Berbicara ilmu kalam, tidak terlepas dengan pembahasan esensi keberadaan makhluk. Kerap kali kita temukan pernyataan, “Kita ini tidak ada. Karena yang ada hanya Allah.” Apakah klaim demikian benar?
Sebelum membahas benar-tidaknya pernyataan tersebut, alangkah baiknya kita membicarakan istilah keberadaan yang terpakai dalam ilmu kalam. Syekh Muhammad Sa’id Ramadan al-Buthi dalam Kubral-Yaqiniyât al-Kauniyah halaman 109 memaparkan bahwa keberadaan (wujud) terbagi menjadi dua: kâmil dan nâqish: “Wujud terbagi menjadi dua bagian: wujud kâmil dan wujud nâqish. Istilah lainnya adalah: wujud dzâtî dan wujud tab’î.”
Tentu pembagian dasar wujud semacam ini sangat penting diketahui, khususnya bagi para pengkaji pemula ilmu kalam. Banyak kesalahan fatal akibat tidak bisa membedakan pembagain wujud.
Salah-satunya adalah anggapan bahwa keberadaan alam yang sedang kita lihat ini adalah wujud Allah itu sendiri. Hal ini diungkapkan oleh Syekh Muhammad Sa’id Ramadan al-Buthi. Jelasnya, sebagaimana berikut:
“Mereka sampai kepada kesimpulan anggapan bahwa hakikat Allah adalah wujud alam itu sendiri. Keberadaan alam yang kalian lihat ini di sekelilingmu, tidak lebih dari sekadar wujud Allah yang berjasad dengan bentuk tersebut.”
Innalillah! Inilah salah satu contoh kesalahan seseorang akibat tidak bisa memahami wujud dengan benar. Untuk itu, penting kiranya kami paparkan pembagian wujud sekaligus penjelasannya. Berikut perinciannya:
Wujud Kâmil
Wujud kamîl ialah sebuah istilah yang disematkan kepada zat wajib wujud, yang keberadaannya tanpa ‘illat. Ciri khas dari wujud kamîl adalah tidak menerima ketiadaan sama sekali, alias tidak pernah tiada dan tidak akan tiada.
Tentu keberadaan yang seperti ini hanya layak disematkan kepada Allah yang Maha Pencipta. Syekh Muhammad Sa’id Ramadan al-Buthi dalam kitab yang sama menjelaskan:
“Keberadaan Allah tergolong wujud dzâtî, artinya keberadaan zat Allah tanpa didasari sebuah ‘illat mu’atstsirah. Di antara kehususan wujud dzâtî adalah: tidak menerima ketiadaan.”
Wujud Nâqish
Wujud nâqish adalah sebuah istilah yang disematkan kepada keberadaan yang membutuhkan pencipta. Ciri khas dari wujud nâqish adalah berada di tengah-tengah dua ketiadaan, alias pernah tiada dan akan tiada.
Keberadaan segala sesuatu selain Allah pasti tergolong wujud nâqish. Masih dalam kitab yang sama, Syekh Muhammad Sa’id Ramadan al-Buthi menjelaskan:
“Keberadaan segala sesuatu selain Allah tergolong wujud nâqish dan tab’î. Dengan arti, keberadaanya tergantung kepada selainnya dan membutuhkan kepada pencipta. Termasuk kekhususan macam wujud yang kedua ini ialah: harus berada di tengah-tengah dua ketiadaan; sebelum (yang lampau) dan sesudah (yang akan).”
|BACA JUGA : TIPS ISTIKAMAH BERIBADAH
Dari penjelasan di atas, semestinya kita sudah bisa menarik benang merah atas keisykalan pernyataan, “yang ada hanya Allah”. Alhasil, bila yang dimaksud ada di sana adalah wujud yang kâmil, tentu ini merupakan seratus persen kebenaran. Karena tidak ada wujud kâmil selain Allah, lantaran selain Allah semuanya merupakan ciptaan-Nya, sedangkan wujud kâmil tidak membutuhkan pencipta.
Nah, bila yang dikehendaki ada dalam klaim tersebut adalah wujud naqish, tentu pernyataan tersebut salah total. Malah, kalau yang dikehendaki adalah wujud naqish, yang cocok adalah pernyataan: yang wujud naqish hanyalah selain Allah, bukan Allah.
Selain problem di atas, masih banyak sekali kerancuan berpikir lantaran tidak memahami pembagian wujud. Untuk itu, Imam al-Ghazali sendiri sangat menekankan bagi para pelajar ilmu kalam, untuk memahami wujud yang memiliki empat tingkatan. Dalam Iljâmul-Awâm fi ‘Ilmil-Kalâm halaman 142, HujjatulIslâm menjelaskan bahwa dalam setiap sesuatu ada empat tingkatan wujud, yakni: wujud fil-a’yân, wujud fil-adzhân, wujud fil-lisân dan wujud fil-bayâdh almaktûb ‘alaihi.
“Ketahuilah bahwa segala sesuatu memiliki empat tingkatan wujud, yakni: wujud fil-a’yân, wujud fil-adzhân, wujud fil-lisân dan wujud fil-bayâdh al-maktûb ‘alaihi.”
Mudahnya, bila kita melihat kobaran api (wujud fil-a’yan), maka dalam benak kita terbayang bentuk api (wujud filadzhân). Di sana juga ada wujud fil-lisan dalam ucapan kita saat menceritakannya. Begitupula ada wujud fil-bayâdh almaktûb ‘alaihi dalam huruf saat kita menuliskannya.
Tentu sifatnya berlainan, meskipun objek wujudnya sama-sama api. Api yang wujud fil-a’yân memiliki sifat membakar. Berbeda dengan api yang wujud fil-adzhân, wujud fil-lisân, dan wujud fil-bayâdh al-maktûb ‘alaihi. Dari ketiga wujud api tersebut tidak membakar. Bila membakar, pasti otak yang memikirkan api, lisan yang mengucapkan kata api, dan kertas yang tertulis kata api juga ikut terbakar. Yang memiliki sifat membakar hanyalah api yang wujud fil-a’yân.
Dengan memahami tiga kata wujud tersebut, kita tidak akan dibingungkan sama-sekali saat membahas al-Quran bukan makhluk. Kita dengan mudah menyimpulkan kalamullah yang kadim itu bukan makhluk. Namun, yang tertulis di atas kertas mushaf dan lantunan huruf al-Quran itu jelas makhluk.
Alhasil, dengan membedakan anekaragam wujud, kita dengan mudah menjawab berbagai problem yang seakan rumit. Untuk itu, sekali lagi saya ingatkan, penting sekali bagi calon mutakallimîn mengetahui pembagian wujud, sebagai gerbang pembuka pembahasan ilmu kalam berikutnya. Selamat belajar ilmu kalam, kita satu perjuangan!




