TAHUN BARU NOWRUZ DAN RITUAL RATAPAN HARI ASYURA
Tak jauh beda dengan agama-agama maupun kepercayaan lain, Syiah–sebagai mazhab terbesar kedua dalam Islam, juga memiliki hari-hari besar yang dirayakan secara meriah. Namun bedanya, hari-hari besar Syiah lebih beragam karena di samping merayakan hari-hari bahagia, ada beberapa hari besar yang diperingati dalam rangka meratap dan berduka. Dan seperti kita tahu, salah satu hari raya paling agung bagi Syiah digelar untuk meratapi syahidnya imam ke-3 Syiah, Sayidina Husain bin Ali, dalam sebuah tragedi di Karbala.
Kajian berikut berisi daftar hari raya Syiah serta sedikit ulasan seputar hal-hal penting di balik peringatan hari-hari besar tersebut: latar belakang, spirit, dan–yang terpenting, aspek-aspek pembeda antara ajaran Ahlussunah dan Syiah, akan kamu kupas sesuai urutan bulan dalam kalender hijriah.
MUHARAM
Sama seperti mazhab lain dalam Islam, Syiah juga memperingati tanggal 1 Muharam sebagai awal tahun. Namun tanggal 1 Muharam di kalangan pemeluk Syiah, khususnya Iran, tidak semeriah tahun baru dalam kalender hijriah syamsiah yang dipakai di Iran. Alasannya mudah ditebak: karena kalender hijriah qamariah (kalender lunar) diprakarsai oleh Khalifah Umar, sosok yang mereka anggap sebagai musuh besar ahlul bait sehingga sangat dibenci.
Dalam kalender hijriah syamsiah di Iran, awal tahun dimulai pada awalmusim semi (21 Maret), sejalan dengan kalender umum yang dipakai bangsa Persia sejak era kejayaannya dulu (pra-islam). Peringatan tahun baru kalender Persia disebut Hari Nairuz atau Nowruz. Tahun baru Nowruz diperingati di Iran, Azerbaijan, Kurdistan, Pakistan, sebagian daerah di India, serta negara-negara Turkistan di Asia Tengah.
Untuk diketahui, kalender hijriah syamsiah adalah kalender yang dihitung berdasarkan siklus matahari (solar) yang dimulai sejak hijrahnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, berbeda dengan kalender hijriah populer yang berdasarkan siklus bulan (lunar). Selain di Iran, kalender hijriah syamsiah juga dipakai di Arab Saudi. Bedanya, awal tahun hijriah syamsiah di Arab Saudi dimuai tanggal 23 September, bertepatan awal musim gugur. Nama-nama bulannya persis seperti nama-nama zodiak yang kita kenal, sedangkan bulan pertama adalah bulan Mizan atau Libra (23 September-22 Oktober). Adapun di Iran, bulan pertama dalam kalender hijriah syamsiahnya bernama Farvardin (21 Maret-20 April).
Di samping itu, kalender solar hijriah Iran dimulai lebih awal. Pada 21 Maret 2022 kemarin, kalender solar hijriah Iransudah memasuki tahun 1401. Sedangkan di Saudi, tahun 1401 hijriah syamsiah bertepatan tanggal 23 September mendatang. Sebagai penanda momen hijrah, kalender hijriah syamsiah di Arab Saudi lebih pas, sebab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sampai di Madinah pada tanggal 24 September 622 M atau hari kedua musim gugur. Hari Nowruz Internasional tercatat dalam Daftar Warisan Budaya Nonbenda Manusia UNESCO pada 23 Februari 2010.
***
Hariraya berikutnya adalah peringatan terkait tragedi Karbala. Dimulai tanggal 2 Muharam (sampainya kafilah Sayidina Husain ke Karbala), 9 Muharam (keputusan perang), 10 Muharam (syahidnya Sayidina Husain), dan 11 Muharam (dibawanya para tawanan ke Damaskus). Karbala adalah peringatan paling sakral dalam tradisi Syiah, utamanya Syiah Imamiyah. Hal ini sangat bertolak belakang dengan Ahlussunah. Dalam tradisi Sunni, 10 Muharam atau Asyura diperingati dengan puasa untuk menebus dosa setahun silam sekaligus setahun mendatang, sesuai anjuran dalam hadis-hadis Nabi. Meskipun syahidnya Sayidina Husain adalah duka mendalam bagi Muslim Sunni, tapi mereka memilih untuk tidak larut dalam kesedihan dan ratapan yang tidak perlu.
