Beberapa waktu yang lalu sedang heboh perbincangan seputar isu radikalisme. Namun anehnya, tema yang dibahas justru berkaitan dengan film animasi Nussa. Barisan pengkritik mengklaim bahwa baju yang dipakai oleh Nussa itu adalah khas Taliban yang radikal dan bahkan teroris. Kita sebagai bangsa Indonesia harus menjauhi film itu, karena jika tidak maka budaya Indonesia akan tergerus oleh budaya asing; sehingga di sampai berubah haluan dari bangsa ramah menjadi bangsa marah, Indonesia juga akan kehilangan identitas dan jati dirinya. Bagaimana kita menanggapi pernyataan yang semacam itu?
JAWABAN
Pertama, bahwa pro paganda semacam itu adalah bagian dari strategi perang pemikiran (ghazwul-fikr) yang dilancarkan oleh orang-orang sekular-liberal di Indonesia. Mereka pasti akan menyerang setiap hal yang bernuansa Islami, termasuk urusan pakaian. Maka di sini kita bisa menyaksikan dengan jelas sikap mereka yang ambivalen dan plin-plan. Di satu sisi, ketika kita mengkritik pakaian-pakaian minim khas perempuan Barat, mereka mengatakan “jangan menilai orang dari pakaiannya”. Namun di sisi lain, mereka justru menilai umat Islam dari pakaiannya, dan menuduh jubah, jilbab, celana cingkrang, niqab, sebagai pakaian radikal. Aspek ini sudah cukup menunjukkan bahwa pikiran mereka bermasalah.
Kedua, ukuran radikal atau moderat itu tidak dilihat dari baju apa yang dipakai, melainkan dari pikiran dan tindakan yang dilakukan. Jadi misalnya kita mau mengetahui apakah film Nussa itu mengajarkan radikalisme atau tidak, maka kita harus tahu terlebih dahulu apa itu radikalisme, lalu kita lihat berbagai pemikiran yang terpendam di balik episode-episode film itu; apakah tersimpan pikiran-pikiran radikal atau tidak? Misalnya, adakah suatu episode yang mengajarkan bahwa orang yang tidak sepemikiran dengan mereka adalah kafir? Adakah suatu episode yang memperagakan bahwa orang Islam tidak boleh berteman dengan non-Muslim dan orang Islam harus selalu membenci non-Muslim? Jika hal-hal semacam itu tidak ditemukan, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menuduh film ini radikal hanya karena pemerannya berjubah dan berpeci. Tuduhan seperti itu jelas suatu kebodohan yang akut.
| BACA JUGA : MACAM-MACAM SANAD DLAM KAJIAN ILMU HADIS
Ketiga, mendukung budaya Indonesia bukan dengan cara mempertahankan aspek-aspek negatifnya, meskipun aspek-aspek itu orisinal Indonesia, melainkan dengan cara mengisi Indonesia dengan nilai-nilai positif, meskipun nilai-nilai itu datang dari luar Indonesia. Jika ada pihak-pihak yang mendaku melestarikan budaya Indonesia dengan mengadakan kejawen, penyembahan pohon, berpakaian terbuka, misalnya, dengan mengatasnamakan kearifan lokal, maka jelas itu tidak dalam rangka membuat Indonesia semakin baik, malah menjerumuskan bangsa pada keburukan dan kerusakan.




