Nama: Ustaz Anshori Huzaemi
TTL: Pasuruan, 31 Mei 1970
Alamat: Sidogiri, Kraton, Pasuruan
Ayah: Huzaemi
Ibu: Romlah
Putra-putri: (Almh.) Rika Uyun Nabela, Alan Agil Fahmi, Aliyah Natasya Firdaus
Istri: Muzdalifah
Pendidikan: Madrasah Ishlahul-Athfal, Pondok Pesantren Sidogiri
Aktivitas: Staf Pengajar MMU Aliyah
Salah satu staf pengajar Madrasah Miftahul Ulum Aliyah asal Sidogiri ini dulu dikenal sebagai sosok yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Berkat kecerdasan ini beliau mampu menangkap materi pelajaran dengan cepat, serta memiliki skill yang di atas rata-rata.
MAMILIKI KECERDASAN DI ATAS RATA-RATA
Kecerdasan Ustaz Anshori tampak sejak kecil. Ketika duduk di bangku sekolah dirinya tidak pernah absen dari mendapatkan ranking. Jika bukan rangking satu, beliau mendapatkan rangking yang kedua. Saat duduk di kelas 1 Tsanawiyah Ustaz Anshori juga mendapatkan anugerah bintang pelajar.
Karena kecerdasannya, Ustaz Anshori Huzaemi sudah ditugaskan untukmenjadi guru semenjak kelas I Aliyah. padahal umumnya, di masa itu santri baru diberi amanah mengajar setelah memasuki kelas tiga Aliyah.
Saat masih di madrasah beliau juga sering dipasrahi untuk menerima setoran hafalan teman kelasnya. Karena di awal tahun ajaran beliau sudah menghafal keseluruhan bait yang harus dihafal di tahun itu.
Strateginya adalah dengan menghafalkan di bulan Ramadan. Di libur Ramadan tiap harinya Ustaz Anshori menghafalkan 10 bait Alfiyah. Setelah selesai, hari-hari yang tersisa digunakan untuk mengulang dan melancarkan hafalannya. Jadi tidak heran jika di awal tahun ajaran beliau sudah menghafalkan keseluruhan nazam yang wajib dihafal.
MENGUASAI BAHASA ARAB DALAM SATU BULAN
Pasca lulus dari MMU Tsanawiyah, Ustaz Anshori ditugaskan oleh Pengurus PPS untuk mengajar di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyepen. Di sana dirinya dituntut untuk beradaptasi dengan kebiasaan santri yang diwajibkan berbicara menggunakan bahasa Arab 1×24 jam. Selama satu bulan beliau otodidak mendalami bahasa Arab serta berlatih menggunakannya. Setelah satu bulan, beliau sudah menguasai dan lancar berbicara dengan menggunakan bahasa Arab. Bahkan skill yang ia miliki bisa dibilang melebihi guru-guru serta pengajar bahasa Arab lain di Panyepen. Di mana mereka merupakan guru dari Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA) di Jakarta.
Saking cepatnya, banyak yang mengira kemampuan itu beliau dapat secara laduni. Padahal tidak, penguasaan beliau terhadap ilmu Nahwu lah yang menurut beliau menjadikan dirinya bisa menguasai bahasa Arab dengan cepat.
Kemampuan berbahasa Arab ini terus diasah hingga ketika mengajar di PPS. Saat mengajar di jenjang Aliyah, beliau tidak jarang menerangkan materi ajarnya dengan menggunakan bahasa Arab.
BELAJAR BAHASA INGGRIS DALAM DUA BULAN
Selain pandai berbahasa Arab, Ustaz Anshori juga sempat mendalami bahasa Inggris. Sama dengan bahasa Arab, penguasaan beliau terhadap bahasa Inggris juga terbilang cepat. Beliau mengaku bahwa dalam 2 bulan beliau sudah lancar berbicara dengan bahasa Inggris. Bahkan beliau sering memotivasi para santri dengan berbicara menggunakan dua bahasa; yaitu bahasa Arab dan Inggris.
Selain otodidak; dengan belajar dari bahan ajar berbahasa Inggris, Ustaz Anshori juga mengaku sering praktik berbicara menggunakan bahasa Inggris dengan salah satu tetangga desanya yang bekerja di Surabaya. Tiap kali tetangganya pulang ke Sidogiri, Ustaz Anshori pasti mendatanginya dan mengajaknya mengobrol menggunakan bahasa Inggris. Karena itulah, kemampuan berbahasa Inggrisnya semakin meningkat.
