Abdurrahman bin Umar jatuh sakit setelah dihukum cambuk oleh Khalifah Umar, ayahnya sendiri. Abdurrahman melakukan pelanggaran minum khamr ketika berada di Mesir. Sebenarnya dia sudah dihukum cambuk oleh Amr bin al-Ash, gubernur Mesir waktu itu. Namun, hukuman tersebut dianggap tidak sah oleh Khalifah karena dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Maka, Khalifah memerintahkan agar Abdurrahman dipulangkan ke Madinah untuk dijatuhi hukuman ulang.

Sejarawan Ibnu al-Atsir menyebutkan bahwa ketika Umar mengumumkan pelarangan sesuatu, maka beliau mengumpulkan keluarga dan kerabatnya, khususnya dari marga Bani Adi. Beliau berkata di hadapan mereka:

إِنِّيْ نَهَيْتُ النَّاسَ عَنْ كَذَا وَكَذَا، وَإِنَّ النَّاسَ يَنْظُرُوْنَ إِلَيْكُمْ نَظَرَ الطَّيْرِ إِلَى اللَحْمِ، وَأُقْسِمُ بِاللهِ لَا أَجِدُ أَحَدًا مِنْكُمْ فَعَلَهُ إِلَّا أَضْعَفْتُ عَلَيْهِ العُقُوْبَةَ

 “Saya melarang rakyat melakukan ini dan itu. Mereka mengawasi kalian, seperti burung gagak yang sedang memperhatikan daging. Aku bersumpah demi Allah, jika ada seorang di antara kalian melanggarnya, maka aku pasti memberikan hukuman yang berlipat ganda.”

Oleh karena itu, Umar bin alKhaththab nyaris menjadi legenda penegakan hukum yang dilakukan tanpa pandang bulu. Bahkan, beliau terlihat lebih sangar ketika menghadapi pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang besar ketimbang saat menghadapi pelanggaran rakyat biasa. Kisah-kisah sejarah tentang hal itu terlalu banyak untuk disebutkan di sini. Putra Amr bin al-Ash, Abu Sufyan bin Harb, Khalid bin al-Walid, dan Muawiyah bin Abi Sufyan, termasuk di antara beberapa tokoh yang pernah merasakan sikap keras Sayidina Umar tersebut.

Apa yang dilakukan oleh Sayidina Umar merupakan kelanjutan dari apa yang dilakukan oleh khalifah sebelumnya, Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq. Sejarawan at-Thabari menceritakan bahwa setelah dibaiat sebagai khalifah, beliau menyampaikan pidato pertamanya di Saqifah Bani Sa’idah:

“Saudara-Saudara, saya telah didaulat untuk menjadi pemimpin kalian, tapi saya bukanlah orang terbaik di antara kalian. Oleh karena itu, jika saya benar, maka bantulah saya. Jika saya salah, maka luruskanlah saya. Kejujuran adalah amanah (yang harus kita tunaikan), dan kedustaan adalah sebuah pengkhianatan…

وَالضَّعِيْفُ فِيْكُمْ قَوِيٌّ عِنْدِيْ حَتَّى أَرْجِعَ عَلَيْهِ حَقَّهُ إِنْ شَاءَ اللهُ، وَالقَوِيُّ فِيْكُمْ ضَعِيْفٌ عِنْدِيْ حَتَّى آخُذَ الحَقَّ مِنْهُ إِنْ شَاءَ اللهُ

 “Bagiku, si jelata (yang dizalimi) di antara kalian adalah orang yang kuat sampai aku bisa memberikan hakhaknya, insya Allah. Dan, orang kuat (yang menzalimi) bukanlah apa-apa di hadapanku sampai aku bisa mengambil hak-hak (orang yang dizalimi) darinya, insya Allah…”

Sungguh, kalimat introduksi yang luar biasa: singkat, tegas dan visioner— mirip seperti masa kekhilafahan beliau yang juga singkat, tapi penuh teladan dan makna.

Imam as-Suyuthi menceritakan dalam Târîkh al-Khulafâ’ bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah kalah dalam sengketa melawan seorang Yahudi. Beliau mengklaim sebuah perisai yang dipegang oleh si Yahudi tersebut. Qadhi Syuraih, hakim Kufah yang diangkat sendiri oleh Sayidina Ali, menyatakan bahwa klaim Sayidina Ali tidak dapat diterima karena tidak disertai saksi dan bukti yang cukup. Namun anehnya, setelah keputusan tersebut, si Yahudi justru mengakui bahwa perisai itu memang bukan miliknya, tapi milik Sayidina Ali yang dia curi. Setelah itu, dia menyatakan masuk Islam, gara-gara kagum dengan peristiwa ini.

