Kilas balik sejarah peradaban Islam kerapkali membuat setiap orang berdecak kagum. Sebagian besar para pengamat menilai, hampir semua bentuk kemajuannya di masa lalu menjadi inspirasi sekaligus pondasi berdirinya peradaban modern pada masa kini. Sigrid Hunke, seorang peneliti berkebangsaan Jerman, termasuk salah satu penulis yang menuangkan kekagumannya terhadap peradaban Islam dalam bukunya yang dalam versi Inggrisnya berjudul “Allah’s sun over the Occident.” Namun bagi seorang muslim, kekaguman tersebut hanya memunculkan kenangan sesaat yang akan menguap seketika saat menyadari kenyataan saat ini. Perasaan sedih dan kecewa ini seringkali mendorong sebagian kalangan untuk berkiblat secara total terhadap Barat dan mencari kambing hitam di balik kemunduran peradaban Islam. Dari celah ini, budaya dan pemikiran Barat mulai meracuni pikiran sebagian umat Islam. Salah satu hal yang dipermasalahkan dan dianggap penghambat kemajuan adalah keyakinan-keyakinan tentang hal ghaib yang menurut mereka tidak rasional dan terbatasinya konsep beragama dalam beberapa mazhab yang menurut mereka menutup ruang untuk berijtihad. Tentu solusinya, versi mereka, adalah sebaliknya. Alih-alih menjadi penggerak peradaban, mereka malah menjadi agen kehancuran tanpa sadar sesuai dengan kerangka berpikir yang telah disusupkan oleh para orientalis yang memusuhi Islam.
Setidaknya terdapat dua tipikal orientalis dalam meneliti peradaban Islam yang dapat kita cermati. Pertama, menampilkan segala bentuk kemajuan Islam di berbagai bidang, terutama yang bersifat materi, dengan penuh kekaguman tanpa pernah menyinggung penyebab di balik itu semua. Kedua, semua pujian dan kekaguman tersebut kemudian ditutup dengan melontarkan pertanyaan besar yang menghantui pikiran banyak orang, yaitu mengapa peradaban yang sedemikian maju kemudian menjadi tertinggal, bahkan hilang begitu saja. Jawaban untuk pertanyaan ini lumrahnya dimuarakan pada teori Oswald Spengler, seorang filsuf Jerman, yang menyatakan bahwa peradaban pasti memiliki fase timbul dan tenggelam dalam siklus berulang. Jawaban yang seolah meredam gejolak pemikiran muslim agar memaklumi kenyataan dan mengalihkan perhatian dari menelusuri sebab-sebabnya secara mendalam. Padahal, formula kemajuan peradaban Islam beserta faktor-faktor penunjangnya sebenarnya sudah disebutkan dalam al-Quran.
| BACA JUGA : MUSLIMAH DAN VIRUS MERAH JAMBU
Dalam bukunya, Manhajul-Hadharah al-Insaniyyah fil-Qur’an, Syekh Said Ramadhan al-Buthi menuturkan bahwa sebuah peradaban harus berdiri di atas harmoni sempurna antara manusia, kehidupan, dan alam. Tiga komponen ini telah dijelaskan oleh al-Quran dalam banyak ayat agar kemudian menjadi pola pikir dan prinsip dasar manusia dalam memenuhi tugas sebagai khalifatullah di muka bumi. Secara rinci, komponen pertama berupa kesadaran bahwa manusia merupakan makhluk hina dan lemah sehingga tidak pantas untuk bersikap sombong, tetapi menjadi mulia karena dianugerahi akal dan amanah mengelola bumi. Kesadaran ini akan memunculkan sikap penghambaan yang hakiki kepada Allah dan menghilangkan sifat kesewenangan. Komponen kedua adalah kesadaran bahwa kehidupan ini bersifat sementara namun amat berharga karena menjadi batu loncatan untuk meraih kebahagiaan di kehidupan selanjutnya. Kesadaran ini akan menuntut setiap orang untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan melandasi segala perbuatan baiknya dengan keikhlasan. Komponen ketiga adalah kesadaran bahwa alam semesta yang berada di sekitar manusia diciptakan oleh Allah dan ditundukkan kepada manusia untuk membantu menjalankan amanah dari-Nya. Kesadaran ini selanjutnya akan menumbuhkan sikap tidak cinta dunia dan mempergunakan sumber daya alam dan ilmu pengetahuan hanya untuk kemaslahatan. Tentunya, hal ini hanya dapat dipenuhi oleh manusia yang meyakini keberadaan Tuhan sebagai sang pencipta dan pengatur seluruh alam semesta. Kesadaran ini harus menjadi pola pikir seluruh atau paling tidak mayoritas umat Islam yang menjadi agen perubahan. Sebab, pada hakikatnya, kemajuan peradaban tidak lepas dari sumbangsih perorangan yang merupakan komponen terkecil dalam suatu bangsa.
Lantas, di mana letak hubungannya dengan kemajuan peradaban Islam. Untuk pertanyaan ini, cukuplah sejarah yang menjawabnya. Pada periode awal, peradaban Islam bangkit dan mendominasi dunia dalam waktu singkat tidak lain karena al-Quran telah mendarah daging dalam diri setiap muslim sehingga memunculkan kesadaran-kesadaran yang telah disebutkan. Lihatlah bagaimana Sayyidina Umar tetap memilih hidup sederhana padahal dunia telah bertekuk lutut di hadapannya. Peradaban Islam semakin gemilang dan memuncaki peradaban dunia di masa lalu karena para individunya memiliki kesadaran tinggi sebagai hamba Allah sehingga segala aksi yang dilakukan haruslah sesuai dengan perintah dan aturan yang telah digariskan oleh Allah. Terbukti, peradaban Islam menurun ketika kepentingan pribadi mulai mendominasi setiap individu dan para pemimpin kekuasaan mulai terperdaya oleh gemerlap dunia. Lihatlah bagaimana dinasti Abbasiyah runtuh karena disintegrasi wilayah yang merasa tidak puas terhadap pemerintah yang terkesan hidup mewah tanpa peduli pada rakyat sebelum akhirnya diluluh-lantakkan oleh bangsa Tartar. Begitulah konsep awal yang melatarbelakangi segala kemajuan yang dicapai oleh Islam. Konsep ini berlaku sepanjang masa sejak zaman Nabi kita hingga kelak menjelang munculnya Imam Mahdi. Hal ini terangkum dalam firman Allah yang artinya, “Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku.” (QS. Ibrahim; 14) dan ayat lain yang artinya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman.” (QS. an-Nur; 55). Keberadaan peradaban lain yang menguasai umat Islam saat ini merupakan sunnatullah sebagaimana kekuasaan Fir’aun terhadap Bani Israil akibat adanya ketidakberesan dalam tubuh umat Islam. Dengan demikian, kemajuan peradaban Islam tidak harus menunggu kedatangan Imam Mahdi. Konsepnya telah digariskan oleh al-Quran dan kesempatan terbuka lebar. Sikap berpangku tangan jelas tidak pernah dianjurkan oleh Islam. Hanya saja Rasulullah telah menubuwatkan bahwa keadilan akan merata di zaman al-Mahdi.




