Wanita ibarat sebuah hiasan. Al-Quran berkata demikian, “Manusia dihiasi dengan senang syahwat tehadap perempuan.” (QS. Ali Imrân, ayat 13).

Indah dan elok dipandang. Takkan pernah surut untuk diperbincangkan. Bila hati seorang lelaki sudah terpancing oleh pesona perempuan, lubuk hati bahkan pikiran berkecamuk tidak karuan. Ingin menggapai cinta sosok wanita yang membuat dirinya dirudung kegalauan. Itulah bukti bahwa wanita adalah hiasan yang diidam-idamkan. Memiliki pesona tersendiri bagi kaum Adam. Maka tak heran dalam kondisi demikian, para lelaki sering menebar gombalan dan rayuan. Merangkai kata demi kata buaian, biar kelihatan romantis dan menyenangkan di hadapan perempuan. Bilang kata ‘cinta’, ‘sayang’, dan rayuan-rayuan lain yang menawan.

Diakui atau tidak, fitrah perempuan lebih sensitife dalam soal perasaan. Perempuan lebih gampang baper dan nyaman bila ada sosok lelaki yang selalu membuatnya tersenyum, menghargai, bahkan menuruti kemauan perempuan. Hingga terkadang membuatnya memberi harapan cinta bagi lelaki yang sesuai dengan kriteria barusan. Welcome, membuka pintu cinta bagi lelaki yang hendak masuk ke dalam hatinya yang mendalam.

Begitu pula para Muslimah dalam kondisi rumit sekarang. Dengan pergaulan media sosial dan lingkungan sekitar, terkadang iri dan sakit hati bila dirinya tak memiliki sosok lelaki yang menjadi pelabuhan cintanya yang mendalam. Dalam situai wanita sebayanya, sudah mulai berani berpacaran dan memadu kasih sayang diharamkan, malah dirinya dengan tangan kosong menunggu sosok lelaki yang tak kunjung datang. Merasa pilu dan gugup menunggu kepastian. Hingga dalam kondisi demikian, tak disangka ada sosok lelaki muncul ke permukaan dengan untaian kata rayuan cinta yang membuat hatinya welcome. Membuat dirinya juga ikut terjungkir ke lubang cinta yang diharamkan. Padahal rayuan cinta yang didengunkan oleh lelaki tersebut pada ujungnya juga tidak menjanjikan sebuah kepastian. Sebab, di antara tanda lelaki yang baik ialah dia yang berani mewujudkan cintanya ke jenjang pelaminan, bukan dengan berpacaran. Bila tidak demikian, berarti cintanya hanyalah gombalan belaka sebagai alat mempermainkan perasaan. Mas d. Nawawy Sadoellah salah satu katib Majelis keluarga pernah dawuh, “Lelaki baik akan menikahimu secepatnya, bukan mengajaknya pacaran berlama-lama,” lebih baik menunggu kepastian dari Allah Sang Maha pemberi cinta daripada sosok lelaki yang belum pasti menjadi pendamping hidupnya di masa mendatang.

Baca Juga: Agar Cinta Selalu Bersemi

“Hal yang paling menyakitkan adalah mencintai seseorang yang ternyata tidak akan menjadi milikmu selamanya.” Sepenggal kata barusan mari pikirkan dan diresapi seksama. Sungguh rugi jika ada Muslimah rela mengorbankan cintanya berhubungan dengan lelaki yang tidak ketemu judulnya. Rugi dibuat galau, apalagi sampai menitihkan kucuran air mata oleh karena takut kehilangan sosok lelaki yang hanya numpang cinta sesaat dalam lubuk hatinya. Kucuran air mata yang seharusnya dititihkan untuk orang yang jelas-jelas mengorbankan –bukan gombalan belaka- harta, pikiran dan tenaga untuk mendedikasikan dirinya menjadi Muslimah salihah, yaitu dia kedua orang tua.

Di sisi lain memadu kasih cinta tanpa akad yang sah, dapat mengundang amarah Allah. Rasulullah pernah bersabda, “Jika seorang wanita yang bercelak (memakai celak) di hadapan seorang lelaki yang bukan mahramnya, maka Allah memerintahkan para malaikat untuk melaknatnya. Dan Allah tidak akan menerima sedekah dan keadilan darinya selagi celak tersebut masih ada di pelupuk matanya.” (HR. Ibnu Abbas). Lebih-lebih jika dirinya berpacaran dan melakukan hubungan yang diharamkan oleh-Nya.

Muslimah yang hebat ialah dia yang tidak mudah termakan dengan rayuan lebai para lelaki. Bukan berarti sok suci sebagaimana yang digonggongkan para pemuda pemudi masa kini. Akan tetapi, merupakan implementasi sebagai Muslimah hakiki. Jenjang pernikahan bukan hanya bermodal cinta sepasang kasih saja tanpa persiapan matang duniawi dan ukhrawi. Sebab, cinta tumbuh dari lubuk hati. Terkadang berubah-rubah, tergantung bagaimana kedewasaan sepasang pasutri mengarungi bahtera yang suci ini. Ada gelombang cobaan dan permasalahan yang harus siap dihadapi. Dan hal itu adalah fitrah yang tidak bisa dihindari. Bila tujuannya murni tumbuh dari cinta semata, maka tak jarang hubungan cintanya putus di tengah jalan, tidak berarti.

Baca Juga: Karena Cinta Tak Punya Mata

Dalam memadu kasih cinta perlu adanya pikiran yang jernih, bukan hanya berdasarkan nafsu birahi sebagaimana pemuda pemudi masa kini. Abu at-Thayyib Al-Mutanabbi menggubah salah satu syairnya:

فَإِنَّ قَلِيْلَ الْحُبِّ بِالْعَقْلِ صَالِحٌ. وَإِنَّ كَثِيْرَ الْحُبِّ بِالْجَهْلِ فَاسِدٌ

“Sedangkal-dangkalnya cinta bila disertai pikiran yang benar, pastilah besar manfaatnya. Sedalam-dalamnya cinta bila disertai pikiran yang salah, pastilah besar bahayanya.”

Maka dari itu, disunnahkan bagi seseorang yang hendak menapaki jembatan pernikahan untuk diniati mengikuti sunnah Nabi. Sekiranya para Muslimah ketika menikah memang betul selektif memilih sosok lelaki yang kelak menjadi imamnya yang salih.

Menjadikannya sebagai pendamping hidup semati yang menuntun dirinya mengarungi keluarga sakinah mawaddah war rahmah dalam rida Ilahi. Kemudian, bagaimana sekiranya bisa menumbuhkan bibit-bibit regenerasi yang salihah dan salih. Al-Maghfurlah KH. Maimoen Zubair pernah bertutur, “Setinggi apapun pendidikan perempuan, karir terbaiknya adalah diam di rumah. Bayaran termahalnya adalah rida suami. Prestasi terbesarnya ialah ketika ia mampu mencetak anak yang salihah nan salih.” Tutur kata Beliau barusan penting untuk dijadikan tujuan utama para Muslimah agar tidak mudah terbuai dengan sosok lelaki yang unjuk muka untuk menggapai cintanya yang sejati. Agar lebih berpikir lebih jauh bagaimana menggapai masa depan cerah dengan calon pendampingnya nanti.

Moh. Baihaqi/sidogiri

Spread the love