oleh karena itu, penulis buku ini menolak keras terhadap kelompok yang mengatakan bahwa Rasulullah mengatahuinya karena alasan tadi.
Sebagai penguat bahwa Rasulullah juga tidak mengetahui waktu kiamat, buku ini berdalilkan surah al-Ahzâb: 63, al-A’râf: 187, an-Nâzi’ah: 42-44 dan kisah pertanyaan Malaikat Jibril kepada Rasulullah tentang waktu kiamat yang ternyata beliau menjawab, ‘Mâl-Mas’ûl bihâ bi-a’lama min as-sâ’il’. Dengan demikian, pungkas Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil, Rasulullah juga tidak mengetahui waktunya.
Nilai plus dari buku setebal 483 hlm. ini adalah, dalam menjelaskan tandatanda kiamat hanya mengambil cukup dengan hadis shahih, atau paling rendah adalah hadis hasan. Hal ini jika memang hadis hasan tersebut diperkuat dengan hadis lain, sehingga saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Tanpa syarat ini, buku setebal 483 hlm. ini tidak mencantumkannya karena sudah tidak bisa dipertanggung-jawabkan akurasinya. Selamat membaca!
Achmad Sudaisi/sidogiri
Baca juga: Doa Setelah Adzan
Baca juga: Berjabat Tangan Setelah Shalat, Sunnahkah?
Baca juga: Puasa Menjadi Tameng Saat Kiamat