SALAH SATU PENGGAGAS LPBAA DI SIDOGIRI
Berbekal penguasaannya terhadap bahasa Arab, Ustaz Anshori Huzaemi termasuk beberapa orang generasi awal penggagas berdirinya Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA)—saat ini menjadi LPBAA di Sidogiri. Kala itu beliau ditugaskan bersama Mas Sholeh Abdul Haq, sebagai Kepala LPBA, dan Ust. Dumairi sebagai Tata Usaha. Sedangkan beliau sendiri kala itu menjabat sebagai Wakil I LPBA.
| BACA JUGA : ANTARA QADA’, QADAR DAN ALUR KEHIDUPAN
Di awal kemunculannya, LPBAA hanya mengajarkan bahasa Arab, serta hanya berupa kegiatan kursus di pagi hari. Kursus ini diikuti oleh beberapa santri yang memiliki minat untuk mendalami bahasa Arab. LPBAA saat itu belum ditunjang dengan daerah-daerah khusus seperti saat ini. Sehingga Pengurus LPBAA saat itu merasa perlu dan mengusulkan untuk mengadakan daerah khusus untuk pembelajar bahasa Arab agar pengajaran bahasa Arab bisa lebih maksimal.
MENJADI PENULIS
Selain kemampuan berbahasa, ketajaman pikiran Ustaz Anshori saat itu juga beliau manfaatkan untuk menulis. Beliau sempat menjadi penulis lepas di Sidogiri Media dan nenjadi redaksi di Majalah Cahaya Nabawi. Paling lama beliau menulis di Majalah Cahaya Nabawi, yaitu selama 7 tahun, sejak 2007 hingga 2014.
Mulanya tugas menulis di Cahaya Nabawi datang tanpa diduga. Awalnya Ustaz Anshori hanya menggantikan Ustaz Dairobi Naji untuk menulis di sana. Tak disangka, begitu tulisan disetorkan beliau malah diresmikan menjadi redaksi dan diberi tanggung jawab menangani tiga rubrik sekaligus, yaitu rubrik Tafsir, Aswaja dan Nisa’una. Kegiatan menulis itu ia tekuni selama bertahun-tahun, dan berakhir pada tahun 2014 saat beliau dilanda penyakit stroke.
Selain menulis di majalah, Ustaz Anshori juga sempat diberi amanah untuk mengedit buku serta menerjemah kitab. Di antaranya adalah menjadi editor buku Ekonomi Syariah versi Salaf dan menerjemah kitab al-Ma’man minad –Dhalalah.
SAKIT STROKE
Tahun 2014, bermula dari kebiasaan minum minuman bersoda, tiba-tiba saja Ustaz Anshori merasakan ada gangguan dalam berbicara. Komunikasinya yang biasanya lancar tiba-tiba saja mengalami hambatan. Karena merasa ada yang bermasalah, Ustaz Anshori lantas mendatangi salah satu dokter spesialis di Malang untuk memeriksakan diri. Tak disangka, beliau malah dirujuk ke Rumah Sakit Malang dan mendapatkan perawatan intensif.
Setelah diperiksakan di New Brain Clinic Surabaya terlihat gambaran gangguan yang ada didalam otaknya. Semenjak itu Ustaz Anshori mulai merasa kesulitan berfikir dan berkomunikasi. Termasuk kemampuan dan kecerdasannya menurun.
Ustaz Anshori yang dulu dikenal selalu hafal bahan ajar yang diampunya kini tidak bisa lagi mengajar kecuali dengan membawa kitab pelajaran. Kemampuan menulisnya pun begitu, untuk menulis satu alinea saja Ustaz Anshori sudah merasa sangat kesulitan. Padahal sebelum terkena stroke Ustaz Anshori bisa menyelesaikan sebuah tulisan dalam satu kali duduk.
Meski berat, Ustaz Anshori terus berusaha untuk menerima dan sabar. Segala kepunyaannya adalah milik Yang Maha Bijaksana. Allah bisa mengambil dan mengembalikan kapan saja Allah menghendaki.
Selain berpasrah, saat ini beliau juga lebih menjaga makanan yang beliau konsumsi. Karena beberapa jenis makanan, seperti makanan asin bisa membuat kepalanya sakit. Dan jika dibandingkan, keadaannya saat ini sudah lebih baik daripada keadaan di tahun 2014. Di balik hujan pasti ada pelangi. Di balik setiap ujian pasti ada kebahagiaan.




