Pandemi yang melanda dunia secara merata telah berlangsung lebih dari satu tahun, memukul berbagai sektor kehidupan umat manusia, tidak saja pada sektor kesehatan, namun juga sektor ekonomi, politik, pendidikan, sosial, dan bahkan keagamaan.
Hal yang kemudian berkelindan di dalamnya adalah berbagai fenomena ironis yang turut mewarnai pandemi, semisal korupsi dana bantuan sosial, pencitraan politik di tengah pandemi, memanfaatkan pandemi untuk kepentingan pribadi, dan hal-hal memilukan lainnya.
Meski tentu, pandemi juga telah melahirkan beberapa hal positif yang sebelumnya mungkin tidak pernah terpikirkan, seperti penemuan-penemuan baru yang terus bermunculan terkait obat, vaksin, berbagai sarana tes, sarana pengobatan, fasilitas pendidikan, dan sebagainya.
Setelah lebih dari satu tahun berlalu, tampaknya kita belum belajar apa-apa dari keadaan krisis ini. Malah krisis telah mengungkap jatidiri para pemimpin negeri, semisal buruknya penanganan dan pengelolaan krisis oleh para pemimpin negeri, yang itu menunjukkan kualitas pemimpin itu sendiri. Memang, kualitas pemimpin diuji pada saat krisis.
Begitu pula, pandemi telah mengungkap jatidiri bangsa, yang tidak bisa tertib dan tidak taat aturan. Mungkin kita bisa beralibi bahwa sebagian pejabat dan artis ada yang mengumpulkan massa dalam momen resepsi pernikahan dan ulang tahun mereka, namun sekali lagi semua itu hanya menunjukkan bahwa pemimpin, tokoh, dan rakyat sama-sama perlu melakukan introspeksi diri.
Maka, setelah lebih setahun pandemi menemani, kita masih tetap begini-begini saja, sementara ajang sepak bola Eropa dan Amerika sudah bergulir dengan penonton memenuhi tribun, tanpa masker, tanpa jaga jarak, tanpa new-normal apapun. Begitu pula event-event tingkat dunia semisal Unbound Gravel 2021 di Amerika atau Tour de France 2021 di Prancis.
| BACA JUGA : ISLAM TAK MENGGARANSI SURGA
Sementara kita di sini masih berjibaku dengan pandemi yang masih belum berkesudahan, masih belum bisa melangsungkan proses belajar mengajar tatap muka secara normal, tidak bisa melangsungkan ibadah haji dan umroh, berbagai event olahraga masih ditangguhkan, kemana-mana harus ribet dengan berbagai macam tes, serta keribetan-keribetan yang lain.
Karena itu, semua elemen bangsa mesti melakukan muhasabah dan introspeksi diri, mulai dari pucuk pimpinan hingga rakyat jelata. Bagaimanapun, tampaknya kita masih belum belajar apapun dari pandemi ini. Pada saat pandemi seharusnya membikin kita bisa berperilaku adil, yang terjadi malah sebaliknya, pandemi justru dijadikan sarana untuk berlaku zalim, yang tidak akan memberikan feedback apapun selain kerugian secara merata.
Bentuk ketidakadilan yang terjadi di tingkat elite sudah sangat jelas, seperti korupsi Bansos dan lain sebagainya, penindakan pelanggaran hukum terkait protokol kesehatan yang tebang pilih dan tampak sangat politis. Sedangkan bentuk ketidakadilan yang terjadi di tingkat alit tercermin dari abainya mereka terhadap pandemi dan krisis yang terjadi.




