Apa yang tak bisa dijadikan kedok oleh manusia!? Agama, pendidikan, pengabdian sosial, budaya dan seterusnya, semuanya bisa menjadi dalih. Semuanya bisa menjadi kedok. Termasuk tasawuf. Bahkan, peluang tasawuf untuk dijadikan kedok, lebih ‘luas’ daripada potensi fikih.
Akidah bisa menjadi kedok dari mindset takfiri; kedok fanatisme yang sangat sempit; juga kedok politik. Sebagaimana fikih seringkali menjadi kedok dari pragmatisme, kepentingan duniawi, serta selera dan nafsu. Akibatnya, muncullah fatwa-fatwa berbasis kepentingan. Muncullah manipulasi hukum yang licik (hîlah muharramah), pun pula penerapan hukum yang bersifat ‘formal-seremonial’ belaka, tanpa memperhatikan tujuan dan maqâshidusy-syarî’ah-nya.
Lalu, bagaimana dengan tasawuf? Peluangnya semakin luas. Tipologi tasawuf yang bersifat sangat normatif, memudahkan orang yang untuk menjadikannya sebagai dalih untuk berbagai hal. Penyimpangan dengan kedok tasawuf sangat mudah dilakukan. Karena tasawuf itu cenderung abstrak, tidak defenitif, tidak mundhabith, dan memiliki tingkat kerelativan yang tinggi. Tasawuf seringkali berbicara tentang hal-hal batin yang bersifat rasa (dzauqi) dan hal-hal ghaib yang tentu saja sulit diperlihatkan buktinya. Karena itulah tasawuf sangat mudah untuk diklaim, dibelokkan, dan diperalat.
Oleh karena, tasawuf dengan segala kelenturannya, tidak boleh tidak, harus dibatasi dengan dua pilar lain. Pilar yang memiliki nalar jelas serta ketentuan dan batas-batas yang definitif, yaitu akidah dan syariat. Segala kelenturan dan keabstrakan tasawuf tidak boleh keluar dari garis akidah, tidak boleh melewati batas-batas syariat. Melanggar dua batas ini, berarti menyimpang, sesat, bahkan bisa-bisa kafir atau zindiq. Na’ûdzu billh min dzalik.
Ada tiga hal yang tak bisa dilepaskan dalam agama ini: iman, islam dan ihsan. Dalam bahasa yang lebih spesifik: akidah, syariah dan akhlak. Dalam bahasa disiplin ilmu: Ilmu Kalam, Fikih dan Tasawuf. Jika tak terpenuhi salah satunya, maka yang terjadi: bisa bejat, bisa jahat, bisa sesat, bisa murtad. Bisa fasik, bisa bid’ah, bisa zandaqah.
Berikut beberapa karakteristik tasawuf yang rentan dijadikan kedok, atau paling tidak, rentan membuat orang salah paham:
Pertama, karakteristik amali. Para ulama sufi membangun konsepsi untuk mengedepankan amal. Tentu saja, dengan maksud sangat mulia, yaitu: mengembalikan ilmu agama pada fungsi sesungguhnya. Ilmu agama seharusnya merupakan alat untuk memantapkan akidah, memperbaiki amaliah, dan menajamkan spiritualitas.
Namun demikian, yang banyak terjadi justru sebaliknya. Ilmu agama seringkali dibelokkan menjadi nalar-nalar yang justru melahirkan skeptisme akidah dan menghasilkan kerancuan teologis. Ilmu agama seringkali diperalat sebagai modal untuk meraih kepentingan duniawi. Para ulama sufi mengecam keras hal itu. Karena itulah, tasawuf lebih fokus pada melakukan pengamalan dan penghayatan.
Nah, kecenderungan sufistik ini, pada akhirnya disalahpahami oleh para partisan sufi. Tidak sedikit ‘sufi-sufi awam’ yang mengabaikan ilmu, karena beranggapan bahwa yang penting adalah amal, riyadah dan mujahadah. Akibatnya, banyak di antara mereka yang minim ilmu agama. Hal itu menyebabkan mereka mudah terjebak ke dalam asumsi-asumsi menyimpang, atau bahkan sesat. Terjatuh ke dalam kultus individu, bid’ah munkarah, dan paham-paham menyimpang karena kebodohannya. Tidak sedikit kalangan ‘sufi awam’ yang menjadikan hadis palsu sebagai landasan spiritual, bahkan landasan akidah mereka. Gara-garanya karena mereka enggan untuk meneliti hadis-hadis tersebut. Tak sedikit kalangan ‘sufi awam’ yang menjadikan kisah-kisah fiktif sebagai landasan akidah-amaliah. Gara-garanya karena mereka enggan untuk memperdalam Ilmu Kalam, Fikih, serta Ushul Fikih.