| BACA JUGA : INSPIRASI MENJADI KAYA
Sebaliknya, puasa Asyura dihukumi makruh oleh ulama-ulama Syiah, kecuali puasa minum agar merasakan rasa haus yang dialami Sayidina Husain di Karbala. Beberapa tokoh Syiah malah menganggap puasa Tasu’a dan Asyura sebagai sunah yang dibuat-buat oleh Bani Umayah.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 20 hari, maka pada tanggal 1 Safar, para tawanan Karbala sampai ke Damaskus. Kafilah para perempuan dan anak-anak yang dipimpin oleh Zainab binti Ali dibawa menghadap Khalifah Yazid bin Muawiyah bersama kepala Sayidina Husain yang dipenggal. Bagi penikmat sejarah Islam, jauhnya jarak perjalanan dari Karbala ke Kufah, lalu dari Kufah ke Damaskus, cukup menjadi bukti untuk menyingkap beberapa fakta penting berikut:
-Pembunuhan Sayidina Husain bukan atas instruksi Khalifah Yazid, melainkan inisiatif gubernur Kufah, Ubaidillah bin Ziyad bin Sumayyah. Meski demikian, sebagai pimpinan tertinggi, Yazid harus memikul tanggung jawab yang berat, karena pelaku pembunuhan di Karbala berada di bawah komandonya.
-Tanggal 1 Muharam, kafilah Sayidina Husain sampai di pintu luar Kufah, namun dihadang oleh utusan Ibnu Ziyad. Sesuai instruksi Yazid, Ibnu Ziyad bertugas menghalangi Sayidina Husain agar tidak bertemu dengan pendukungnya di Kufah, supaya tidak menyulut pertempuran antara kubu Kufah (pro-Ali) dan Syam (Bani Umayah)
-Sayidina Husain diminta menghadap Ibnu Ziyad di Kufah, tapi beliau menolak. Kafilah beliau lantas digiring hingga sampai di Karbala, 80 km ke utara Kufah, pada tanggal 2Muharam. Jika ada instruksi perang, tentunya kafilah Sayidina Husain sudah dihabisi di Kufah sehari sebelumnya.
-Kepada pasukan yang dikirim Ibnu Ziyad di Karbala, Sayidina Husain sempat menawarkan 3 opsi: pulang ke Madinah, bergabung dengan pasukan jihad di perbatasan Romawi, atau dibawa menghadap Khalifah Yazid. Namun ketiga opsi itu ditolak oleh Ibnu Ziyad. Masa-masa perundingan antara Sayidina Husain di Karbala dan Umar bin Saad bin Abi Waqqash selaku komandan Bani Umayah di Karbala terjadi setidaknya 3 atau 4 kali, antara tanggal 3 sampai 9 Muharam. Dalam setiap perundingan, Umar bin Saad menulis laporan kepada Ibnu Ziyad sekaligus meminta keputusan untuk langkah selanjutnya. Tentunya, petugas penghubung antara Kufah dan Karbala harus mondar-mandir setidaknya 3 atau 4 kali menempuh jarak 80 km.
-Dalam situasi seperti itu, tidak mungkin keputusan perang yang ditentukan pada tanggal 9 Muharam berasal dari titah Khalifah Yazid di Damaskus, mengingat jauhnya jarak yang harus ditempuh antara Kufah dan Damaskus (nyaris 1.000 km).
-Fakta berikutnya, Khalifah Yazid menangis sedih begitu melihat kepala Sayidina Husain yang dibawa kepadanya. Yazid lantas melaknat Ibnu Ziyad, lalu memulangkan kepala Sayidina Husain ke Madinah dengan penuh penghormatan bersama beberapa tawanan. Beberapa tawanan lain seperti Sayidah Zainah binti Ali memilih untuk menetap di Damaskus dan kebutuhannya dipenuhi oleh Khalifah Yazid sampai akhir hayat. Sayidah Zainab wafat tahun 62 H dan beliau dimakamkan di Damaskus.
***
Terakhir, Syiah memperingati 25 Muharam sebagai hari wafatnya Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad, putra Sayidina Husain. Beliau wafat pada tahun 95 H dalam usia 57 tahun dan dikebumikan di Baqi’, di dekat pamannya, Imam Hasan bin Ali.