Penegakan hukum tanpa pandang bulu yang dilakukan para khalifah di atas merupakan bentuk pengejawantahan terhadap teladan panutan mereka, Rasulullah Muhammad. Waktu itu orangorang Quraisy melobi Rasulullah melalui Usamah bin Zaid agar tidak menjatuhkan hukuman potong tangan terhadap Qilabah bin Sufyan, wanita Quraisy dari marga Makhzum yang terbukti melakukan pencurian. Maka, dengan tegas Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا هَلَكَ الَّذِينَ مَنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَاَيْمُ اللَّهِ لَوْ سَرَقَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ لَقَطَعْتُ يَدَهَ

 “Umat-umat sebelum kalian menjadi celaka gara-gara bila ada orang terhormat mencuri, maka mereka membiarkannya. Tapi, bila orang jelata mencuri, maka mereka melaksanakan hukuman padanya. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya.” (HR an-Nasa’i dari Sayidah Aisyah).

Ketika Rasulullah mengumumkan pelarangan riba atau bunga hutang, maka beliau menyampaikan bahwa bunga hutang yang dibatalkan dan dihapus untuk pertama kali adalah milik paman beliau sendiri, yakni al-Abbas bin Abdil Mutthalib. Beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ كُلَّ رِبًا مُوْضُوعٌ ، وَإِنَّ أَوَّلَ رِبًا يُوضَعُ رِبَا الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

 “Wahai Saudara-saudara, semua riba (bunga hutang) dibatalkan. Sedangkan riba pertama yang dibatalkan adalah ribanya al-Abbas bin Abdil Mutthalib.” (HR Muslim, Abu Ya’la, al-Baihaqi, al-Bazzar, dll.)

Selain dalam sejarah Nabi dan al-Khulafâ’ ar-Râsyidûn, berbagai kisah teladan penegakan hukum yang luar biasa juga banyak kita temukan dalam sejarah Khalifah Umar bin Abdil Aziz, cicit Sayidina Umar bin al-Khatthab, selama menjadi khalifah kurang lebih dua tahun. Sejarawan Ali as-Shallabi menyebutkan bahwa salah satu kebijakan pertama yang dijalankan oleh Umar bin Abdil Aziz adalah merampas kekayaan keluarga dan segenap familinya yang terindikasi berasal dari kekayaan negara. Beliau melawan keluarga dan kerabatnya sendiri, yakni para bangsawan Bani Umayyah yang memiliki pengaruh sangat kuat dalam kekuasaan. Oleh karena itu, Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam al-Bidâyah wan-Nihâyah bahwa Umar bin Abdil Aziz wafat karena diracun oleh orang dalam

Itu hanya sekelumit data sejarah tentang bagaimana penegakan hukum di masa-masa awal Islam. Yang lebih mencengangkan dari itu, pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar bin alKhaththab yang ditunjuk sebagai qadhi (hakim) akhirnya mengundurkan diri setelah satu tahun menjabat. Alih-alih karena tugas pengadilan yang sangat berat, Sayidina Umar justru mundur karena pengadilan benar-benar tidak berfungsi. Tidak ada orang yang datang untuk bersengketa, karena semua unsur masyarakatnya sangat menjaga hakhak orang lain. Tidak ada pelanggaran hukum yang harus ditangani pengadilan, karena semua lapisan masyarakatnya sudah patuh hukum.

Meskipun sejarah seringkali terulang, namun kadangkala ada cerita-cerita unik di balik sejarah yang sulit sekali terulang di kemudian hari, sebagaimana kisah-kisah tentang keadilan hukum di atas. Di zaman kita, hukum sudah lumrah berpihak kepada penguasa dan orang-orang kuat—sebagaimana hukum yang seringkali menindas orang-orang kecil. Hal itu terjadi karena jabatan seringkali diposisikan sebagai alat untuk kepentingan, bukan tanggungjawab yang harus diperjuangkan. Penegakan hukum tanpa pandang bulu hanya bisa dilakukan oleh pemimpin-pemimpin yang lurus, berani, tegas, jauh dari kepentingan pribadi dan kelompok, serta memposisikan jabatan sebagai amanah yang berat, bukan jatah yang nikmat.

Ahmad Dairobi/sidogiri