| BACA JUGA : HADIS DHAIF DALAM LINGKARAN FIKIH (2)
Kedua, karakteristik ghaibi. Tasawuf berbicara mengenai hal-hal ghaib, intuitif dan hal-hal yang tidak empiris. Kita yakin bahwa ilham, waridât, mukasyafah dan musyahadah, memang benar-benar dialami oleh para sufi sejati. Misalnya: Imam al-Ghazali, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Imam asy-Syadzali, dan lain-lain. Kita percaya karena melihat peninggalan karya-karya mereka, juga berdasarkan fakta sejarah tentang reputasi mereka dari segi keilmuan, integritas, spiritualitas, kezuhudan dan sederet kelebihan lain yang nyaris mutawatir.
Yang membuat kita miris adalah karena pengalaman spiritual yang diceritakan oleh beliau-beliau itu, selanjutnya tidak jarang diklaim oleh orang-orang yang tidak jelas juntrungan-nya. Yang tidak jelas reputasi keilmuannya, tidak jelas kelurusan akidahnya, tidak jelas keteguhan syariatnya, lebih-lebih kemuliaan akhlak dan ihsannya.
Ketiga, karakteristik dzauqi. Kita tidak mengingkari bahwa para ulama sufi yang muhaqqiq kadangkala mengalami kondisi jadzab, fana’, wajd, dan semacamnya. Kondisi itu membuat mereka berada dalam kondisi ‘di atas normal’. Mengalami hal-hal dzauqi yang kadangkala tidak termuat dalam bahasa dan tidak bisa diungkapkan dengan kosa kata apapun. Karena itulah, kadangkala mereka bertingkah aneh dan mengucapkan hal-hal yang nyeleneh. Kita percaya mengenai hal itu, karena telah diungkapkan oleh para ulama yang tidak diragukan reputasi dan integritasnya.
Sayangnya, kenyelenehan dan keanehan itu kemudian ditiru-tiru yang oleh orang yang belum apa-apa. Dia tiba-tiba menjadi ‘jadzab’ tanpa riyadah. Menjadi ‘fana’ tanpa mujahadah. Sungguh, sangat ‘mengerikan’ jika ucapan-ucapan nyeleneh al-Busthami, ar-Rumi, al-Hallaj dan semacamnya tiba-tiba diambil, bahkan dijadikan dalil oleh orang-orang yang masih suka makan ‘gado-gado’. Ucapan nyeleneh para sufi itu muncul dari hâl dan dzauq (rasa) yang tidak bisa diwakili oleh kata-kata. Jika kalimat tersebut dicomot oleh orang yang tak pernah merasakannya, lalu dimaknai hanya berdasarkan kamus bahasa, maka sangat mungkin akan melahirkan makna yang menyimpang, sesat, bahkan murtad.
Tak sedikit, ucapan-ucapan sufi yang dicomot mentah-mentah oleh orang-orang liberal untuk menjustifikasi pandangan-pandangan yang anti syariat. Juga dicomot oleh para penganut pluralisme untuk menjustifikasi relativisme teologis berbagai agama.
Keempat, masalah karamah. Jagat sufi dipenuhi dengan kisah-kisah ajaib yang biasa disebut dengan karamah. Tentu, ada cerita yang sahih; ada cerita yang dilebih-lebihkan; ada pula cerita yang dibuat-buat.
Kisah karamah di dunia sufi ini tak jarang membuat orang awam menjadi salah paham. Banyak sekali orang yang berpikir bahwa keajaiban merupakan petunjuk penting, bahkan satu-satunya, mengenai kewalian seseorang. Mereka tidak menyadari bahwa keajaiban itu bisa saja muncul di tangan orang jahat, sebagaimana bisa muncul di tangan orang baik. Kalau ukuran kewalian itu adalah keajaiban dan kesaktian, maka makhluk yang ‘paling wali’ adalah Iblis dan Dajjal.
Ada orang-orang sesat yang sengaja menarik pengikutnya dengan cara menonjolkan ‘kesaktian’. Tentu saja, keajaiban yang mereka tampilkan itu ada yang merupakan bantuan dari jin; ada pula yang sekadar akrobat, sulap atau tipuan belaka. Cara itu sangat mudah untuk menarik orang-orang awam untuk menjadi pengikut.
Maka, jangan heran jika di negeri +62 ini, ada beberapa figur jahat, figur bejat, figur sesat, bahkan figur murtad, berhasil menjadi ‘tokoh panutan’, meraup banyak pengikut, juga ‘subscriber’.




